15 05 2011

undefinedread more…





Beberapa Kalimat tentang Pelukan

12 01 2011

1

Ia dan kekasihnya ingin menciptakan sebuah pelukan yang mampu menjadi pohon. Yang kemudian berberai sebagai molekul-molekul kecil yang menciptakan pelukan-pelukan lain di tubuh yang lain

 

2

Pelukan bukan serupa pakaian. Ia sering lupa pada hal itu. Untuk mengingatkan itulah, kekasihnya selalu memeluknya dan membuktikan bahwa pelukan jauh lebih hangat dari sekedar pakaian.

 

3

Kelak, jika benar pelukan itu akan menjadi pohon, ia ingin memanjat pohon itu bersama kekasihnya. Mereka akan menyaksikan kota dari atas sana.

 

4.

Pelukan, berapapun ukuran tangan si pemeluk, dan betapapun ukuran tubuh, selalu bisa muat dan nyaman. Pelukan selalu muat di tubuh mereka. Padahal mereka telah terlalu tua untuk sekedar mengira-ngira.

 

5.

Ia selalu berdongeng tentang pelukan yang selalu utuh kepada cucunya. Ia berharap suatu ketika, cucunya yang pendiam dan penakut, bisa memberikan pelukan yang sangat berani dan takluk.

 

6.

Setiap kali bangun pagi, ia selalu menemui cermin di sudut kamarnya. Ia bertanya kepada seseorang di dalam kaca: “Sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?”  iya ingat penyair bernama: M Aan Mansyur.

 

7.

Saat hujan jatuh, tubuhnya yang kesepian selalu memimpikah hujan pelukan. Tapi kadang ia sadar bahwa ia hanya seorang yang selalu suka berlebihan.

 

8.

Sejak kehilangan pelukan, ia memutuskan untuk mencari pelukan di tiap-tiap tubuh orang yang ia jumpai. Tapi tak satu pun pelukan yang sama seperti yang ia cari. Jika kau temui ia di jalanan, peluklah ia walaupun ia tampak tak terlalu bahagia.

 

9.

Ketika ia berpergian, ia selalu mencemaskan keselamatannya agar pelukan yang ia rawat di tubuhnya selalu terjaga.

 

10.

Tubuhnya dewasa oleh pelukan yang datang dari berbagai macam orang. Setelah ia tua, ia memeluk anak dan cucunya, agar mereka bisa pula dewasa sebagaimana mestinya.

 

11.

Nuklir bukanlah cara yang selalu tepat untuk menyelesaikan perang. Saya mengusulkan satu senjata baru: pelukan. Meskipun setelahnya PBB bisa mengklaim “Pelukan” sebagai alat perang, tidak masalah.

 

12.

Pelukan, walaupun ia asing bagimu. Tapi ia selalu berusaha untuk tidak asing bagimu. Setiap waktu ia berupaya mengenali tubuhmu dan dirimu.

 

13.

Semenjak ia memeluk seseorang di stasiun itu, ia ingat sesuatu. Ia ingat pelukan akan selalu mengingat mereka berdua. Maka setelah bertahun-tahun semenjak peristiwa itu, mereka kembali berpelukan di stasiun untuk memintal kembali kenangan yang rekamannya terlalu panjang.

 

14.

Pelukan selalu terjadi di bandara, stasiun, halte dan dermaga. Pelukan adalah kepergian, juga kedatangan.

 

15.

Di lain waktu, pelukan bisa menjelma bagian dari jarak. Ketika kau sedang menelfon seseorang yang jauh darimu, sebenarnya engkau sedang memeluknya. Betapa hangat!

 

16.

Mereka yang mampu menciptakan pelukan setiap hari, akan berjalan dengan tubuh yang berat. Ia merangkul begitu banyak pelukan. Tapi ia tahu bahwa ia bahagia.

 

17.

Kau mungkin tak bisa memiliki sepasang sayap seperti burung atau ayam untuk mengesankan kau adalah seorang malaikat, tapi kau memiliki pelukan yang senantiasa mengingatkan kau adalah manusia biasa yang selalu butuh seseorang untuk menciptakan serangkul pelukan. Misalnya orang itu aku?

 

18.

Kata peramal tua itu: “Suatu hari hidupmu akan berakhir pada sebuah pelukan. Seperti halnya kau lahir. Aku tidak bisa memberi tahu, di pelukan manakah kematianmu akan berlangsung.”

 

19.

Ketika lahir, semua manusia lahir dengan tubuh yang gamang. Untuk itulah ia menjalani hidup. Dari pelukan demi pelukan agar ia bisa berjalan seimbang dan kuat. Ketika menikah, ia menemukan pelukan yang setia menguatkan tubuhnya sampai kematian datang memeluk.

 

20.

Kapankah terakhir kali pelukan hinggap dan hidup di rangkulanmu?

 





Sonnet untuk Menjadi Tua (Beserta balasannya)

6 12 2010

ketika usia menempati kita terlalu lama,

kau dan aku akan berangsur-angsur pandai melupa.

semua jalan itu akan asing jika dilalui sendiri maupun berdua

dan kita mulai kehilangan suara-suara

apalagi debar dada,

detaknya akan semakin tak terasa

 

tanganku akan lupa cara merangkulmu

tubuhku akan bertanya-tanya tentang pelukanmu

dan aku pun tak bisa memastikan, apakah aku akan masih bisa

menjangkau buah apel yang tergantung di pucuk pohon tinggi itu

untuk melepas dahagamu

oh, ular-ular yang mendesis itu barangkali mau bersabar

kuharap ia tak terlalu mengejar kita dengan desakan

“petiklah wahai adam! petiklah untuk itu perempuan!”

 

tapi gemetar yang bersarang di tanganku tak akan mampu memetiknya

mungkin kita akan menunggunya jatuh sambil bercerita

tentang masa lalu yang tak sepenuhnya kita lupa

ketika itu, maukah kau bersabar dan berpura-pura bahwa dunia yang menyebalkan ini

adalah surga yang berhasil kita kuasai, hawa?

 

Seorang teman saya, bernama Suzia Levina, juga suka menulis puisi. Ia membalas puisi yang saya tulis di atas dengan judul Balasan Sonnet untuk Menjadi Tua. Seru sekali. Selamat membaca, kawan-kawan.

 

 

Balasan Sonnet untuk Menjadi Tua


ketika usia menempati kita terlalu lama,

kau dan aku akan sering bertengkar perkara lupa.

aku mulai sering menghitung kerut kerut manis dahimu

dan kaupun mengelengkan kepala setiap melihat uban lebatku.

 

ntah kenapa tanganku seakan cepat sekali mengerut

ketika hendak menjaukau pundak ringkihmu.

dan aku pun sering menghayal akan peluk hangat mu.

bahkan sering cemas tak dapat takarkan gula pada kopimu,

 

dan ketika rabun mata menjadi penghalang rupamu

dan sesak napas penyekat kata sayang ku

maka satu hal saja yang kau perlu tau

yang ku minta hanya apel merah

yang berdenyut di dada kirimu.

penawar segala dahaga di dunia

yang sering aku umpat ini, wahai adam.

 

>>oleh Suzia Levina.

Padang, 2010





Kejadian Puisi

30 11 2010


KEJADIAN PUISI (I)

ia seringkali menyamakan hati seseorang sebagai sebuah sumur.
sumur yang digali entah sesiapa —yang serupa kubur—
di malam hari ketika orang-orang melesap ke dalam dengkur
ada bunyi dan gerak-gerik yang jalin-menjalin namun kabur

di hadapan sumur itu ia diberkati sebuah batu kapur
tanpa ingin menulis aksara yang membaur
ia jatuhkan itu batu kepada kedalaman itu sumur
untuk tahu betapa dalam hati yang bisa diukur
berapa tali kah jarak bisa diulur

bila jatuhan batu tak kunjung dengungkan sebuah bunyi,
sungguh ada jarak yang harus dipahami
di antara sunyi sepanjang jatuhan batu ke dalam hati
sungguh disana ada kejadian puisi

KEJADIAN PUISI (II)

ia membuat sebuah tarian.
ia biarkan dari ujung rambutnya yang tajam
hingga ujung jari kakinya, beralunan,
seperti sedang dirajam.
seperti sedang bepergian,
namun tak membawa badan

ia pergi, namun tak berlari atau berjalan
tapi ada burung-burung yang berlepasan
membentuk keasingan lingkaran

ia menari, namun bukan koreografi.
“ada yang seperti majnun yang ditenun oleh diri sendiri”
ia pergi, namun tak berjalan atau bahkan berlari
ia membubung, tapi menginjak bumi
seperti ada burung-burung; membentuk lingkaran puisi
yang mengajaknya bepergian, membubung tinggi
namun tidak terbang
namun tidak berjalan
namun tidak ah….

KEJADIAN PUISI (III)

semenjak memasukiku, kau memutuskan untuk menjadi dalang
yang mengajarkan tubuhku untuk membedakan mana pergi mana pulang
yang membukakan langkahku untuk paham mana jalan mana lobang
lalu kau kuasai mataku atas seluruh pemandangan

kemudian telingaku yang digemari kebisingan
lidah dan hidungku yang seringkali tak sepaham
serta seluruh badanku yang awam dengan pengertian;
apakah itu gerakan?

air tak pernah ingin menjadi cangkir
kecuali saling menukar takdir
tapi engkau, engkau merupa air yang mengalir
sebagai pemilik seluruh takdir
engkau adalah ibarat atas seluruh yang lahir

dan semenjak memasukiku, engkau langsung menjadi dalang
aku berjalan seperti langkahmu, berucap seperti lidahmu,
mendengarkan seluruh suaramu, mencium aroma darimu

tapi meskipun engkau ada di dalam aku,
tak pernah bisa aku memataimu dengan mataku,
melidahkanmu dengan lidahku, menghidungkanmu
dengan dua lobang hidungku, menelingakan suaramu dengan suaraku.
seluruh pulang dan pergi adalah engkau
yang dekat tapi tak sampai aku jangkau.

Dimuat di Riau Pos, 28/11/10

Arif Rizki, mahasiswa tingkat akhir Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (UNP). Menulis sajak, cerpen, dan esai di berbagai media dan di bukukan dalam beberapa buku antologi. Diundang ke Ubud Writers & Readers Fesitval (UWRF) 2010. Bergiat di Komunitas Sastra Ruang Sempit dan Teater Noktah. Tinggal di Padang.





SEPANJANG JALAN PADANG

24 11 2010

SEPANJANG JALAN PADANG

1.

perjalanan kita hanyalah pelintasan jembatan, pendakian gunung Padang, pantai demi pantai

dan restoran murahan. tapi apa yang membuanya tiba-tiba menjelma kenangan?

aku pernah mengatakan padamu, terbentuk dari apakah kenangan itu.

saat itu sebenarnya aku sedang bertanya dari apakah kenangan itu terbentuk menurutmu.

“mungkin awal mulanya dari pandangan mata kita?”

tapi benarkah mata kita benar-benar pernah bertemu lama?

kau tahu, kenangan tak memberi apa-apa selain ingatan.

sialnya, jalan,jembatan, simpang, restoran dan baliho di kota Padang adalah bagian dari kenangan kita.

aku terpaksa harus mengingatmu tanpa jeda.

 

2.

ya, perjalanan kita hanyalah pantai demi pantai. tapi apakah yang membuat pantai kumuh itu menjelma begitu landai?ombak hanyalah air yang menggulung, langit hanyalah hamparan awan yang murung,

“karena kulihat sesuatu dari matamu, sesuatu yang langit, sesuatu yang laut, sesuatu yang begitu ingin mengajakku untuk tertimbun.sesuatu yang engkau!”

dan aih, ombak ternyata adalah penyair yang suka bergurau. ia berkali-kali menghempaskan debur kecilnya pada percakapan kita, pada wajahmu, pada keterpesonaanku pada matamu, pada rambutmu, pada seluruhmu.

pada seluruhmu.

ombak yang menyentuh wajahmu itu hanyalah air asin.  tapi ia jatuh ke dalam diriku sebagai sesuatu yang lain.

sebagai suatu getar yang entah hangat entah dingin.

saat itu, debur ombak dan debar dada tiba-tiba tak ada bedanya, perempuan. tak ada bedanya.

 

3.

aku mungkin akan mempuisikanmu pada setiap puisiku. menyajakkanmu pada sajakku. mendirikanmu kepada diriku. melihat engkau pada ombak, mengandai engkau pada pantai, mengungkit engkau pada langit. mengangan engkau sepanjang jalan. dan menyeluruhkan engkau pada setiap bagian-bagian kecil dari keseluruhan.

ya, perjalanan kita hanyalah pantai demi pantai, jembatan demi jembatan, terkadang restoran murahan.

kini, aku akan membiarkan engkau tertinggal disana. seperti kutinggalkan laut yang tetap mendeburkan, langit yang membirukan, batu karang yang menahan, jembatan yang mempertemukan dan memutuskan.

selebihnya kubiarkan seluruhnya kembali seperti permulaan, seolah tak pernah ada jembatan yang mempertemukan. seolah tak ada Gunung Padang, seolah tak ada jalan ke pantai Bungus yang penuh lobang, seolah tak ada sajak-sajak yang berlebihan tentang kita yang berlainan.

segalanya akan kembali memulangkan diri. selebihnya akan terperam diam-diam di dalam hati

karena lampu-lampu di sepanjang jembatan, lobang di sepanjang aspal jalan Padang atau pun menu-menu di restoran murahan, akan selalu ada di sana.

yang sudah lama meminta kita untuk saling membiarkan saja.

 

 

Padang, 2010





KENANGA

13 11 2010

KENANGA

disini, di tampuk bunga yang patah dan kering

pernah tumbuh sekuntum kenanga kuning

kau memetiknya saat aku berusaha menahan kepergianmu

yang menolak membawa serta rindu.

 

engkau mencium kenanga untuk siapa?

 

aku mencium sisa tampuk yang patah

dan mencari-cari siapakah yang salah;

waktu ataukah hatiku lah yang mudah goyah

saat angin ribut membawakan kita sebuah degup

yang ternyata menumbuhkan sebuah kuncup

 

engkau mencium kenanga untuk siapa?

 

aku urung memagut kepergianmu

yang menolak membawa serta rindu

kini di tampuk bunga yang layu ini

tak ada yang akan sedia tumbuh lagi

 

tapi ada yang selalu tumbuh meski berkali-kali kurenggutkan

bukan kenanga, sayang. bukan.

hanyalah beberapa  patah kenangan.

 

 

Padang, 2010

 





PADA SUATU SIANG KETIKA MATAHARI DENGAN SEMANGAT-SEMANGATNYA MELAKUKAN TUGAS UNTUK MEMANAS-MANASI BUMI, KITA RASAKAN ADA YANG TIBA-TIBA MENUSUK JANTUNG HATI

5 11 2010


Aku tak tahu apa mau bocah kecil itu sebenarnya, ia bukanlah burung atau bayi. Yang jelas ia memiliki sayap. Di tangannya sebuah mainan yang berbahaya; busur panah lengkap dengan beberapa pucuk anaknya.

Kita tak menghiraukannya. Sama seperti kita tak menghiraukan pertemuan-pertemuan yang tak terencana.

Tapi ada yang tiba-tiba membuat suasana menjadi sepi saja. Padahal hiruk pikuk sedang membisingkan telinga kota.

Ya, ada dua anak panah yang berlepasan.

Satu menancap di dadaku, satu lagi merasuk ke dalam jantung hatimu.

Kita tiba-tiba mengerti apa arti bertemu.

Dengan dada yang tertancap anak panah, kita menguasai kota dan melengkapi hiruk pikuknya. Bocah kecil bersayap itu tak lagi di tempatnya.

Maka bagaimana kalau kita bergantian mencabuti anak panah yang menusuk itu. aku mencabutmu, engkau mencabutku.

Jangan bergesa-gesa. Aku ingin ia tertancap lebih lama sebenarnya. agar kita punya alasan yang sakit untuk tetap selalu menjaga.

2010








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: