Puisi Toilet

2 10 2010

Puisi Toilet
Cerpen oleh Arif Rizki

Ketika cerita ini sampai kepada ibu, semoga ibu dalam keadaan sehat-sehat saja. Saya juga dalam keadaan sehat walafiat. Tapi tidak dengan pikiran saya, maka dari itulah saya memutuskan untuk mengirimi ibu surat ini. Saya tidak tahu lagi harus bercerita kepada siapa. Dari dulu saya terbiasa memendam setiap permasalahan yang datang kepada saya maupun terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya. Tapi kini saya sudah tidak sanggup lagi, bu.
Jujur saya katakan saya baru mengenal ibu. setelah beberapa kali membaca semua nasehat ibu kepada orang-orang yang juga bermasalah dalam hidupnya, membuat saya merasa ibu adalah orang yang tepat untuk memberi saya jalan keluar masalah ini.
Langsung saja ya, bu. Jadi ceritanya begini. Saya adalah seorang istri dari seorang lelaki yang telah menikahi saya selama delapan tahun sembilan bulan lima hari. Kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang lucu sekali. Mirip sekali dengan bapaknya. Kini usianya sudah lima tahun empat bulan. Sebentar lagi akan saya daftarkan ke sekolah.
Saya mengenal suami sekitar sembilan puluh hari sebelum kami menikah. Kami sebenarnya tidak sengaja saling berkenalan. Ketika itu saya sedang bekerja sebagai penyanyi Organ Tunggal yang selalu diundang setiap kali ada perkawinan, acara tujuh-belasan dan acara-acara masyrakat di kampung kami. Malam itu, seingat saya, saya sedang mengisi acara di sebuah pasar malam. Jufri diam-diam memperhatikan saya dari bawah panggung. Ia tidak ikut berjoget dengan orang-orang yang seperti kepayang itu. Sambil mengajak orang-orang untuk naik ke atas panggung, saya sempat menyadari bahwa ia tampak berbeda. Ia sepertinya tidak menikmati pertunjukan saya. Padahal saya yakin lelaki lain sudah terbakar dengan baju kulit palsu berwarna merah darah dan goyangan saya (orang kampung menamai goyangan saya dengan goyangan blender).
Saya yakin ada bola api di kedua bola matanya, bu. Tapi ia tidak mau mengikuti hasutan hatinya untuk ikut melayani hentakan musik dan lagu-lagu yang saya nyanyikan. Ia hanya diam di balik kumis tipisnya itu.
Tapi ketika saya pulang ke rumah seusai pasar malam menjadi lengang, ia ternyata mengikuti saya. Saya kaget ketika tiba-tiba ia muncul di hadapan saya di malam yang sangat sepi itu. di bagian manapun di kampung saya, ketika malam hari, tak bisa dibedakan dengan kuburan. Banyak orang-orang kesepian yang akhirnya menderita sampai kematian mereka tiba disini.


Ia memandang mata saya lekat-lekat. Ia tidak tahu betapa saya sangat ketakutan walaupun diam-diam saya akui dia cukup lumayan. Setidaknya, dia akan membuat para penyanyi kampung lainnya cemburu bila lelaki itu saya ajak jalan-jalan ke kota.
“Suaramu bagus sekali.” Ucapnya seperti seorang pengamat seni.
“Ah, biasa saja. Suaraku pas-pasan kok. Seperti bayarannya.”
“Aku sebenarnya ingin bergoyang, tapi dengan begitu akan tidak bisa dengan seksama meresapi alunan suaramu. Lagipula semua lagu yang kaunyanyikan itu adalah lagu kesukaanku.”
“Namaku Steven.” Ucapnya mengenalkan nama bahkan tanpa aku tanya. Nama itu cocok sekali untuknya. Barangkali dia memang bukan orang kampung sini.
“Aku Sintana.” Ujarku memalsukan nama. Aku harus sedikit menjaga kualitasku. Memberikan nama palsu aku rasa bukanlah sebuah dosa. Jika pun itu sebuah dosa, barangkali itu bukanlah dosa yang terlalu berat.
Malam itu kami tidak hanya berkenalan, bu. Ia langsung mengajak saya berkencan. Entah apa yang sedang saya pikirkan. Mungkin karena bulan bersinar terlalu terang. Saya jadi mudah tergoda. Lagi pula seumur hidup saya belum pernah menginap di hotel. Mungkin saja ini adalah tawaran yang bagus.
Sepertinya saya salah. Di matanya bukanlah bola api, tetapi bulan purnama yang menjadi ganda. Ketika kami bercinta saya lihat tidak ada bulan itu di luar jendela. Malam itu saya putuskan untuk jatuh cinta saja kepadanya, bu.
Ketika pagi hari membangunkan kami, saya lihat ia masih berada di samping saya. Saya pastikan sepasang sepatu saya masih ada di bawah ranjang. Pagi itu saya lelah sekali. Ternyata jatuh cinta cukup melelahkan saya.
Ketika Steven mengantar saya ke rumah kontrakan saya yang mirip kulkas itu—hanya memiliki satu pintu dan satu daun jendela dan kalau malam dingin sekali, ia mengatakan sesuatu kepada saya. Ternyata namanya bukanlah Steven. Namanya yang sebenarnya adalah Jufri. Ia memohon saya tidak kecewa dengan namanya. Sesungguhnya saya sedikit kecewa. Seperti yang sering ibu bilang bahwa setiap hubungan tidak akan berhasil jika diawali dengan kebohongan, mengingatkan saya bahwa ini tidak akan berakhir baik. Akan tetapi saya juga tidak kuasa menyembunyikan rahasia. Saya utarakan juga sebuah rahasia, bahwa nama saya sebenarnya adalah Nurlili, bukan Sintana. Ia tertawa, dan kami cukup bahagia pagi itu sehingga kami tidak perlu sarapan pagi. Ketika itu saya ingat lagi kata-kata, ibu. Akan tetapi jika sebuah hubungan diawali dengan kebongan dari kedua belah pihak, saya rasa itu cukup adil kan? Tidak ada yang dirugikan. Dan itu mungkin saja akan berakir cukup baik.
Hari itu juga Jufri berjanji untuk tidak akan meninggalkan saya, bu. Kalimat ini sudah saya dengar berkali-kali dari banyak lelaki dan telivisi. Tetapi ketika Jufri yang mengatakan itu, ini terasa sangat lain. Tiba-tiba saya merasa bahwa ia bersungguh-sungguh.
Dugaan saya benar. Empat puluh hari setelah peristiwa kecil di pagi hari itu, ia mendatangi saya untuk mengajak menempuh hidup yang sebenarnya. Katanya pernikahan itu adalah ide yang paling bagus. Makanya tuhan menciptakan pernikahan dalam skenario hidup manusia. Ketika saya menikah dengannya, saya hanya mengetahui dua hal saja. Pertama, namanya adalah Jufri Tanjung. Ia tidak suka dengan nama akhirnya, sebab banyak yang mengolok-olok dengan memanggil dirinya dengan sebutan ’Jufri Tanjakan’. Ini tidak pernah lucu bagi saya. Sebab ia kadangkala memang seperti sebuah tanjakan. Tidak mudah untuk mendaki perasaannya. Kedua, saya sangat mencintainya. Kedua hal ini menjadi modal yang cukup bagi saya untuk menerima niat tulusnya. Keseluruhan sifatnya bisa saya wawancarai dan kenali sepanjang usia pernikahan kami yang semoga benar-benar panjang. Mengenali adalah tujuan utama pernikahan, bagi saya.
Ternyata ada hal yang luput bagi saya, bu. Gagasan saya tentang ‘mengenali adalah tujuan utama pernikahan’ seringkali membuat saya terjebak. Menikahinya selama delapan tahun sembilan bulan lima hari ternyata membuat saya tidak kunjung mengenalinya. Banyak hal-hal sepele yang akhirnya menjadi bahan pertengkaran kami sepanjang malam, bahkan berminggu-minggu. Itu hal yang biasa kan, bu? Saya juga menyadari itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Namun kadang saya tidak bisa menahan diri melihat ulahnya. Sehari-hari Jufri bekerja sebagai seorang pengangguran yang merasa kreatif. Setiap hari ia mematuti mesin ketik tuanya di kamar utama rumah kontrakan kami. Ia bekerja sebagai penulis yang tidak jelas kapan menerima gaji. Jufri adalah seorang penyair, bu. Ia menulis puisi untuk dijadikan buku dan diterbitkan di koran serta majalah. Uang yang dihasilkan seperti musim. Kadang bagus kadang tidak. Dan lebih sering tidak. Saya kadang bisa memahami hal ini kadang juga tidak bisa. Dan lebih sering tidak bisa.
Puncak masalah terjadi pada suatu hari ketika saya memperbaiki toilet kami yang sudah beberapa hari tersumbat. Untuk membiayai perbaikannya, saya menggunakan uang yang diberikan oleh Jufri. Semua uang penghasilannnya memang diberikan kepada saya dan sayalah yang mengendalikannya. Biasanya, kemanapun saya habiskan uang itu, ia menerima saja keputusan saya. Tetapi tidak ketika saya katakan bahwa upah perbaikan toilet itu saya bayar dengan honor penerbitan puisinya bulan lalu. Ia marah-marah seperti anak-anak yang dilarang bermain oleh ibunya.
Ia menghempaskan barang-barang. Gelembung air liur berloncatan dari mulutnya seperti peluru yang membidik tepat di hati saya. Hati saya iba sekali, bu.
Katanya, kalau mau memperbaiki toilet pakailah uang yang lain. Honor puisi itu untuk membeli beras. “Kau samakan saja susahnya membuat puisi dengan memperbaiki toilet di kamar mandi.”
Saya katakan bahwa kalaupun saya gunakan uang yang relatif sedikit itu untuk membeli beras, toh akhirnya akan berakhir di toilet juga kan? Lagi pula uang puisi itu tidak cukup kok untuk membeli sekarung beras.
Ia semakin uring-uringan mendengar alasan saya, bu. Ia menangis di hadapan mesin ketik tuanya semalaman. Bagi saya ia tetap saja mirip seperti anak-anak. Apalagi ketika ia menangis, ia hanya menggunakan kain sarung. Ia tampak seperti seorang anak yang menangis sehabis disunat.
Kini apa yang harus saya lakukan, bu? Ia tidak mau bicara dengan saya. Padahal ia tetap saja memakai toilet itu. Sebentar-sebnetar ia ke kamar mandi. Kini tingkahnya lebih aneh lagi, bu. Ia tidak mau berbicara dengan saya. Bahkan saya sudah meminta maaf berkali-kali. Ia juga sering membawa mesin ketiknya ke dalam kamar mandi. Akibat tingkahnya saya terpaksa menumpang ke rumah tetangga untuk mandi dan buang air.
Saya sangat menyesal sekali, bu. Setiap hari, setiap malam, saya mendengar suara gemertak mesin ketik dari dalam kamar mandi. Saya tidak tahu pasti apa yang sedang ia tuliskan. Mungkin saja ia menulis puisi berjudul Toilet Puisi. Mungkin pula ia memutuskan untuk membenci saya saja. Entahlah. Yang jelas, di dalam hati, saya masih sangat menyayanginya, bu. Bahkan diam-diam saya juga telah membuat puisi untuknya. Mungkin saja inilah cara terbaik untuk berbahasa dengannya. Tetapi bagaimana saya bisa lagi berbicara dengannya? Ia masih di dalam kamar mandi. Dan memang, hatinya sangat tinggi dan sulit untuk didaki.

Padang, 2010





PADA AKHIRNYA AKU AKAN MATI DI LAUT

28 09 2010

photo by: http://www.adventurequestproductions.com/raja-ampat.html

MUNGKIN ini adalah bulan ke- lima belas Sintana sakit. Ada sesuatu yang bersarang di kepalanya, kata dokter. Selain pikiran tentang aku, ada yang sudah bertahun-tahun tumbuh di kepalanya. Sesuatu yang membuatnya kini terbaring lemah di kamarnya yang baru saja kuganti warna dindingnya menjadi biru muda. Warna laut. Ia yang memilih warna itu, meskipun aku tak mengerti apa makna laut baginya.

Rambutnya yang panjang dan hitam telah dipangkas habis dari kepalanya. Bibirnya pucat seperti warna langit yang murung. Matanya yang sangat kukagumi itu kini begitu kosong dan cekung. Ada yang hilang dari tatapannya. Tapi ada yang senantiasa tumbuh di hati kami berdua.

Aku menatapnya yang terbaring sambil mencoba kembali mengingat-ingat, betapa semua berlalu begitu cepat. Kadang aku merasa baru saja kemarin memutuskan untuk jatuh cinta kepadanya saat aku menemuinya di sebuah toko buku kecil di kota ini. Saat itu aku mendapatinya terdiam begitu lama, menatap sebuah halaman buku pariwisata. Ia membacanya sambil berdiri. Aku tersenyum geli membayangkan bagaimana ia membuka plastik buku baru tersebut diam-diam. Meskipun pada akhirnya ia tetap memustuskan untuk membeli buku perjalanan itu, tapi sungguh aku geli melihat tingkahnya membuka plastik buku tersebut.

Saat itu, dengan modal kepercayaan diri yang berlebihan pada diriku, aku mencoba mengajaknya berbicara.

“Apa menariknya buku pejalanan itu?” tanyaku sambil berpura-pura mengambil buku perjalanan yang lain. Ia tak menjawab. Ia hanya terdiam dan terpaku pada sebuah halaman buku yang tak kunjung dibaliknya. Setelah itu ia menghembuskan nafas panjang sambil seolah-olah mengucapkan nama tuhan.

“Oh, tuhan…” ujarnya menghembuskan nafasnya lembut. Aku bisa melihat matanya bercahaya.

Tingkahnya ini membuatku semakin penasaran tentang apa yang dipikirkannya. Aku pun mencoba bertanya lagi.

“Tampaknya si penulis berhasil membuatmu terpukau. Jika semua orang di toko buku ini sepertimu, aku yakin buku itu akan jadi best seller.” Ujarku kembali menggodanya.

“Bukan penulisnya, tapi karena apa yang ditulisnya.” Ia akhirnya menanggapi ajakanku berbicara. “Lihat gambar ini!” Ujarnya sambil memperlihatkan padaku sebuah gambar dari buku perjalanan tersebut.

Aku melihatnya dan mengerutkan dahi.

“Ya, bagus. Pemandangan yang bagus.” Jawabku datar.

“Bagus? Segitu saja? Ini luar bisa, tahu nggak. Tak ada tempat seindah ini lagi di dunia.” Ia membalasku dengan mata yang berkaca-kaca. Entah tersinggung karena responku yang datar, entah karena begitu terharu menatap gambar pantai di buku tersebut. Yang jelas, sebenarnya aku hanya tertarik kepada wajahnya dibandingkan buku perjalanan tersebut.

“Ya tempat ini memang bagus. Ini di Hawaii ya?” tanyaku berpura-pura tertarik.

“Oh, tuhan. Kamu kemana saja. Ini Raja Ampat. Pantai terindah yang ada di Indonesia.” Jawabnya berapi-api.

“Oh, ya, ya, ya. Aku tahu. Ini pantai yang di Kalimantan itu kan?” kali ini aku mencoba serius. Aku tertarik dengan cahaya api dari matanya.

“Bukan. Aduh! Ini di Papua. Kamu memang kurang pengetahuan atau pura-pura tak tahu?”

“Haha. Aku hanya pura-pura tak tahu. Tak mungkin aku tak tahu tempat ini.” Ujarku mencoba menyembunyikan ketololanku.

“Semoga kamu benar-benar tahu. Yang jelas tempat ini memang indah. Luar biasa indah. Sangat luar biasa indah. Aku harus kesini suatu saat. Paling nggak sekali saja seumur hidupku.” Ia kali ini serius. Air wajahnya tenang dan dingin. Aku mencoba mencari sesuatu dari matanya. Mencari jawaban tentang apa makna pantai dan laut baginya. Bukankah kota ini juga memiliki pantai. Tapi apa yang membuatnya segitu ingin untuk bepergian kesana.

Aku menatap matanya sambil menyadari bahwa aku tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang tumbuh. Perempuan memang selalu menyukai hal-hal yang unik. Tapi perempuan ini memiliki kesukaan yang lebih unik dan berbeda. Jadi tak terlalu berlebihan jika aku ingin mengajaknya berkenalan. Setidaknya untuk mengetahui namanya. Tapi sepertinya ia tipikal perempuan yang tak menyukai peristiwa jatuh cinta di toko buku.

Ia berlalu meninggalkan toko setelah menyelesaikan tagihannya di kasir. Aku pun mengejarnya agar aku bisa berkenalan. Dan aku menemukan cara yang tepat.

“Hei, kalau kamu mau, aku punya banyak video dan buku tentang pantai favoritmu itu.”

“Benarkah? Berarti kamu sebenarnya memang tahu kan tentang pantai ini?”

“Iya, aku tahu. Aku juga menyukainya. Sama sepertimu, aku juga ingin bisa kesana.”

Ia terkesan mendengar kebohonganku. Ia tersenyum dan mengenalkan namanya.

“Sintana.” ujarnya singkat.

“Orhan.” Aku membalas.

Dan hari itu menjadi permulaan dari semua ini. Malam itu aku menghubungi semua toko buku yang ada di kotaku dan penjual video langgananku. Aku terpaksa harus mencari sebanyak-banyaknya tentang pantai Raja Ampat. Agar ia percaya bahwa aku tak hanya sekedar berbohong untuk bisa mendekatinya. Agar aku punya banyak alasan untuk dekat dengan Sintana. Dan aku tak menyangka bahwakebohonganku harus aku pertanggung jawabkan. Termasuk bahwa sebelum aku melamar Sintana, aku berjanji bahwa aku akan membawanya ke pulau impiannya. Ke pantai impiannya. Raja Ampat.

Waktu ternyata berlalu lebih cepat dari yang semua orang rasakan. Waktu lima tahun perkawinanku dengan Sintana seperti baru lima hari. Di hidungku masih tercium wangi melati di rambutnya saat kami menikah.

Saat ini sudah empat belas bulan lebih ia divonis oleh dokter menderita suatu penyakit yang mematikan. Sudah 437 hari kanker itu bersarang di kepalanya. Ia terbaring lemah dan guyah. Saat perih itu muncul, kadang aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa bahwa ia terlalu sibuk memikirkan aku. Sehingga pikiran tentang aku itu bertumpuk dan menjadi kanker. Cinta memang nama lain dari kanker. Ia selalu tersenyum saat aku mengatakan lelucon itu. Kadang dalam sakit, ia masih berusaha mengatakan bahwa dari dulu aku tetap tak berubah. Selalu suka mengada-ada. Saat ia tersenyum, saat itulah aku menangis. Dengan air mata yang masuk ke dalam.

Minggu lalu dokter mengatakan bahwa penyakit Sintana justru makin parah setelah di operasi. Dokter pun tak mengerti. Satu-satu cara ia harus dibawa berobat ke luar negeri. Aku telah mengusahakan semuanya demi kesembuhan Sintana. Tapi untuk berobat ke luar negeri, aku rasa pekerjaaanku sebagai pegawai negeri sipil belum mampu untuk mengupayakannya. Aku merasa lebih cemas saat ini. Tapi aku tak memberitahukan Sintana tentang apa yang dikatakan dokter. Aku hanya mengatakan bahwa ia perlu terus istirahat dan minum obat.

Saat ia tertidur, ia ternyata terlelap sambil memeluk sebuah album majalah pariwisata yang aku belikan untuknya dulu. Majalah itu terbuka dan aku tahu ia baru saja kembali membaca bagian pantai Raja Ampat yang selalu menjadi impiannya. Ketika itulah aku ingat dengan janji yang sempat aku ucapkan secara sembarangan kepadanya dulu, bahwa bagaimanapun caranya aku akan membawanya kesana, ke pantai Raja Ampat. Setidaknya sebelum ketakutanku terjadi.

Aku pun memiliki semangat baru demi kesembuhan Sintana. Aku berharap, mungkin saja ia bisa lebih sehat jika aku membawanya ke surga impiannya itu. Aku langsung menggadaikan motorku untuk membeli tiket perjalanan, aku mengambil semua sisa tabungan, aku menjual apapun yang memiliki harga tinggi. Aku lupakan keinginanku untuk membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuk Sintana. Sebuah rumah yang memiliki kolam ikan di pekarangan, balkon untuk menatap rembulan, atap yang kokoh dan tak gentar dari panas dan hujan, dinding yang mampu memeluk dan menghangatkan. Aku lupakan semuanya untuk Sintana.

Beberapa hari setelah itu aku bisikkan padanya bahwa aku akan mengajaknya ke suatu tempat.

Ia hanya menuruti semua yang aku katakan. Aku kenakan padanya pakaian yang paling menawan. Lalu aku membawanya ke bandara dan ia bertanya apakah kami akan melakukan perjalanan jauh. Aku jawab dengan mengelus kepalanya yang ditutup kerudung. Ia kembali bertanya hendak dibawa kemana. Tak biasanya ia nyinyir. Ia adalah permpuan yang selalu setuju dengan kata-kataku. Maka kali ini aku memberinya kesempatan. Aku pun menunjukkan tiket perjalanan kami. Setelah membuka dan membacanya, ia hanya menumpahkan air mata. Tangannya terlalu lemah untuk memelukku. Dalam mata yang basah Ia hanya tersenyum, dan aku menganggap itu adalah pelukan paling hangat.

“Kita akan kesana. Ke surgamu.” Ujarku sambil menyeka air matanya dengan tanganku yang kasar. Dan pesawat kami menuju ke timur Indonesia, Raja Ampat, Papua Barat.

***

Ketika kakinya menyentuh pasir putih yang seperti tepung terigu itu, ia tak bisa menyembunyikan bahagia dari wajahnya. Tubuhnya sangat lemah, tapi ia bersikeras ingin bermain air dan menyusuri garis pantai. Aku akui Raja Ampat memang pantai yang hampir menyerupai surga yang ada di pikiran orang-orang. Bukit-bukit yang hijau mengelilingi pantai. Ombaknya lembut. Air laut nya bening, seolah-olah ingin menunjukkan kepada siapapun yang ada disana bahwa ia memiliki dasar yang sangat cantik.

Ia tampak sangat sehat ketika aku mengajaknya bermain air. Tiba-tiba aku merasa bahwa ia tak pernah sakit. Tiba-tiba pula aku merasa bahwa kami masih berusia sangat muda, ini seperti kencan petama kami dahulu. Entah mengapa, saat itu aku memahami apa makna laut bagi Sintana. Aku mengeti bahwa ada yang ingin ditempuhnya dari lautan itu. Laut adalah kebebesan baginya.

Matahari tenggelam di Raja Ampat. Horizon menjelma warna merah dan berangsur-angsur gelap. Aku kembali menyadari bahwa Sintana tak akan mampu bertahan lebih lama. Meskipun sebenarnya aku belum tahu apakah aku siap melihat cahaya mata Sintana menjelma senja lalu kelam.

Mungkin kami akan disini sampai Sintana pergi ke laut. Dan suatu saat aku juga akan menyusulnya.

28/09/10

-Padang-

untuk Ice Yolanda

“Aku berjanji akan membawamu kesana.”





Apenberg

23 09 2010

Apenberg
Cerpen oleh Arif Rizki

Ketika Eliana memutuskan untuk pindah ke Belanda. Aku tidak mengantarkannya ke Bandara Ketaping. Aku bisa saja menduga-duga bahwa ia menunggu kedatanganku untuk mengucapkan ‘sampai jumpa’ atau bahkan menguncapkan ‘kita tak akan berjumpa lagi selamanya’. Jika aku sedikit mabuk laut, aku bisa saja membayangkan bahwa ia menangis sejadi-jadinya di pintu bandara. Ia akan menatap panjang ke arah gerbang, menyelidiki setiap mobil atau kendaraan yang berhenti lalu mengejarku seolah-olah ingin aku menahan kepergiannya. Tapi aku sedang tidak sanggup menghayal. Aku pun tak mungkin pula mampu menghentikan kepergiannya ke Belanda. Maka ketika Eliana memutuskan untuk meneruskan keinginan keluarganya untuk selamanya tinggal di Belanda, aku pun tidak mengantarnya ke bandara. Aku bahkan tidak memberikan kalimat kekalahan ‘sampai jumpa’.
Tapi aku bergegas mendaki Gunung Padang.
****


Cuaca di pantai Purus sore itu seperti seorang sahabat yang tiba-tiba saja menjelma malaikat. Tak seperti hari biasanya di bulan September, angin bertiup lembut dan matahari memberikan sinar wajahnya yang paling ramah. Sehingga tanpa sengaja mengundang orang-orang untuk berlalu lalang sepanjang pantai. Mereka datang beramai-ramai ke tepian pantai Purus untuk menunggu matahari tenggelam.
Seperti kebiasaan orang-orang kebanyakan, ada yang duduk-duduk berjejal di sepanjang bebatuan, bermandian dan bermain bersama gulungan ombak yang genit, juga ada yang sekedar lewat untuk sekedar menatap ke arah laut barang semenit dua menit. Tapi aku masih melakukan kebiasaanku. Sebelum matahari menyelinap ke dalam laut dan malam menyelubungi kota Padang, aku mengitari tepian pantai untuk mengangkat perangkap udang yang telah aku sediakan dari pagi hari. Aku selalu memasang perangkap udang di sepanjang pantai Purus hingga ke Muara. Selama ini tangkapanku selalu mengembirakan. Kegembiraan yang selalu membuatku bersemangat untuk menempuh malam dengan cara menjala ikan-ikan.
Tapi kali ini hasil tangkapanku agak berbeda. Maksudku, jauh berbeda. Biasanya aku menangkap udang-udang yang malang karena tidak bersembunyi di balik batu. Atau setidaknya aku berhasil menjaring kepiting dengan perangkap tersebut. Namun kali ini tangkapanku bukan udang, bukan pula kepiting. Melainkan perempuan. Ah, inilah yang tidak kupahami dari perangkap udang yang aku tebar itu. Saat itu seorang perempuan tiba-tiba saja meminta  tolong di lautan. Aku pikir ia terjatuh dari papan selancar yang sebelumnya ia mainkan bersama teman-temanya itu. Dan sialnya ia tak mampu berenang. Maka sebagai anak nelayan dan anak lautan, aku pun langsung melompat dari perahu mesinku untuk menyelamatkan perempuan sial itu. Ternyata kakinya terikat oleh perangkap udang milikku saat terlepas dari papan selancarnya. Aku membantunya lepas dari belitan tali dan benang perangkap udang dan menaikinya ke perahu mesinku sebelum kawan-kawan peselancarnya sampai untuk menyelamatkan.
Setelah membawanya ke tepian, perempuan itu memberiku uang sebagai imbalan untuk jasaku yang sudah menolongnya. Aku pun menolak. Dan aku pun tidak mengakui bahwa perangkap udang itu adalah kepunyaanku. Untuk bisa pergi tanpa rasa bersalah atau basa-basi, aku pun berlalu dan memacu perahu mesinku ke arah matahari tenggelam.
Perempuan itu bangkit dan bersorak dari tepian pantai Purus.
“Hei, lelaki penyelamat. Siapa namamu?” soraknya.
“Lingga.” Jawabku membalas sorakannya. Ia pun melambaikan tangan kepadaku sambil meneriakkan kata terima kasih. Aku membalas lambaiannya dengan perasaan yang berkecamuk. Aku tak menyangka akan bertemu nasib yang unik sore itu.
“Udang yang sangat cantik.” Gumamku.
Sebelum sempat berpikiran terlalu jauh, aku pun kembali menata perasaanku dan berharap semoga badai tidak lagi tiba-tiba datang tanpa memberikan tanda. Sekaligus berharap bahwa esok pagi aku akan membawa banyak sekali ikan-ikan yang besar.

****
Aku sedang memperbaiki jala di siang hari yang teramat terik saat seorang perempuan datang menghampiriku sambil membawakan kopi dingin yang sangat manis. Ia adalah perempuan yang kemarin aku selamatkan.
“Aku sudah lama mencari-carimu. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.” Ujarnya sambil duduk di hadapanku dan memperhatikan jala yang sedang kurajut.
“Ah, tak perlu berterima kasih kok. Itu sudah tanggung jawabku.” Aku mencoba berbasa-basi.
“Hm, jangan gitu dong. Kamu berjasa besar lho. Kalo kemarin itu aku gak ditolong, bisa batal rencanaku ke Belanda. Ini, kopi aku beliin buat kamu. Maaf cream nya sedikit cair. Soalnya aku susah nyariin kamu sepanjang pantai ini.” ujarnya sambil memberikan sebuah kopi dingin kepadaku. Aku menerimanya sebab ia mengatakan bahwa itu adalah kopi Itali.
“Ternyata kopi Itali enak juga. Mereka tidak hanya pandai main bola ya. Tapi juga hebat bikin kopi.” Balasku. “Ohya, mau apa ke Belanda?” tiba-tiba saja aku berani bertanya. Entah disebabkan kopi Itali yang sedang kuminum, entah karena aku merasa berjasa kepadanya.
“Oh, itu. Aku mau kuliah disana. Dan mungkin juga mati disana.” Tiba-tiba saja suaranya mengecil. “Aku sudah di… ah, sudahlah. Bagaimana kopinya? Enak?” Ia mencoba mengalihkan pembicaraan yang ia mulai sendiri. Seperti ada sesuatu yang tengah ia pendam.
Entah dari mana mulainya, ia menjadi sering menemuiku di siang hari. Biasanya ia datang di hari sabtu siang. Ia selalu membawa kopi Itali yang pakai krim. Dan entah dari mana mulainya, kami menjadi sedemikian dekat. Setelah kedekatan kami melewati hari, minggu dan bulan, aku pun memberanikan diri untuk mengajaknya ke suatu tempat yang paling kusukai; Gunung Padang. Ia menamai Gunung itu dengan nama Apenberg. Saat orang Belanda menjajah, mereka manamai gunung itu dengan nama Apenberg. Ia mengetahui itu dari Internet. Mungkin Internet juga sejenis kopi Itali. Atau bahkan merupakan penduduk Itali. Yang jelas aku tak menyukai nama Apenberg itu.
Eliana belum pernah ke puncak Gunung Padang. Semenjak ia pindah ke Padang, ia tak pernah punya waktu. Ia selalu berpindah-pindah. Ketika aku tanyakan ia sebenarnya asli dari daerah mana, ia selalu kebingungan, karena orang tuanya selalu bertugas dari daerah ke daerah.
Ia adalah perempuan yang dimanjakan oleh keadaan. Ketika aku dan Eliana mendaki Gunung Padang, ia hanya sanggup mendaki beberapa langkah saja. Aku pun menawarkan untuk mengendongnya ke puncak sana dan menjanjikan padanya bahwa pemandangan puncak gunung Padang tak akan mengecewakannya. Ia setuju dan sangat berjingkrak bahagia karena aku bersedia menggendongnya.
“Kau adalah seorang nelayan, tapi mengapa baumu tidak seperti bau ikan?” tanyanya kepadaku saat aku mengendongnya di belakang punggungku.
“Aku adalah tipe nelayan yang tidak mandi di air laut. Jadi bau tubuhku tidak jauh beda dengan yang lainnya.” Jawabku.
“Pantesan. Tapi bau rambutmu tercium kayak bau laut.” Balasnya. Dan aku hanya tersenyum. “Kenapa malah jadi nelayan? Aku lihat, kamu cukup pas buat jadi model. Kamu cukup tinggi. Dan…..  ya, keren. Kenapa gak terjun di dunia modeling aja?” tambahnya dan terdengar seperti seorang perempuan yang mulai merayu.
“Aku lebih baik terjun ke laut dari pada terjun ke dunia model itu.” jawabku. Dan ia tertawa sambil memukul bahuku. Pukulan kecilnya itu pun menyadarkan aku bahwa kami telah sampai di puncak Gunung Padang. Ia langsung berteriak gembira ketika menyaksikan laut dan Samudra Hindia yang terhampar luas. Ia tak mampu menyembunyikan luapan kesenangan di hatinya yang terlihat dari senyuman yang tak kunjung lepas dari bibirnya. Dan sungguh, sangat mudah bagiku untuk menyadari bahwa udang tangkapanku ini sangat memesona.
Sambil menghadap ke laut, aku ceritakan kepadanya bahwa puncak Gunung Padang ini adalah tempat favorit Siti Nurbaya dan Samsu Bahri. Juga tentang Gunung Padang yang sebenarnya hanyalah bagian dari bukit barisan. Aku juga mengajaknya ke makam Siti Nurbaya. Ia mengaku tidak pernah membaca novelnya. “Aku lebih suka Harry Poter” katanya. Dan aku menerima perbedaan antara kami berdua. Tapi ia cukup terharu ketika aku ceritakan mengapa Siti Nurbaya meninggal dan bagaimana akhir kisah mereka. Sambil tak mampu menahan air matanya, ia memintaku agar segera diantarkan pulang. Saat itu, aku tak mengerti apa yang terjadi kepadanya.

**
Aku sempat berpikir bahwa ia marah kepadaku karena aku ajak ke Gunung Padang dan menceritakan kisah yang bukan bagian dari Harry Poter kesukaannya. Ternyata aku salah. Aku memang selalu salah dalam menyangka perasaan seseorang. Termasuk ketika aku tak menyangka dengan apa yang ia katakan ketika aku mengajaknya bertemu di suatu malam ketika bulan purnama bersinar di atas lautan kota Padang. Sesungguhnya malam itu adalah malam yang mestinya tidak boleh aku lewatkan begitu saja tanpa pergi ke laut. Ini adalah malam sempurna untuk pergi melaut. Tapi karena Eliana ingin mengatakan sesuatu, dan aku kira apa yang akan dikatakan Eliana adalah hal yang sangat penting, aku pun urung berlayar malam di malam itu.
“Lingga, aku nggak tahu bagaimana harus menjelaskannya.” Ucap Eliana terbata-bata. Aku pun tetap mendengarkan. “Mungkin ini terdengar sangat bodoh dan aneh. Aku juga nggak ‘ngerti. Yang jelas, sejak di dekat makam Siti Nurbaya, tiba-tiba aku merasa ingin selalu ada di dekatmu. Aku selalu ingin mencium rambut bau lautmu. Aku selalu ingin ada di dekat baju kaos oblongmu yang bau ikan asin itu. Aku tiba-tiba menyukai semua yang ada pada dirimu.” Ucapnya dengan semakin terbata-bata.
Aku pernah melalui badai terhebat yang membuatku berfikir tak akan selamat. Aku pernah dipilin-pilin gelombang dan pasang. Aku hampir ditelan hidup-hidup oleh ikan hiu tutul di perairan Hindia. Tapi aku tak pernah ditimpakan luapan perasaan dari perempuan seperti ini. Apa yang diungkapkan Eliana jelas melebihi gelombang dan badai. Aku seperti berada di ombak yang hempasannya bisa menjatuhkan kapal-kapal dagang yang besar dari Eropa. Dan aku lebih tak mampu lagi menahan jantungku yang rasanya hendak meledak ketika kusadari bahwa aku ingin Eliana juga selalu ada di dekatku. Dan aku katakan kepadanya—dalam keadaan gugup yang luar biasa bahwa “Aku juga menginginkanmu selalu ada. Bersamaku.”
Ia hanya tersenyum. Mukanya memerah seperti kepinting yang direbus di air mendidh. Dan aku merasa seperti berada di sebuah kapal yang segera akan oleng dan tenggelam.
**
Kini Eliana akan berangkat ke Belanda. Aku tak pernah tahu dimanakah letak negeri itu. Aku juga tak yakin mampukah aku menempuhnya hanya dengan perahu diesel-ku. Aku tak mengantarnya ke bandara. Aku malah menaiki Gunung Padang. Sebelum kepergiannya ke Belanda, Eliana tetap bersikukuh menamainya Apenberg. Aku akan melepas kepergian Eliana dari puncak Gunung Padang. Ketika pesawatnya lewat di atas kepalaku dan menuju ke arah utara, mungkin aku akan melambaikan tanganku tanpa berharap ia akan melihat atau bahkan membalasnya.
Di telingaku masih terngiang bagaimana ayahnya menyatakan kepadaku bahwa Eliana akan kuliah di Belanda dan menikah disana dengan anak rekan kerjanya. Ayahnya memang tak memiliki pilihan lain, sebab ia sudah lama membuat janji perjodohan dengan rekannya yang juga lari ke Belanda karena perubahan arus politik di Indonesia. Ia hanya menganggapku sebagai penyelamat anaknya, meskipun malam itu, sesungguhnya kedatanganku ke rumahnya adalah untuk melamar Eliana. Eliana tidak diberi kesempatan menolak keputusan-keputusan yang dibuat oleh ayahnya.
Aku juga tidak mampu membawanya lari. Eliana sempat meminta kepadaku untuk membawanya pergi jauh-jauh. Tapi kemana aku harus pergi membawanya? Aku hanya anak laut. Hidupku adalah lautan yang buas. Sementara Eliana selalu mabuk laut—bahkan ketika menaiki kapal pesiar yang nyaman. Apalagi jika ia kularikan dengan perahu bututku. Tentu saja ia tidak hanya mabuk laut, tapi juga mabuk hidup.
Kukatakan kepadanya bahwa aku mencintainya. Seluruh lautan mampu aku serahkan kepadanya. Tapi ia tak akan bahagia hanya dengan lelaki yang berbau ikan asin sepertiku. Aku akan selamanya begini. Dan itu tak akan memberi kehidupan apapun baginya. “Berangkatlah, Eliana. Kabarkan kepada negeri penjajah itu, bahwa engkau adalah Siti Nurbaya yang baru. Siti Nurbaya yang selalu memeram dalam-dalam perihnya di dasar laut yang dalam dan diam. Yang mengubur mimpinya di puncak Gunung Padang.” Ucapku kepadanya ketika matahari di pantai Purus mulai mengemasi dirinya. Senja jatuh di hati kami masing-masing.
Kini aku sendiri di puncak Gunung Padang ini. Tidak jauh dari makam Siti Nurbaya. Aku menyadari tak akan mungkin menjerat perempuan dengan perangkap udang lagi. Seluruh lautan telah aku kabarkan bahwa aku jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Eliana. Jika kini kukatan lagi bahwa ada yang telah remuk dalam diriku, bagaimana aku harus menjelaskannya kepada lautan yang terhampar di hadapanku ini? Eliana barangkali seperti ikan yang mengerjap manja ketika kutangkap dengan jala, tapi ketika aku menatap matanya, aku harus tahu bahwa aku harus segera melepaskannya kembali. Salahku selama ini merawatnya di aquarium yang tersimpan di jantungku. Ia hanya ikan yang tanpa sengaja tertambat di hati seorang nelayan kampung yang selalu bau angin laut yang asin.
Kini aku sendiri di Apenberg. Di puncak Gunung Padang. Kapal-kapal dan pesawat bertolak entah kemana. Lautan membentang di bawah sana. Dan angin seperti menuntunku untuk berjalan ke tepian tebing yang curam. Tiba-tiba aku merasa tebing itu seperti memanggil-manggil namaku. Angin seperti merayu tubuhku untuk bermain bersamanya. Entah mengapa tiba-tiba penglihatanku perlahan-lahan memudar ketika aku saksikan laut lepas yang terhampar. Tiba-tiba aku ingin melompat ke bawah sana, seseorang yang dilahirkan laut, pada akhirnya akan kembali kepada laut.

Padang, 2010





Ikan dalam Plastik

15 09 2010

IKAN DALAM PLASTIK
Oleh: Arif Rizki

Akhirnya kereta mulai bergetar dan meninggalkan stasiun setelah keberangkatannya ditunda selama dua puluh menit. Aku memandang ke luar untuk menawar hatiku yang pelan-pelan ikut bergemuruh.
Dari dalam tas aku keluarkan sebuah buku saku kecil dengan sampul batik yang telah lusuh. Ke-empat ujungnya telah terlipat-lipat. Buku ini hampir seragam dengan buku catatan para tukang kredit di pasar tekstil. Ini adalah buku harian ibuku. Buku ini adalah satu-satunya peninggalan ibu yang tidak kubagikan kepada sanak keluargaku.
Di dalamnya ada catatan-catatan singkat tentang kehidupan ibuku dari remaja hingga ia melahirkan anak pertamanya—kakakku. Banyak catatan yang membuatku tersenyum geli jika kubaca lagi, misalnya bagaimana ibu yang pelan-pelan luluh dan jatuh cinta kepada ayahku yang berkali-kali melamar ibuku. Ayah adalah seorang pemburu yang beringas di rimba raya. Dan di rimba cinta ia ternyata tetap pantang kalah. Begitulah kutipan di buku harian itu.
Namun ada sebuah catatan yang paling panjang di buku itu. Sebuah catatan yang barangkali sangat pribadi bagi ibuku. Akupun selalu dihanyutkan sebuah perasaan yang tak jelas ketika membaca catatan itu. Dan untuk itulah aku naik kereta api ini.

**

Payakumbuh, 7 July 1971

Telegram tiba ketika adzan zuhur belum berhenti menggema dari puncak menara. Biasanya, sepeda Pak Cip si Pak Pos selalu berdering dua kali jika ada surat. Dan ternyata telegram itu ditujukan untuk kakakku. Yulis, kakakku menerimanya. Aku yang sedang mencuci pakaian juraganku langsung berhenti dan menghampiri kakakku tersebut. Ia mendesis—seperti mengucap nama tuhan. Aku meraihnya. Dengan jelas di sana tertulis: Bapakmu sakit. Datanglah ke Padang.
Aku memandang kakakku yang tiba-tiba saja menatap jauh ke arah halaman. Lalu buru-buru ia ke kamar kami dan menggulung kasur. Di bawahnya ada beberapa uang yang kami simpan dari hasil jerih payah kami menjadi pembantu di rumah bekas majikan Ayah di gudang garam.
Ia menghitungnya dan buru-buru mengikatnya dengan karet gelang. Aku tak tahu pasti berapa jumlahnya. Tapi aku ingat bagaimana Kak Yulis langsung menyisir rambut dan mengelap sandal kayunya.
“Aku akan ke Padang. Ayah butuh bantuan.” Ujar kakak dengan nada yang sangat bergetar.
“Aku ikut.” Balasku.
“Jangan. Nanti Pak Faisal marah kalau kita berdua meninggalkan pekerjaan.
Aku tidak mampu lagi berucap sepatah kata apapun. Dari belakang aku lihat Kak Yulis berbicara dengan Istri pak Faisal, majikan kami. Ibu itu tampaknya mengijinkan. Ia menyuruh Uda Sedi untuk mengantar kakak ke stasiun dengan sepeda. Lalu aku lihat dari jendela bagaimana wajah kakak yang murung meninggalkanku dan aku lihat sendiri pantulan wajahku di kaca, lebih murung dari itu.
Setelah itu aku tidak bisa dengan benar-benar melanjutkan pekerjaanku. Bukan karena aku masih berusia sebelas tahun. Tapi karena biasanya kakaklah yang mengarahkanku untuk melakukan apa-apa di rumah itu, karena majikanku tidak mau memerintah kami. Ia ingin tahu beres saja. Ini membuatku gagap. Belum lagi dengan isi telegram itu.
Beberapa saat setelah kakak meninggalkan rumah, aku teringat akan sesuatu.
“Aku harus ke stasiun!”
Aku buru-buru mengambil plastik. Kemudian aku mengambil seekor ikan mas kecil dari dalam bak. Minggu lalu aku membelinya seharga sepuluh rupiah. Penjualnya mengatakan ini adalah ikan ajaib.
“Ikan ini bisa mengabulkan apa saja permintaan kita, jika kita bersungguh-sungguh dan dengan niat yang baik.” Begitu kata penjualnya. Aku takjub dengan ikan ini dan aku belum meminta satu hal pun. Mungkin inilah saatnya untuk mencoba keampuhannya. Aku akan memberikan ikan ini untuk ayah. Semoga ayah bisa sembuh bila aku berikan ikan ini.
Akupun bergegas menangkapnya. Ternyata tidak mudah sebab bak mandi itu cukup luas. Dan ikan itu cukup lihai menghindar. Tak lama kemudian aku berhasil jua menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah plastik.
Aku mengikat ujung plastik itu setelah memberi udara agar ikan mas ajaib ini bisa bertahan sepanjang jalan. Jalan ke Padang tidak mungkin bisa ditempuh sebentar saja. Ikan ini harus sampai di tangan ayah dengan selamat.
Aku berlari dengan kencang ke stasiun. Harusnya aku ingat untuk menitipkan ikan ini lebih awal. Tapi sudahlah, aku harap waktu bisa menunggu.
Tapi dari kejauhan aku lihat kereta mulai berjalan. Akupun berlari sekencang-kencangnya. Tak pernah aku berlari secepat ini. Dan tak pernah kurasakan dadaku sesesak ini sebelumnya. Kereta itu sudah berjalan walaupun cukup pelan. Aku yakin aku bisa mengejarnya.
Dan beruntung, aku lihat Kak Yulis ternyata ada di gerbong paling belakang. Dari kejauhan aku berteriak dan melambai-lambai kepadanya. Berulang-ulang kupanggil nama kak Yulis. Tapi suara bising dari rel mengalahkan suaraku.
Aku tak berhenti berlari dan ternyata kereta itu semakin terasa bergerak lebih cepat. Aku berusaha berteriak dan melambai.
Dan tuhan, untunglah, ketika itu Kak Yulis mampu mendengarnya. Ia berlari ke belakang gerbong. Ada pintu di bagian belakang. Akupun berlari di atas rel untuk mengulurkan ikan dalam plastik itu kepada Kak yulis. Tapi kami masih berjarak.
Aku mulai menyadari bahwa aku tidak akan sanggup mengejar kereta itu. Belum lagi karena tiba-tiba air mata meleleh dari ke dua tepi mataku. Tapi aku tetap mengejar kak Yulis. Dan Kak yulis berteriak-teriak untuk menyuruhku pulang, kembali ke rumah pak Faisal.
Demi tuhan aku tak punya waktu untuk menjelaskan untuk apa ikan ini. Aku harus memberikannya kepada kak Yulis tapi ia tak paham apa maksud semua ini. Sebelum sempat sedikit kujelaskan, kereta itu menjadi lebih jauh. Jauh. Jauh. Jauh. Dan jauh.
Kak Yulis menatapku dari kejauhan. Aku tahu ia menangis. Dan akupun tak sanggup menghambat derasnya air dari mataku. Lututku yang letih membuatku tak sanggup berdiri. Menatap kereta yang menjauh membuat tubuhku sangat lemas. Plastik berisi ikan itu jatuh dari genggamanku dan pecah di atas rel yang panas.
Sore itu, harapanku pecah di rel berkarat. Doakupun menguap bersamaan dengan asap yang berlepasan dari cerobong lokomotif itu.
Di perjalanan pulang aku terisak-isak. Ikan itu aku bawa dengan kedua telapak tanganku. Ia tak akan hidup lebih lama karena tanganku tak bisa menampung air yang cukup untuknya. Dari kejauhan, masih kudengar suara kereta menuju kota Padang. Seolah aku mampu mendengar suara ayah yang tak henti mengerang.

***

Sudah berpuluh-puluh kali aku baca bagian ini. tapi mataku selalu basah setiap kali membaca kata demi kata yang ditulis ibuku. Selama beliau masih hidup, ia tak pernah tampak begitu menderita. Paling tidak ia tampak cukup bahagia dngan keluarga kecil kami. Tapi ternyata jauh di dalam ia menyimpan genangan air keruh dari masa silamnya.
Di luar kulihat jalan raya sesak oleh berbagai macam kendaraan. Aku sendiri baru sekali ini naik kereta api. Ini pun hanya kereta api wisata yang jalan sekali seminggu. Tak ada lagi kereta seperti yang ada di catatan harian ibuku ini. Rel-rel telah menjadi pondasi rumah penduduk dan ditutup oleh aspal beton. Jarak antara Padang dan Payakumbuh bisa ditempuh dalam waktu tiga jam saat ini. Tapi di zaman ibuku, di buku harian ini, tampak begitu jauh.

**
15 July 1971

Aku tahu Padang sangat jauh dari sini. Entah mengapa ayah memilih bekerja di sana. Ini sudah seminggu kak Yulis pergi. Belum ada berita. Ia tidak menitipkan surat. Aku begitu pencemas sekarang. Banyak saja yang bisa kutakutkan.

16 July 1971

Ikan mas ajaibku akhirnya mati. Aku menguburnya di halaman belakang rumah majikanku ini. Aku tahu ini adalah pertanda buruk. Aku begitu cemas dengan semua pertanda buruk. Tapi sesungguhnya aku telah siap. Apapun yang akan terjadi.
Kesiapan itu ternyata menuntut pembuktian. Ayahku ternyata kalah. Ia meninggal. Aku seperti dipukul oleh sesuatu yang tak kutahu. Sungguh, aku sangat terpukul. Seandainya saja aku tidak terlambat. Seandainya aku sempat memberikan ikan mas itu ke pada kak Yulis. Kini aku tahu bagaimana sesuatu yang baik bisa saja menjelma menjadi petaka.
Ayah dimakamkan di Bukittinggi, kota kelahiranku. Tepat disamping ibu yang lebih dulu meninggal ketika melahirkanku yang konon kembar. Aku lahir selamat. Ibu dan kembaranku membayar mahal atas kelahiranku.
Ketika ayah dikuburkan, aku menggali kembali kuburan ikan mas itu. Aku menguburnya kembali di tengah-tengah pusara ayah dan ibu. Aku harap ini semua bisa menjelaskan sesuatu kepada mereka.
Kini aku hanya memiliki kak Yulis saja di dunia ini. Kami menjadi lebih dekat dan kesepian. Kami harus bekerja lebih keras dengan hati yang terkuras. Mungkin hidup kami seperti ikan yang terjebak di dalam plastik.

***

Aku menutup buku harian itu. Tak ada sedikitpun rasa yang istimewa ketika menaiki kereta wisata ini. Aku tak mendapatkan perasaan emosional yang kuharapkan sebelumnya. Aku justru menaiki kereta yang sesungguhnya dengan membaca buku lusuh ini. Dua jam perjalanan menikmati kota Padang dan Pariaman tak memberiku rasa apa-apa. Semua orang di dalam kereta ini tampak baik-baik saja. Tapi di dalam diriku ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh. Aku takjub membayangkan masa lalu ibuku. Aku tak pernah begitu merindukan ibuku seperti saat ini. Di buku ini ibu begitu berbeda dengan sosok yang kukenal. Aku beruntung telah menjadi sepotong dari bagian hidupnya. Aku menatap langit ketika menggumamkan kalimat ini.


Di pariaman, kereta wisata itu berhenti sekitar dua jam. Para penumpang sungguh tampak berbahagia telah bepergian dengan kereta itu. Dari kejauhan aku menatap kereta itu. Aku bayangkan bagaimana kejadian ibu mengejar kereta ketika hendak memberikan ikan mas kepada kakaknya—bibiku.
Waktu selama dua jam aku habiskan untuk merenung dan membaca ulang buku harian itu. Esok aku akan menikah. Ada hidup lain yang akan aku tempuh. Jika saja ibu masih ada tentu aku akan mengajaknya merayakan pernikahanku dengan berkeliling kota dengan kereta wisata ini.
Terompet kereta membunuh lamunanku sebelum sempat aku gumamkan doa. Namun sebelum naik kereta untuk kembali menuju Padang, seorang anak menawarkan ikan kepadaku di pintu kereta. Tanpa pikir panjang aku membelinya. Harganya lima belas ribu—harga yang berbeda jauh dengan harga ikan di zaman ibuku. Ikan itu ada kemiripan dengan ikan ajaib ibuku. Sama-sama ikan mas dan sama-sama di dalam plastik bening.
Aku menatap ikan itu begitu lama ketika berada di dalam kereta. Ikan seperti inilah yang pernah hadir dalam hidup ibuku. Betulkah ia bisa mengabulkan permintaan? Entahlah, jika saja benar. Aku ingin ibu bahagia di alam sana. Dan tentu saja aku berharap pernikahanku baik-baik saja.
Di tengah perjalanan kantuk menyerangku dengan kekuatan terberatnya. Antara sadar dan tidak, sekilas di luar–di jalan, aku melihat seorang perempuan menggunakan daster lusuh bermotif bunga berlari ke arah keretaku. Ia membawa ikan mas di dalam plastik. Dalam kantuk yang berat aku lihat wajahnya sangat mirip dengan ibu ketika masih remaja. Namun aku rasa aku hanya sangat lelah dan merindukan beliau.





Perempuan Pintu Jalan

14 09 2010

Perempuan Pintu Jalan

Cerpen oleh Arif Rizki

1.

Pertemuan kami—seperti halnya pertemuan lain di kota ini, terjadi begitu saja. Bukan pertemuan istimewa sesungguhnya. Kepergian dan kepulangan yang aku lakukanlah yang mewujudkannya. Ketika aku pergi atau pulang mengantarkan penumpang antar Pasar Minggu-Bandara Soekarno Hatta, aku mendapati seorang perempuan dalam sebuah kubus batu bata. Ia menjulurkan kepala dari jendela dan menagih tarif tol dengan muka yang sedatar jalan raya.  Dengan sisa asap yang penuh di muka, aku membayar tiket tol itu dengan tergesa-gesa. Lalu pertemuan kami berakhir begitu saja. Mungkin di antara kami tak akan memikirkan hal yang sangat begini biasa.

Aku salah. Sepanjang jalan aku memikirkanya. Aku tak habis pikir mengapa perempuan se-elok dirinya bisa bekerja sebagai penagih tarif tol? Dengan mata jernih dan kulit putih yang ia miliki, aku bertaruh ia bisa menjadi seorang peraga busana. Ia mungkin juga bisa menjadi pemeran sinetron yang selalu kutonton saban malam. Tahukah, sinetronlah yang mewakili perasaanku walaupun aku tak pernah sekalipun bermimpi menjadi lelaki kaya raya yang selalu ada di sepanjang ceritanya. Apalagi menjadi lelaki kaya yang buncit dan berkumis menggelikan. Bukan karena penghasilanku yang memang pas-pasan. Aku hanya tak terbiasa. Aku pernah mencoba melakukannya. Aku berjalan-jalan dari mall ke mall, meminjam telfon genggam ternama seorang teman, dan menaiki mobil mewah milik seorang majikan. Aku duduk di belakang seperti bos-bos. Namun tetap saja merasa sebagai orang termiskin di dunia.

Copyright All rights reserved by Daniel Lumbini

Aku menyadari bahwa aku tak akan bisa menjadi orang kaya, bahkan walaupun aku menguliti seorang konglomerat dan memakaikannya ke tubuhku. Aku tetap tak bisa bahkan ketika aku hidup di tubuh mereka. Mungkin saja perempuan yang kutemui itu bisa. Tapi apa yang membuatnya menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang penjaga pintu tol? Apakah tawaran nasib yang dimiliki oleh kota ini sedemikian kejamnya untuk perempuan seperti dirinya? Ketika kupercakapkan hal ini dengan kenalanku, seorang perempuan lain yang bekerja di SPBU, ia pun naik pitam.

“Kau pikir hanya perempuan buruk rupa saja yang layak menjadi pekerja kasar dan orang tak berpunya?” ujarnya dengan mata yang berapi-api. Untung saja kami tidak sedang berada di SPBU.

Aku tak pernah lagi membahas masalah ini. Kalau pun aku masih penasaran, aku cukup memikirkannya dalam imajinasiku saja. Ia tak pernah tahu, semenjak pertemuan kami yang biasa itu, aku menjadi seorang sopir yang tidak biasa. Aku mampu mengejar trip perjalanan berkali-kali dalam sehari. Biasanya jatahku hanya dua kali pulang pergi Pasar Minggu-Bandara Soekarno Hatta. Tapi kini aku bersikeras ingin menambah trip perjalananku setidaknya tiga kali pulang-pergi. Aku benar-benar memeras keringat. Tanya saja kepada handuk yang bertahun-tahun ada di pundakku itu. Semua itu kulakukan hanya untuk beberapa detik menemuinya sambil tak henti terpesona dengan selera seni yang dimiliki oleh Tuhan atas ciptaannya ini.

Perempuan itu tak pernah menyadari bahwa aku menaruh mata kepadanya. Ia barangkali tidak pernah ambil pusing tentang bau pesing dari ketiakku ketika mengulurkan selembar uang yang remuk untuk membayar tiketnya itu. Tapi entah mengapa aku yang ambil pusing tentang dirinya. Apalagi ketika kupikirkan mengapa ia tak pernah tersenyum kepadaku saat transaksi antara kami berlansung. Apakah ia memperlakukan hal yang sama kepada seluruh pengendara yang singgah di tempatnya?

Untuk itulah aku membeli sebuah parfum di sebuah toko milik seorang lelaki asal kota Padang di Pasar Minggu. Ia mengatakan bahwa ini adalah parfum Paris. Aku yakin dengan cara ini perempuan itu bisa menandai kedatanganku dan membedakan bauku dengan pengendara lain. Tapi ia tidak pernah peduli. Bahkan ketika aku sudah menghabiskan berbotol-botol parfum Paris. Aku menjadi ragu tentang keaslian parfum ini. Tidak, aku tidak akan menyalahkan indra penciumannya. Aku yakin hidungnya yang kecil itu jauh lebih berfungsi dari hidungku yang besar ini.

Maka pada suatu hari, saat beberapa isi dadaku seolah-olah ingin pecah seperti ban belakang bis-ku yang kerap kuganti, aku pun bersikeras ingin mencuri perhatiannya di sebuah senin siang yang sibuk itu. Ketika ia memberikan tiketku yang disertai kembalian uangku, aku pun dengan cepat mencari pandang ke arah papan namanya. Dan sungguh, Elianda adalah nama yang memesona. Aku tak begitu saja langsung berlalu. Aku mencoba menyebutkan namaku.

“Apik. Namaku Apik. Senang menemukanmu disini.”

Namun ia tidak membangun jawaban apapun seolah-olah berbicara bukan bagian dari pekerjaannya. Selama ini bahkan aku tidak pernah mendengar bagaimana suaranya saat mengucapkan kata terima kasih.

Tiba-tiba entah apa, aku merasa ia menyesali kepergianku. Aku hanya merasakan itu ketika aku sekejap menemukan matanya dari kaca spion ketika aku berlalu meninggalkan pintu tol. Ia melongokkan kepala ke arah bis-ku yang berjalan pelan menjauh. Di kaca spion sesaat mata kami beradu pandang. Berhari-hari ini menjadi adegan yang tak terlupakan.

2.

Aku telah menduganya. Elianda, perempuan penjaga pintu jalan itu ambil pikir tentangku. Pada suatu pagi yang gerimis, ketika kopi manis belum sempat aku gubris, aku harus mengantarkan orang-orang ke bandara. Di pintu tol tempat ia bekerja, kami kembali berjumpa. Di robekan tiket yang kuterima ada sebuah catatan yang ditulis dengan sebuah tinta berwarna jingga. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami bahwa itu adalah nomor telfon Elianda. Aku yakin itu bukan nomor telfon Jasa Raharja.

3.

Selalu ada banyak cara untuk bahagia. Deretan angka-angka di balik sobekan tiket yang diberikan oleh Elianda membuktikannya. Tapi aku tak pernah mencoba menghubunginya. Aku lebih suka berbicara dengan bertatap muka. Mendengarkan suara tak pernah begitu menyenangkan bagiku. Elianda tampaknya tak memahaminya. Ia tetap diam dengan wajah yang sedatar jalan raya ketika aku singgah di tempatnya. Seolah-olah ia tak pernah memberikan nomor telfon itu kepadaku.

Kini aku mulai berfikir apakah nomor ini benar-benar nomor telfon pimpinan Jasa Raharja. Kalau memang begitu, untuk apakah nomor ini? Aku ingin ia tahu bahwa aku tak pernah bisa melakukan percakapan telfon. Aku selalu kehabisan kata-kata jika melakukannya. Aku sungguh terpesona melihat penumpang bis-ku yang mampu menghabiskan perjalanan dengan menelfon orang lain yang entah dimana. Sementara dengan seseorang di sebelahnya—di dalam bis, tak terjadi percakapan apapun.

4.

Tapi juga selalu ada banyak cara untuk menderita. Misalnya ketika suatu pagi aku tidak menemukan Elianda di pintu tol menuju bandara. Ada perempuan lain disana, yang tidak seistimewa dirinya. Gerangan apakah yang telah terjadi menimpanya?

Aku mungkin bisa menduga-duga bahwa ia sakit atau dipindahkan ke daerah lain. Jika aku sedikit berlebihan, mungkin saja ia frustasi dan berhenti bekerja karena aku tak kunjung menghubunginya. Tapi aku rasa itu tak cukup masuk akal. Maka aku lakukan saja sesuatu yang masuk akal, yaitu menunggu. Aku sudah cukup terbiasa melakukan penungguan seperti yang kerap aku lakukan setiap hari. Tapi menunggu untuk berjumpa Elianda dan melewatkan detik-detik terhebat selama membayar tiket jalan bukanlah hal yang mudah. Waktu begitu berjalan lambat di dalam diriku. Sementara ia tak kunjung ada di pintu jalan itu.

Ketika rindu hampir menjadi batu yang sewaktu-waktu bisa melempari kewarasanku, aku pun memutuskan untuk menanyakan kepastian diri Elianda kepada seorang perempuan bermuka masam yang menggantikan pekerjaannya. Tentu saja aku tak membutuhkan parfum Paris agar informasi bisa aku peroleh dengan manis.

Ia ternyata tak juga tahu pasti. Namun ia hanya menjawab dengan jawaban yang sangat kutakutkan kebenarannya.

“Kalau tidak salah ia jadi korban ledakan kompor gas, mas.” Jawab perempuan bermuka masam itu.

Dengan seluruh sisa doa yang belum sempat aku ajukan kepada tuhan, aku berharap itu hanyalah informasi yang salah. Jika itu benar, apa yang harus aku perbuat? Nasib datang kepadanya dengan cara yang tak se-elok wajahnya. Pekerjaannya yang sekeras jalan layang itu masih bisa kuterima, tapi kematian akibat ledakan kompor sungguh tak bisa aku terima dengan lapang dada. Betapa buruknya cara malaikat menjemputnya. Memang aku katakan bahwa ia layak menjadi bintang sinetron, tapi tak seharusnya ia mati seperti adegan-adegan di sinetron itu juga. Aku tak sanggup lagi menempuh jalan ini jika sudah begini.

5.

Siapa yang harus aku tuding? Begitu banyak penjual gas di kota ini. Harus kemana aku mencari Elianda. Aku hapal seluruh jalan di kota ini. Termasuk jalan tikus dan jalan kucing jika itu memang ada. Tapi aku tak pernah tahu jalan menuju Elianda. Satu-satunya petunjuk tentang dirinya hanya deretan nomor telfon di balik tiket tol yang ia berikan. Aku telah menghubunginya ketika ketakutan memburuku dari semua penjuru. Nomor itu tak bisa dihubungi.

Kini pintu jalan raya di sepanjang kota ini seperti tak memiliki penjaga. Dalam pikiranku, betapa macetnya Jakarta tanpa dirinya. Elianda adalah penguasa jalan raya yang lenyap oleh kompor gas. Wajahnya yang elok kini senasib dengan ayam bakar kecap.

Tidak kutemukan jalan menuju dirinya. Elianda juga bahkan telah menutup sebuah pintu jalan lain yang justru belum sempat aku masuki. Jalan yang membuatku rela membeli berbotol-botol parfum Paris entah ala Padang atau Pasar Minggu. Aku penasaran berapakah harga tiket yang akan ia kenakan kepadaku. Kemanakah pintu jalan itu mesti aku cari. Perlukah aku menelfon sebuah pabrik gas untuk menanyakan pernahkah ia mengantar sebuah gas bocor ke rumah Elianda?

Padang, 2010





LELAKI YANG BERSAYAP

13 09 2010

LELAKI YANG BERSAYAP

Cerpen oleh Arif Rizki

Ia tak merasa dilahirkan. Sejak ia bisa mengingat, ia yakin bahwa tak ada seorangpun yang pernah melahirkannya. Dan memang hingga saat ini ia tak pernah tahu bagaimana harus menjawab siapa ibunya, karena memang sesungguhnya ia tak pernah memiliki ibu seperti yang lainnya.

Ia bersikukuh bahwa ia adalah salah bagian dari malaikat—atau apalah namanya, yang sangat berbeda jauh dengan manusia. Walaupun sebenarnya pada fisiknya tak dapat ditemui sedikitpun perbedaan dari manusia lain kecuali sebuah tato sepasang sayap kecil di punggungnya. Konon itu adalah sebuah bekas sayap yang ia potong sendiri dengan gergaji dan beberapa gunting besar.

Hanya berbekal keinginan yang luar biasa untuk menjadi seorang manusia utuh, Ridwan, yang kemudian mengganti namanya menjadi Orhan, rela memotong sepasang sayap yang biasanya menjadi alat untuk bisa terbang membumbung tinggi laiknya seekor burung. Sayap itu putus begitu saja. Orhan lalu membuangnya ke Sitinjau Laut, sebuah jurang yang dihuni oleh kawanan ular naga. Ia tahu tindakannya itu tak akan mengembalikan lagi sepasang sayap di punggungnya itu. Toh walaupun ia memakan tumbuhan-tumbuhan liar dan asing yang bergelantungan di lembah Anai-anai, tak akan menumbuhkan sayap ajaib itu lagi.

Dengan sedikit rasa sakit di punggung, Orhan berjalan ke hunianya. Ketika luka bekas potongan sayap itu mengering dipunggungnya, di malam harinya, pelan-pelan muncul sebuah goresan yang mirip sekali dengan batik (atau tattoo) yang menciptakan geli di punggungnya yang putih. Pagi harinya, dengan sedikit penasaran, ia dapati di dalam cermin ada sepasang tattoo yang menyerupai sayapnya dulu. Ia tidak merisaukan ini. Sebab sesungguhnya menjadi manusia adalah keinginannya.

Keinginan untuk menjadi manusia sempurna itu sebenarnya telah menjadi bulat ketika suatu kali ia sedang asyik-asyik terbang di langit dan mendapati seorang perempuan tengah berjalan di sebuah jalan yang lengang. Ia memperhatikan gelagat perempuan itu yang di matanya tampak begitu mempesona. Di mata manusia biasa perempuan itu tak ada apa-apanya. Bahkan jika ia merupakan satu-satunya perempuan yang tersisa di dunia, hanya beberapa orang saja yang mau kurang kerjaan dengan menikahi perempuan itu. Namun di mata Orhan ada yang lain di dalam perempuan itu.

Maka tanpa waktu yang panjang, Orhan menyadari ada yang pelan-pelan tumbuh dalam dirinya yang sangat mengagumkan melebihi tumbuh-kembali sepasang sayapnya. Dan ia tak punya padanan kata yang cukup pantas untuk menafsirkan apa yang menjadi tunas itu. Namun alangkah lucu, ia mengikuti kemanapun perempuan itu pergi termasuk ke dalam salon hanya untuk memperhatikan bagaimana perempuan itu mengecat kukunya, membeli buah melon, membayar pajak, mengantre di tempat makan cepat saji atau menyaksikan pertunjukan teater realis yang membosankan. Tapi itu bukan masalah, karena tak ada satupun yang bisa melihat tingkahnya kecuali teman-temannya yang satu klan dengannya. Kebanyakan teman sebangsanya tak mampu menahan geli di perut akibat kekonyolan sikap Orhan, tapi hanya itu satu-satunya obat bagi sesuatu dalam dirinya yang selalu memburu.

Sampai akhirnya suatu malam, ketika awan menurunkan sisa-sisa akhir dari guyuran hujannya, Orhan merasa mantap bahwa ia ingin menjadi manusia. Agar Ice, perempuan itu, bisa menatapnya dan menjelaskan apa yang terjadi di dirinya selama ini. Persyaratan untuk menjadi manusia itu susah-susah gampang dan sangat dilematis; memotong sayap. Dengan memotong sayap, secara otomatis Orhan akan menjadi seorang manusia dan tak akan mampu lagi terbang seenak hatinya.

Dan akhirnya keputusan itu diambil. Ia memotong sayapnya dan membuangnya ke jurang Sitinjau Laut yang penuh ular naga. Dan esoknya ia menjadi seorang manusia biasa.

***

Ice tak sedikitpun percaya pada cerita itu. Walaupun kekasihnya Orhan–sambil memperlihatkan sepasang tattoo sayap kecil di punggungnya, telah berpuluh-puluh kali menceritakan itu kepadanya. Baik saat ia tidur, terjaga, dalam percakapan telfon, sebelum berlibur, di atas kereta dan termasuk setelah mereka bercinta. Ice sendiri memang pernah berangan-angan agar bisa memiliki kekasih yang menyerupai malaikat yang teramat tampan, wangi dan memiliki kemampuan-kemampuan yang fantastis. Bahkan ia memang juga pernah berkali-kali berdoa agar bisa menjadi seorang perempuan yang ada dalam lukisan yang ia pajang di kamarnya. (Lukisan tersebut ia beli dari sebuah galeri seniman lokal yang baru saja naik daun) Lukisan itu berupa seorang perempuan bersayap yang tampak sedang menuju matahari. Namun dengan bekal dua harapan itu tak akan mungkin membuat ia betul-betul diberikan kekasih seorang malaikat oleh Yang Adiluhung.

Penolakannya terhadap cerita Orhan itu cukup beralasan. Orhan sama sekali tidak terlalu tampan. Selain pandai merayu dan sangat mencintai bunga, tak ada lagi yang tersisa yang bisa dibanggakan dari dirinya, apalagi untuk percaya bahwa ia adalah bagian dari kawanan malaikat bersayap. Bahkan jika mau untuk lebih memperhatikan, Orhan terlalu beruntung bisa mendapatkan Ice sebagai kekasihnya.

Tapi siapa yang tidak muak bila Orhan selalu saja menceritakan cerita yang sama kepada Ice, kekasihnya. Jika itu adlah rayuan, mestinya Orhan sadar bahwa rayuan tersebut benar-benar tidak mempan. Jika itu adalah tuntutan agar ia lebih dihargai, sungguh itu adalah tuntutan terkonyol yang pernah ia dengarkan sepanjang jalan hidupnya. Maka dalam tingkat tertinggi kebosanannya akan cerita konyol tentang malaikat itu, Ice mendapatkan sebuah cara agar omong kosong itu punah tak bersisia.

Cara ini sebenarnya terlalu berlebihan, namun akan sangat terlihat anggun jika berhasil.

***

“Apa? Terjun payung? Meloncat dari pesawat? Tidak, tidak, tidak!” pekik Orhan.

“Ini akan jadi hal menyenangkan, bukan?” rayu Ice sambil memperlihatkan sekali lagi voucher terjun payung itu.

“Aku memang jatuh cinta mati kepadamu, tapi bukan berarti seberat ini pengorbananku. Aku takut ketinggian, mestinya kau tahu itu. Aku pernah lihat di DVD, bagaimana mengerikannya naik pesawat. Ada rasa mual, masker oxygen yang bergelantungan di langit-langit, sabuk pengaman, perempuan penjajal pelampung. Tidakkah itu sungguh menakutkan? Apalagi untuk meloncat dari pintu belakang pesawat dan mengeluarkan parasut dari tas.” balas Orhan panik.

“Hei, bukankah kau adalah malaikat? Kau terbiasa terbang melayang-layang, bukan? Seharusnya ini menjadi hal yang sepele buatmu.”  Ice memberi senyum meremehkan.

“Tapi sekarang aku tak lebih dari sekedar manusia biasa. Manusia yang jatuh cinta. Aku tak lagi seorang malaikat bersayap, Ice.”

“Sudahlah. Kalau kau mau aku mengamini semua cerita masa lalumu itu, sebaiknya kau ikut denganku minggu ini.

***

“Kau yakin akan melakukan ini?” dengan gigil Orhan sekali lagi menyigi kepastian dari Ice ketika mereka berada di ketinggian 13.000 kaki dari air laut. Tak lain lagi, ia berharap Ice belum gila dan dapat hidayat yang cukup untuk menyadari bahwa ini adalah tindakan bodoh.

“Aku selalu bersiap-siap.”

“Kalian siap?” teriak seorang lelaki berbaju loreng di bibir pintu pesawat. “Kita akan mulai 10 detik lagi.”

“Kami siap!” teriak Ice sambil memperkuat pelukannya ke tubuh Orhan agar lelaki itu tidak lari.

Dan mereka meloncat.

Orhan mendadak kejang di udara. Air liur berbusa kental menetes dari mulutnya. Tapi itu tak cukup lama, ia disadarkan secara paksa oleh pekik Ice di telinganya.

“Orhan, kita mendekati bumi. Cepat keluarkan sayapmu!” pekik Ice.

“Sayap apa? Aku tak punya sayap. Itu telah kupotong habis. Bukankah sudah kuceritakan padamu berkali-kali.”

“Ayolah, kalau kau memang malaikat ayo tunjukkan sekarang juga. Ini akan menjadi peristiwa paling romantis sepanjang sejarah manusia.”

“Sudah aku katakan padamu, sayang. Aku tak lagi punya sayap.”

“Aku sudah menebaknya. Kau hanya memberikan omong kosong selama ini. untuk merayuku. Hahaha.”

“Tidak, tidak, aku memang benar-benar bukan manusia.

“Tidak, tidak. Kau memang pembual yang cukup beruntung.”

“Aku bukan pembual. Aku bersungguh-sungguh. Ayo keluarkan parasutnya! Kita bisa mati.”

“Tidak akan aku keluarkan. Ini balasan buatmu.”

“Demi Tuhan, Ice. Keluarkan parasutnya!”

“Kita sudah di ketinggian 400 kaki. Tidak akan selamat.”

“Arrghhhhh. Aku mohon. Aku mohon.” Orhan kembali kejang.

“Dasar pembual!” Ice tak dapat menyembunyikan kesalnya dari atas udara. Ia malu dan merasa bodoh kepada bumi yang akan ia injak sebentar lagi. Dengan terpaksa ia lepaskan penutup parasut itu. Lalu seperti layar terkembang, parasut itu mengambang di udara. Namun ada yang tak sengaja lepas, dan itu adalah tali pengikat antara ia dan Orhan. Entah mengapa ini bisa terjadi. Orhan lepas dari rengkuhan perempuan itu. Tak sempat Ice meraih tangannya karena parasut menariknya ke atas sementara Orhan jatuh dengan cepat ke arah tanah yang bertuliskan X.

Lalu terdengar sebuah teriakan yang parau dan panjang.

Dengan tergopoh-gopoh Ice berlari ke arah tanah yang bertuliskan X itu. Tepat di atasnya, Orhan terbaring remuk dan rusak. Tubuhnya saling berlepasan satu sama lainnya.

“Orhan! Orhan!” tak terbendung isak yang tumpah di tanah yang telah menjelma merah itu. “Mengapa kau tak jujur saja bahwa dulu kalau kau memang seorang manusia biasa. Mengapa kau harus selalu membual, Orhan. Aku menyesal, Orhan. Aku menyesal.” Pekiknya dengan suara yang parau. Terisak-isak.

Orhan tak sanggup lagi menjawab. Ice kemudian mengemasi tubuh Orhan yang berantakan. Ia mengemasnya dengan parasut dan membawanya pulang dengan terseok-seok.

Malam harinya, ketika tanah itu menjadi teramat sepi. Tak ada yang menyadari bahwa di antara darah yang telah mengering, ada beberapa lembar bulu-bulu yang menyerupai bulu burung. Hanya beberapa lembar bulu burung.





BABI BUTA

8 09 2010

BABI BUTA
Cerpen oleh Arif Rizki

Aku ingin langsung menembak kepala orang-orang itu saja. Kemudian menendang kepala yang berdarah-darah itu menuju tong sampah seperti menggring bola ke gawang lawan. Sayangnya keinginanku itu tidak dibolehkan.

Sudah hampir lima belas jam aku menanti-nanti peluang untuk maju menghadapi rombongan orang yang melempariku dan timku dengan batu, bom molotov bahkan dengan celana dalam itu. Aku mulai gerah dan lelah. Seandainya ini perperangan, aku ingin sekali berada di garda paling depan. Jika begitu, aku bisa dengan puas dan gagah berani melayani seluruh hasrat berperangku. Akan aku lepaskan seluruh auman macan yang lama kupendam-pendam di dalam diriku. Akan kupukuli lawan dihadapanku satu persatu. Lalu dengan senang hati aku memperlakukan mereka seperti ayam potong yang sudah tak sabar ingin dipanggang untuk lebaran. Tapi sungguh sayang sekali, mereka bukanlah lawan. Mereka adalah orang-orang yang perlu diberi berbagai macam perlindungan.
Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menerima semua perlakuan mereka? Komandanku belum juga memberi gelagat atau isyarat yang kira-kira memerintahkan kami untuk menyerang mereka yang telah dari tadi menyerang kami. “Mereka hanyalah rakyat kecil. Kita bisa dituduh melanggar banyak pasal. Banyak pasal tentang rakyat kecil di negeri ini.” Demikian jawab komandanku setiap kutanyakan apakah sudah saatnya kami ke depan.
Semalam aku dihubungi pukul satu malam. Harus aku katakan bahwa aku paling benci mendapat telpon dari kantor di tengah malam. Sebab aku hanya bisa berduaan dengan istriku secara leluasa hanya di atas pukul dua belas malam. Istriku sering kerja lembur. Sementara aku sering pula dinas malam. Waktu pertemuan kami hanya sedikit. Rumah kami sangat ramai pula. Mertuaku dan tiga orang adik iparku tinggal bersama kami. Hanya tengah hari ketika makan siang dan di tengah malam kami bisa sempurna berduaan. Waktu kami hanya seperti waktu mandi militer yang berada di negara konflik; sangat tipis sekali. Malam itu telpon berdering tiga kali. Aku sudah menebaknya bahwa itu datang dari kantor.
Aku benci menjadi seorang pelayan masyarakat jika sudah begini. Bahkan malam itu istriku belum membalas ciumanku. Bagaimana bisa aku bekerja dengan maksimal tanpa asupan kebutuhan biologis yang memadai?
Kini dalam keadaan yang buruk aku terperangkap sebagai pelayan masyarakat. Sebagai pelayan yang baik aku melayani seluruh keinginan mereka untuk mempermainkan kami. Kami hanya bisa menahan serangan apapun dengan tameng dan helm. Jika sudah agak berlebihan, bagian dari tim akan menyemprotkan semburan air agar mereka sedikit enggan. Namun ternyata bukan hanya suara rakyat saja yang seperti suara tuhan. Sikap mereka pun sudah seperti sikap tuhan.
Sejak awal aku sudah menyangka bahwa permasalahan kepemilikan tanah di negeri ini sangat pelik. Rakyat kecil itu mengaku telah mendiami tanah ini dari ratusan tahun yang lalu. Aku tak tahu apa maksudnya, bahkan waktu itu mereka belum hidup. Sementara pengusaha yang membayar pajak terbanyak itu memiliki surat yang sah atas tanah itu. Sebenarnya pada siapakah tanah itu bertuan? Apa benar tanah bisa dimiliki? Jika begitu, siapa yang memberi izin? Aku yakin tuhan tak kuasa menahan diri untuk tidak menyengir melihat peristiwa ini.
Sebuah kamera diam-diam menyorot wajahku dengan lama. Tampaknya ia memahami bahwa aku sudah merasa sakit berada disini. Sengketa tanah ini tak akan selesai. Menyorot wajahku untuk ditampilkan di koran atau TV tidak akan memberikan hiburan. Atau jangan-jangan wartawan itu tahu apa yang aku pikirkan? Sebab dari dahulu aku curiga bahwa wartawan tampaknya bisa membaca pikiran orang-orang. Mereka terlalu banyak tahu.
Jika memang mereka bisa mengetahui apa yang aku pikirkan, tentu mereka tahu bahwa aku ingin pulang. Jam segini biasanya aku pulang ke rumah untuk makan siang. Sintana, istriku selalu memasak. Aku tidak ada alasan untuk makan di luar rumah. Kadang-kadang rekan-rekanku menertawakanku bahwa aku kesulitan uang sehingga tidak mampu makan di restoran. Mereka menawari beberapa proyek penggelapan uang jika berminat agar aku bisa makan dan mentraktir mereka setiap saat. Aku tidak tahu apakah ketika itu mereka bercanda atau bersungguh-sungguh. Tapi yang jelas, mereka tidak tahu apa rahasia masakan yang dimasak di rumah. Mereka belum mencoba sop ayam buatan Sintana. Siang hari menyantap sop ayam tidaklah terlalu buruk. Biasanya Sintana melengkapi menu dengan samba lado ala Padang dan sayur pucuk ubi kayu yang direbus beserta tangkainya. Semua itu kulahap menggunakan tangan, aku enggan menggunakan sendok untuk masakan Sintana. Ia tahu betul bagaimana cara meredam rasa panas dari masakan itu, ia menghidangkan perasan jeruk dingin tepat ketika suapan terakhirku belum sempurna aku telan. Dalam keadaan kekenyangan Sintana akan membersihkan meja dan memberikan sajian penutup yang luar biasa; bercinta setelah makan siang di atas meja makan.

**
Sebagai aparat tentu aku akan kelihatan bodoh jika aku mengatakan bahwa aku tidak boleh telat makan kepada komandanku. “Jangat bandel! Telat makan itu lebih berbahaya dari perperangan.” Terngiang peringatan sayang dari istriku. Memang dalam keadaan seperti ini, kelaparan adalah perang sesungguhnya. Perut keroncongan terdengar seperti sebuah ledakan.
Aku akui komandanku adalah tipe orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Melakukan penyerangan kepada warga akan membuat nama kami semakin buruk di hadapan orang-orang. Walaupun yang salah sesungguhnya adalah orang-orang itu sendiri. Tapi kami tidak boleh melakukan penyerangan. “Kita hanya bertugas menertibkan. Bukan nyawa mereka yang harus kita hilangkan.” Jawab komandanku ketika lagi-lagi aku menghampirinya dan memburunya dengan pertanyaan apakah tidak sebaiknya kami maju dan memberi mereka sedikit pelajaran.
Tapi aku sudah sangat lelah. Di depan sana ada ribuan orang-orang marah yang bagaikan tupai menjelma serigala karena tersinggung biji kenarinya dicuri dan dipertanyakan dimana mereka mendapatkannya. Aku ingin keluar dari situasi ini. Aku ingin bumi ini meledak saja seperti balon hijau yang selalu meletus di lagu anak-anak. Agar tanah bukan lagi permasalahan. Agar batas bukan lagi sumber keributan.
Aku kira rekan-rekan satu timku juga merasakan hal ini. Mereka tampak bosan atas perlakuan terhadap kami. Menahan rasa naik pitam ternyata bisa mengalihkannya menjadi rasa bosan. Jika saja beberapa orang dari rekanku ini mau sepakat mengabaikan perintah dan menyerang kedepan, aku akan dengan senang hati berada di depan dan menyerang mereka dengan cara yang sama sekali tidak mereka pikirkan. Aku akan menjelma babi yang buta. Babi yang berlari tak tentu arah dan menyerunduk siapapun yang menghalangi jalan. Babi yang buta memang tidak membutuhkan mata untuk melihat dan menilai siapa lawannya. Siapapun tahu bahwa menyerang dengan cara membabi buta adalah ide yang menawan. Apalagi jika aku menggunakan seragam kebanggaanku ini. Kamera-kamera itu akan menjadi saksi bahwa babi yang buta bisa lebih liar dari serigala yang terpaksa berpuasa.
Aku kira inilah saat yang aku nantikan. Aku tak mau lagi membuang waktu untuk sengketa konyol ini. Aku pun mengambil ancang-ancang dan menembus pagar barisan timku. Aku lepasakan seluruh amarah yang kusimpan dalam diriku. Bahkan aku juga menumpahkan amarah terpendam yang tak ada sangkut pautnya untuk masalah ini. Yang jelas aku ingin segera menyerang orang-orang kampung itu dan mengakhiri semua ini. Aku ingin pulang.
Perintah komandan yang menyuruhku untuk kembali ke formasi tidak aku hiraukan lagi. Persetan dengan jabatan dalam keadaan perang. Aku lewati ban-ban yang terbakar. Sekuat mungkin aku hindari batu-batu yang jatuh bagaikan hujan. Aku tahan semua benda-benda tumpul yang mendarat di tubuhku. Di tangan kananku ada pentungan hitam dan tegang. Ini cukup unuk memecahkan kepala mereka. Di tangan kiriku ada perisai yang mampu menahan laju batu bahkan peluru. Akan aku tunjukkan pada mereka bagaimana caraku bekerja.
Mereka, orang-orang kampung itu, tampaknya menyambut baik ajakanku untuk berduel. Mereka maju secara bersamaan dan berteriak-teriak, ada yang menyebut-nyebut nama Tuhan. Aku berhasil memberikan pukulan yang bagus kepada seorang lelaki yang dahuluan datang menyerangku. Ia langsung jatuh dan tergelepar seperti sapi kurban. Aku juga mampu menghajar beberapa orang yang mengepungku. Mereka menyesal telah maju.
Namun tubuhku tak mampu menahan ketika jumlah serangan bertambah. Terlalu banyak pukulan yang datang ke tubuhku. Mataku disilaukan oleh cahaya, aku kira itu adalah cahaya kamera. Aku tidak mampu lagi membalas serangan demi serangan yang datang. Aku tidak tahu apakah rekan-rekanku datang menyelamatkanku. Yang aku tahu aku membiarkan semuanya memukuliku agar aku bisa pulang dan menemui Sintana yang menantiku di meja makan dengan masakan yang telah dingin.
Tiba-tiba mataku kabur dan lututku goyah. Mereka semakin banyak dan menyerangku bertubi-tubi. Ketika aku terjerembab ke tanah, dalam kebisingan, aku mampu mendengar suara. “Hajar saja babi ini sampai mati! Hajar saja babi ini sampai mati!”
Aku tidak tahu pasti dari mana suara itu berasal.

Padang, 2010





Perempuan Pintu Jalan

8 09 2010

1.

Pertemuankami—seperti halnya pertemuan lain di kota ini, terjadi begitu saja. Bukan pertemuan istimewa sesungguhnya. Kepergian dan kepulangan yang aku lakukanlah yang mewujudkannya. Ketika aku pergi atau pulang mengantarkan penumpang antar Pasar Minggu-Bandara Soekarno Hatta, aku mendapati seorang perempuan dalam sebuah kubus batu bata. Ia menjulurkan kepala dari jendela dan menagih tarif tol dengan muka yang sedatar jalan raya. Dengan sisa asap yang penuh di muka, aku membayar tiket tol itu dengan tergesa-gesa. Lalu pertemuan kami berakhir begitusaja. Mungkin di antara kami tak akan memikirkan hal yang sangat begini biasa.

Aku salah. Sepanjang jalan aku memikirkanya. Aku tak habis pikir mengapa perempuan se-elok dirinya bisa bekerja sebagai penagih tarif tol? Dengan mata jernih dan kulit putih yang ia miliki, aku bertaruh ia bisa menjadi seorang peraga busana.Ia mungkin juga bisa menjadi pemeran sinetron yang selalu kutonton saban malam.Tahukah, sinetronlah yang mewakili perasaanku walaupun aku tak pernah sekalipun bermimpi menjadi lelaki kaya raya yang selalu ada di sepanjang ceritanya. Apalagimenjadi lelaki kaya yang buncit dan berkumis menggelikan. Bukan karena penghasilanku yang memang pas-pasan. Aku hanya tak terbiasa. Aku pernah mencoba melakukannya. Aku berjalan-jalan dari mall ke mall, meminjam telfon genggam ternama seorang teman, dan menaiki mobil mewah milik seorang majikan. Aku duduk di belakang seperti bos-bos. Namun tetap saja merasa sebagai orang termiskin didunia.

Aku menyadari bahwa aku tak akan bisa menjadi orang kaya, bahkan walaupun aku menguliti seorang konglomerat dan memakaikannya ke tubuhku. Aku tetap tak bisa bahkan ketika aku hidup di tubuh mereka. Mungkin saja perempuan yang kutemui itu bisa. Tapi apa yang membuatnya menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang penjaga pintu tol? Apakah tawaran nasib yang dimiliki oleh kota ini sedemikian kejamnya untuk perempuan seperti dirinya? Ketika kupercakapkan hal ini dengan kenalanku, seorang perempuan lain yang bekerja di SPBU, ia pun naik pitam.

“Kau pikir hanya perempuan buruk rupa saja yang layak menjadi pekerja kasar dan orang tak berpunya?” ujarnya dengan mata yang berapi-api. Untung saja kami tidak sedang berada di SPBU.

Aku tak pernah lagi membahas masalah ini. Kalau pun aku masih penasaran, aku cukup memikirkannya dalam imajinasiku saja. Ia tak pernah tahu, semenjak pertemuan kami yang biasa itu, aku menjadi seorang sopir yang tidak biasa. Aku mampu mengejar trip perjalanan berkali-kali dalam sehari. Biasanya jatahku hanya dua kali pulang pergi Pasar Minggu-Bandara Soekarno Hatta. Tapi kini aku bersikeras ingin menambah trip perjalananku setidaknya tiga kali pulang-pergi. Aku benar-benar memeras keringat. Tanya saja kepada handuk yang bertahun-tahun ada di pundakku itu. Semua itu kulakukan hanya untuk beberapa detik menemuinya sambil tak henti terpesona dengan selera seni yang dimiliki oleh Tuhan atas ciptaannya ini.

Perempuan itu tak pernah menyadari bahwa aku menaruh mata kepadanya. Ia barangkali tidak pernah ambil pusing tentang bau pesing dari ketiakku ketika mengulurkan selembar uang yang remuk untuk membayar tiketnya itu. Tapi entah mengapa aku yang ambil pusing tentang dirinya. Apalagi ketika kupikirkan mengapa ia tak pernah tersenyum kepadaku saat transaksi antara kami berlansung. Apakah ia memperlakukan hal yang sama kepada seluruh pengendara yang singgah di tempatnya?

Untuk itulah aku membeli sebuah parfum di sebuah toko milik seorang lelaki asal kota Padang di Pasar Minggu. Ia mengatakan bahwa ini adalah parfum Paris. Aku yakin dengan cara ini perempuan itu bisa menandai kedatanganku dan membedakan bauku dengan pengendara lain. Tapi ia tidak pernah peduli. Bahkan ketika aku sudah menghabiskan berbotol-botol parfum Paris. Aku menjadi ragu tentang keaslian parfum ini. Tidak, aku tidak akan menyalahkan indra penciumannya. Aku yakin hidungnya yang kecil itu jauh lebih berfungsi dari hidungku yang besar ini.

Makapada suatu hari, saat beberapa isi dadaku seolah-olah ingin pecah seperti ban belakang bis-ku yang kerap kuganti, aku pun bersikeras ingin mencuri perhatiannya di sebuah senin siang yang sibuk itu. Ketika ia memberikan tiketku yang disertai kembalian uangku, aku pun dengan cepat mencari pandang ke arah papan namanya. Dan sungguh, Elianda adalah nama yang memesona. Aku tak begitu saja langsung berlalu. Aku mencoba menyebutkan namaku.

“Apik.Namaku Apik. Senang menemukanmu disini.”

Namun ia tidak membangun jawaban apapun seolah-olah berbicara bukan bagian dari pekerjaannya. Selama ini bahkan aku tidak pernah mendengar bagaimana suaranya saat mengucapkan kata terima kasih.

Tiba-tiba entah apa, aku merasa ia menyesali kepergianku. Aku hanya merasakan itu ketika aku sekejap menemukan matanya dari kaca spion ketika aku berlalu meninggalkan pintu tol. Ia melongokkan kepala ke arahbis-ku yang berjalan pelan menjauh. Di kaca spion sesaat mata kami beradupandang. Berhari-hari ini menjadi adegan yang tak terlupakan.

2.

Aku telah menduganya. Elianda, perempuan penjaga pintu jalan itu ambil pikir tentangku. Pada suatu pagi yang gerimis, ketika kopi manis belum sempat aku gubris, aku harus mengantarkan orang-orang ke bandara. Di pintu tol tempat ia bekerja, kami kembali berjumpa. Di robekan tiket yang kuterima ada sebuah catatan yang ditulis dengan sebuah tinta berwarna jingga. Tidak butuh waktul ama bagiku untuk memahami bahwa itu adalah nomor telfon Elianda. Aku yakin itu bukan nomor telfon Jasa Raharja.

3.

Selalu ada banyak cara untuk bahagia. Deretan angka-angka di balik sobekan tiket yang diberikan oleh Elianda membuktikannya. Tapi aku tak pernah mencoba menghubunginya. Aku lebih suka berbicara dengan bertatap muka. Mendengarkan suara tak pernah begitu menyenangkan bagiku. Elianda tampaknya tak memahaminya.Ia tetap diam dengan wajah yang sedatar jalan raya ketika aku singgah ditempatnya. Seolah-olah ia tak pernah memberikan nomor telfon itukepadaku.

Kini aku mulai berfikir apakah nomorini benar-benar nomor telfon pimpinan Jasa Raharja. Kalau memang begitu, untuk apakah nomor ini? Aku ingin ia tahu bahwa aku tak pernah bisa melakukanpercakapan telfon. Aku selalu kehabisan kata-kata jika melakukannya. Akusungguh terpesona melihat penumpang bis-ku yang mampu menghabiskan perjalanandengan menelfon orang lain yang entah dimana. Sementara dengan seseorang di sebelahnya—di dalam bis, tak terjadi percakapan apapun.

4.

Tapi juga selalu ada banyak cara untuk menderita. Misalnya ketika suatu pagi aku tidak menemukan Elianda di pintu tol menuju bandara. Ada perempuan lain disana, yang tidak seistimewa dirinya. Gerangan apakah yang telah terjadi menimpanya?

Aku mungkin bisa menduga-duga bahwa ia sakit atau dipindahkan ke daerah lain. Jika aku sedikit berlebihan, mungkin saja ia frustasi dan berhenti bekerja karena aku tak kunjung menghubunginya.Tapi aku rasa itu tak cukup masuk akal. Maka aku lakukan saja sesuatu yan gmasuk akal, yaitu menunggu. Aku sudah cukup terbiasa melakukan penungguan seperti yang kerap aku lakukan setiap hari. Tapi menunggu untuk berjumpa Elianda dan melewatkan detik-detik terhebat selama membayar tiket jalan bukanlah hal yang mudah. Waktu begitu berjalan lambat di dalam diriku. Sementara ia tak kunjung ada di pintu jalan itu.

Ketika rindu hampir menjadi batu yang sewaktu-waktu bisa melempari kewarasanku, aku pun memutuskan untuk menanyakan kepastian diri Elianda kepada seorang perempuan bermuka masam yang menggantikan pekerjaannya. Tentu saja aku tak membutuhkan parfum Paris agar informasi bisa aku peroleh dengan manis.

Ia ternyata tak juga tahu pasti. Namun ia hanya menjawab dengan jawaban yang sangat kutakutkan kebenarannya.

“Kalau tidak salah ia jadi korban ledakan kompor gas, mas.” Jawab perempuan bermuka masam itu.

Dengan seluruh sisa doa yang belum sempat aku ajukan kepada tuhan, aku berharap itu hanyalah informasi yang salah. Jika itu benar, apa yang harus aku perbuat? Nasib datang kepadanya dengan cara yang tak se-elok wajahnya. Pekerjaannya yang sekeras jalan layang itu masih bisa kuterima, tapi kematian akibat ledakankompor sungguh tak bisa aku terima dengan lapang dada. Betapa buruknya cara malaikat menjemputnya. Memang aku katakan bahwa ia layak menjadi bintang sinetron, tapi tak seharusnya ia mati seperti adegan-adegan di sinetron itu juga. Aku tak sanggup lagi menempuh jalan ini jika sudah begini.

5.

Siapa yang harus aku tuding? Begitu banyak penjual gas di kota ini. Harus kemana aku mencari Elianda. Aku hapal seluruh jalan di kota ini. Termasuk jalan tikus dan jalan kucing jika itu memang ada.Tapi aku tak pernah tahu jalan menuju Elianda. Satu-satunya petunjuk tentang dirinya hanya deretan nomor telfon di balik tiket tol yang ia berikan. Aku telah menghubunginya ketika ketakutan memburuku dari semua penjuru. Nomor itu tak bisa dihubungi.

Kini pintu jalan raya di sepanjang kota ini seperti tak memiliki penjaga. Dalam pikiranku, betapa macetnya Jakarta tanpa dirinya. Elianda adalah penguasa jalan raya yang lenyap oleh kompor gas. Wajahnya yang elok kini senasib dengan ayam bakar kecap.

Tidak kutemukan jalan menuju dirinya. Elianda juga bahkan telah menutup sebuah pintu jalan lain yang justru belum sempat aku masuki. Jalan yang membuatku rela membeli berbotol-botol parfum Paris entah ala Padang atau Pasar Minggu. Aku penasaran berapakah harga tiket yang akan ia kenakan kepadaku. Kemanakah pintu jalan itu mesti aku cari. Perlukah aku menelfon sebuah pabrik gas untuk menanyakan pernahkah ia mengantar sebuah gas bocor ke rumah Elianda?

Padang, 2010





Dongeng Manekin

6 03 2009

xmarsuo0i5Lalu yang membuatku selalu bingung ketika melewati jalan ini adalah keberadaan sebuah toko yang memiliki kaca besar yang memungkinkan orang-orang lewat untuk melihat jauh ke dalam toko itu. Awalnya aku merasa biasa saja ketika melewati toko itu, sebab pemandangan orang berjualan sepanjang jalan tak lagi menyisakan sesuatu rasa apapun bagiku. Mungkin juga bagi para pejalan lain. Oh ya, aku memang selalu berjalan. Walaupun jarak antara apartemenku dengan tempat kerja lumayan berjauhan, tapi aku tak berminat bermusuhan dengan jarak. Aku sempat tak ingin memikirkan masalah ruang dan waktu, sebab bagiku sesuatu yang tak nampak memang tak perlu dipermasalahkan. Mengenai ketidaknampakan inilah aku kemudian menyadari ada sesuatu yang selalu terlewatkan ketika aku pulang atau pergi melewati jalan sepanjang emperan pertokoan ini. Aku ingin menceritakannya pada kalian saat ini, tapi ini terlalu cepat.

Baiklah, jangan terlalu mendesak. Aku ingin kalian tahu dulu bahwa aku adalah seorang photographer. Apa pentingnya informasi ini untuk kalian? Sebenarnya cukup penting, sebab fotografi membuatku percaya bahwa masa lalu itu bisa dikepak lalu dipaketkan. Atau terserah saja yang penting sebuah gambar mungkin membuatku percaya bahwa ada masa lalu dan ada juga suatu dunia yang tak ingin kau bicarakan tapi kau tenggelam di dalamnya.

Pekerjaanku sebagai seorang pengabadi gambar membuatku banyak melihat frame-frame hidup. Gambar-gambar itu kemudian menyediakan sebuah spirit atau sebuah perasaan yang bercampur aduk dan tak seorangpun ingin menatanya. Ah, mungkin ini terlalu berat. Tapi yang jelas ia memberiku banyak kesempatan sekaligus juga kesempitan. Misalnya seorang pelacur tua menginginkanku untuk memontretnya agar ia bisa terlihat sedikit lebih muda. Atau seorang lelaki tua yang menyendiri selama berpuluh-puluh tahun memintaku untuk mengambil gambarnya agar ia tahu bahwa ia pernah muda. Kedua pengalaman itu setidaknya memberikan kesimpulan kepadaku bahwa orang selalu ingin melihat masa lalu. Kenangan! Ah ya, kenangan. Itulah kata yang paling disukai semua orang, termasuk aku.

Kenangan itu pulalah yang kemudian memaksaku untuk selalu lewat di sebuah toko berkaca bening yang lebar itu. Ah, aku tak percaya aku menceritakannya.

∞∞∞

Aku melewati jalan utama dan pelan-pelan menuju apartemenku melewati sebuah pertokoan di tepi jalan. Sesuatu, entah apa, aku tak ingin mengingatnya, menarik mataku untuk melirik sebuah toko yang memiliki kaca bening yang luas. Kemudian aku tak ingin mengalihkan pandanganku dari toko itu. Benar-benar menarikku toko itu. Di dalam toko itu aku perhatikan sepasang manekin sedang berpose dengan mengenakan pakaian pengantin. Yang perempuan mengenakan gaun putih dengan aksen biru yang amat lembut. Banyak bunga-bunga di gaun itu. Kemudian yang prianya menggunakan stelan jas dengan dasi coklat. Ah, aku kira selera pakaian mereka amat bertabrakan. Harusnya si pria itu mengimbangi si perembuannya dengan ikut memakai pakaian yang ada aksen biru mudanya. Paling tidak ia tidak akan kelihatan buruk dengan dasi biru yang berwarna lembut. Ia tidak harus menggenggam bunga di tangan kanannya untuk terlihat menggoda perempuannya. Tapi sikapnya dengan tubuh tegap dan tangan kiri di kantong celana itu aku pikir telah memabukkan manekin perempuan itu. Begitulah sistem magnetik lelaki maskulin.

Aku perhatiakan perempuannya dengan seksama. Ia sangat tampak jelita dengan cara berdirinya yang tampak seperti putri di buku cerita bergambar. Wajahnya seperti perempuan yang menunggu. Aku suka dengan tipe perempuan yang menunggu. Itulah getah perempuan yang membuat lawan jenisnya bertahan menjadi laki-laki.

“Bagaimana dengan chaviarnya?” Tanya manekin maskulin itu.

“Tidak buruk. Aku ingin menutupnya dengan segelas wine dengan cherry.”

“Itu ide yang bagus. Tapi kita sudah terlanjur berdiri di sini. Bukankah kita sudah menunggu bulan bersinar seperti itu.” lelaki itu menunjuk ke arah langit. Aku perhatikan langin memang cerah dan bulan tampak sempurna.

“Benar juga. Masih adakah sisa puisi untukku malam ini? ah, perempuan itu memelas. Ia semakin cantik. Aku memotret wajahnya dengan ekpresi itu.

“Aku sudah menyiapkannya untukmu. Bagaimana jika kita mulai dengan sedikit dansa?”

“Kakiku sakit.”

“Bisakah kau tap dance?”

“Itu tarian para buruh. Tak berkelas.”

“Ah, benarkah? Sebentar. Lihat, bulan menambah kekuatan cahayanya. Pernahkah kau dengar dongeng tentang kelinci di bulan?”

“Itu pembicaraan para pendongeng gagal.”

“Mengapa kau selalu bersikap sinis di saat momen yang bagus?”

“Laki-laki selalu tak pernah memahami perempuan.” Sial. Kata-kata itu persis dengan apa yang diucapkan Sintana ketika meninggalakanku.

“Perempuan selalu menjadi rumit. Pernahkah kau dengar seorang ahli jiwa mengatakannya? Jika tidak, aku beri tahu padamu sekarang. Perempuan selau ingin dipahami tapi gagal memahami dirinya sendiri.

“Kau yang gagal. Kau pendongeng yang gagal. Hidupmu pun dongeng yang gagal. Lelaki yang gagal.”

“Tapi apakah aku juga gagal mencuri sesuatu yang berada di dekat jantungmu itu?” itu kata-kataku ketika ketika Sintana menghempas pintu dan pergi memarahi dirinya sendiri. Aku ingat di sebuah pagi yang gigil Sintana tergesa-gesa mengenakan pakaian dan menghempas pintu. Ia mengatakan aku sebaiknya menghentikan dongeng-dongengku.

∞∞∞

Aku memotret pertengkaran di toko itu. Sebenarnya dulu aku juga ingin memotret pertengkaranku dengan Sintana. Untuk bahan kenangan, tapi aku tak sempat mengmabil kameraku ketika itu.

Esoknya aku kembali melewati toko berkaca bening yang lebar itu. Tapi aku melihat sesuatu yang cukup ganjil. Tak ada lagi sepasang manekin itu. eh, bukan. Manekin itu hanya tinggal seorang. Yang perempuan saja. Kemana lelakinya? Aku amati toko pakaian itu dari luar. Namun tak aku dapati lelaki itu.

Aku mendekati manekin perempuan itu. Ada bercak-bercak di bagain dada gaunnya. Aku yakin itu sisa tangis. Ia pasti telah menangis semalaman. Bertambah besarkah pertengkaran mereka semalam? Aku menjadi tak yakin pada pikiranku. Jika benar pertengkaran mereka berujung buruk semalaman tentu telah terjadi sesuatu. Ya, lelaki itu telah pergi. Siapa sebenarnya yang tak mampu memahami antara mereka?

Si lelaki itu pasti pergi untuk meredam pertengkaran itu dan perempuan itu tak mampu menahannya. Aku amati manekin perempuan itu kembali. Ia mengulang tangisnya. Aku tahu sekarang, bahwa perempuan akan tampak konyol tanpa ada laki-laki.

“Seandainya kau mampu membacaku.” Ah, dalam tangis perempuan masih tetap bertahan dengan egoisnya. Seharusnya ia telah lebih dulu memahami manekin laki-laki itu. Aku melihat sebuah benang merah anatara semua perempuan. Ia selalu tampak sulit dan rumit. Namun di saat yang sama ia menganggap laki-laki tak pernah praktis.

Aku kemudian memotret manekin yang kesepian itu. air matanya tak berhenti juga. Aku teringat pada Sintana yang mungkin juga dikepung tangis. aku yakin ia amat menangisi keputusannya menghempas pintu dari rumahku pagi itu.

Aku tinggalkan toko itu dengan sebuah potret kesedihan perempuan. Aku merasa menang dengan kesedihan manekin itu. Meskipun aku juga ikut terharu.

Ketika aku pergi, aku dengar pekik tertahan dari manekin perempuan itu. Suaranya menyerupai suara Sintana. Ia ingin aku kembali dan melakukan sesuatu. Tapi aku berpura-pura tak mendengarnya. Aku mempercepat langkahku dan beberapa waktu kemudian aku telah melewati taman kota dan hendak menuju apartemenku.

Tapi entah kenapa, aku ingin kembali ke tempat manekin itu. Lalu dengan cepat sekali aku berlari menuju toko itu kembali. Keringatku tumpah ruah, tapi aku cukup senang sebab manekin itu masih disana. Tiba-tiba wajahnya mirip sekali dengan Sintana. Aku kemudian memeluknya. Dan mengatakan bahwa aku telah memahaminya. Ia mengatakan akan mencoba memahamiku. Begitulah perempuan.

Kamipun pulang ke apartemenku melewati taman kota. Aku menggendong manekin perempuan itu. Semua orang menatap sinis padaku seperti orang iri. Segera aku tahu bahwa manekin perempuan ini memang teramat catik. Gaunnya yang telah kotor oleh aor mata itu tak mengurangi nilai itu. Ia kelihatan cemberut, mungkin masih shock dengan kesepiannya barusan. Aku berusaha menenangkannya.

“Senyumlah manekinku. Senyumlah Sintana.”

Ia tak menjawab sampai kami tiba di apartemenku. Aku membuka pintu dan menyalakan lampu. Aku lihat semua manekin itu masih di situ. Mereka menungguku. Termasuk sebuah kepala perempuan yang aku pajang di atas pintu.

2009





Binar di Meja Rias

12 02 2009

Binar di Meja Rias
Oleh Arif Rizki

Di meja rias, Binar menemukan dirinya sedang mematuti diri dan bersolek. Dengan sangat pelan ia menggincu delima bibirnya, melukis alis matanya, menggaris pelipis matanya dan menepungi mukanya dengan bedak. Bedak yang sangat mahal tentunya. Dulu bedak itu pernah sangat ia impikan, tapi selayaknya mimpi, Binar tak pernah benar-benar memilikinya. Dan kali ini keadaan amat lain, Binar bisa saja membuang, membakar, dan menghabiskan semua yang ada di meja rias itu. Tak peduli walaupun harganya sungguh teramat mahal. Hanya saja, ketika selesai menghabiskan bedak-bedak itu, Binar harus memperlihatkan raut muka dan polesan bibir itu kepada orang-orang yang sudah menunggunya di luar kamar rias itu. Mereka tentu sudah tidak sabar menunggu Binar dan perempuan lainnya berlenggok di depan mereka untuk kemudian mereka sematkan sebuah mahkota sebagai tanda.
Sebagai tanda? Ya sebagai tanda bahwa salah seorang dari mereka—perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang paling cantik sejagat. Lalu seolah-olah menjadikannya sebagai junjungan mereka. Dan Binar hampir mampu melihat kemilau itu. Kemilau cahaya dari sebuah mahkota dan riuh tepukan kagum dari orang-orang yang menyerupai segerombol kunang-kunang yang menyilaukan matanya.
“Kau sungguh cantik sekali, Binar.” Kalimat itu demikian akrab di telinganya. Semenjak bagian dadanya membusung, kalimat itu kerap didengarnya dari mulut orang-orang di sekitarnya. Dan kalimat itulah yang membawanya kepada meja rias yang mahal ini. Meja rias yang amat sibuk. Semua kemungkinan bisa terjadi dari meja rias ini. Jalan-jalan keluar negri, makan malam dengan pejabat atau bahkan presiden, berfoto dengan orang yang telah lebih dulu terkenal, hingga tidur di hotel mewah dan mendapati kunci mobil baru ketika membuka mata.
Memang semua bisa berawal dari kata cantik dan meja rias ini. Dan sebentar lagi Binar akan menemui kunang-kunang itu. Kunang-kunang yang berkilau. Selayaknya, kilau itu sudah ia dapatkan dari matanya sendiri. Lihatlah matanya di cermin meja rias itu. Matanya yang berbinar indah itulah yang dulu membuat orang tuanya memberinya nama Binar. Dan karena binar mata itu juga kemudian ia sampai di meja rias ini.
Binar tak pernah benar-benar menyadari bahwa matanya seindah kata orang-orang. Tapi ketika ia berkaca di meja rias itu, ia yakin bahwa tak mungkin semua orang yang ia temui serempak untuk berdusta. Namun tentu saja semua orang yang memuji matanya itu tidak tahu apa yang telah ia lihat. Semua orang itu tak akan tahu bahwa mata yang berbinar-binar itu telah menyerupai kepingan piringan hitam yang telah merekam banyak peristiwa pahit dan legam.
***
“Apakah kau akan tetap berangkat?” Tanya ayahnya ketika Binar sibuk mengemas pakaian, parfum murah, syal, kaos kaki belang-belang, buku diary, cd lagu pop ternama dan beberapa keperluan lainnya.
“Hanya ini yang bisa menyelematkan kita, bukan? Jawab Binar.
“Kau benar. Pergilah dan bawa kehidupan itu pulang. Perang akan tetap menyala disini. Bila kau menang, kita akan segera pindah dari tanah ini.” Ketika itu mata ayah Binar serupa pita kaset yang kusut. Pita kaset yang terlalu penuh oleh rekaman kejadian getir dan menyedihkan. Betapa tidak, kalimat ayah Binar itu terucap bersamaan dengan suara ledakan yang tak jauh dari rumah mereka. Suara ledakan yang sudah akrab di telinga mereka semenjak berita-berita di televisi mengoceh tentang sebuah wilayah yang ingin melepasakan diri dari kesatuan Negara. Sehingga perang yang sebelumnya tidak pernah ditanam orang itu mulai tumbuh dan melibatkan semuanya. Melibatkan keluarga Binar. Dan juga melibatkan dirinya.
Matanya yang berbinar-binar itu (atau mata yang penuh rekaman getir itu?) akan ia pertontonkan ke hadapan semua orang begitu ia siap berdandan di meja rias.
“Kau sudah siap?” Tanya seseorang dari balik ruangan sebelah.
“Ya, aku sudah siap.” Jawab Binar seadanya. Sungguh ia benar-benar sudah siap. Kesiapan itu telah lama ia dapatkan. Mungkin di jalanan atau ketika ia melepas lambai kepada tanah kelahirannya. Kesiapan itu yang akan menguatkan hatinya untuk membawa jauh keluarganya dari kecamuk yang melanda tempat tinggalnya.
Ketika Binar keluar dari ruang meja rias itu, bersama para perempuan lainnya ia menuju panggung besar yang sudah terlebih dahulu dipadati oleh orang-orang yang tak ia kenal. Lalu Binar dan para perempaun itu berjalan sedemikian rupa di seputar panggung itu, lalu dengan polesan senyuman yang hampir seragam, mereka berusaha mati-matian untuk meyakinkan beberapa orang di hadapannya yang akan menetukan siapa yang tercantik diantara mereka. Tapi sungguh bukan hanya kecantikan saja yang akan mereka gelar di atas panggung penuh lampu itu. Sebab penentuan mahkota itu bukan hanya muka yang bersahaja, tapi juga tubuh yang molek dan mengkal. Binar bukannya tidak memeram gelisah dengan ini semua. Ia merasa begitu bodoh telah ikut perlombaan ini dengan memajang wajah sedemikian rupa dan memakai pakaian yang sepatutnya ia kenakan ketika turun mandi. Namun kegusaran itu dengan gegas ia tepis karena ia selalu teringat tanah kelahirannya yang sudah menjelma medan perang, dan meskipun musik yang mengiringi panggung itu mengingatkannya pada desing peluru yang tempo hari menyasar dan melobangi dada kiri adiknya.
Kemudian semuanya berlalu cepat. Binar mampu melupakan tanah kelahirannya dimana semua orang menjadi mangsa senapan. Ia melupakan kuburan-kuburan yang tak bernama di kotanya ketika ia memunguti banyak pujian dari orang-orang atas kecantikannya. Dan ia yakin bahwa ajang kecantikan ini tak akan sia-sia.
“Sesungguhnya aku amat benci peristiwa ini.” Ujarnya kepada bayangan dirinya di meja rias itu. “Namun perang saudara itu butuh biaya banyak. Dan perlombaan ini adalah cara terbaik. Karena hanya ini yang membuatku tak perlu banyak berpikir. Aku bahkan hanya perlu memperlihatkan mukaku yang memang sudah menawan kepada semua orang. Esok aku akan berusaha meyakinkan semua juri itu betapa indahnya betisku. Betapa sempurna kakiku. Jika aku menang tentu kaki ini dapat asuransi. Dan wajahku memenuhi televisi.”
“Tapi betapa lucunya semua ini. Orang-orang seperti membodohi tuhan saja. Pada saat kamera itu membidik wajahmu, tidakkah kau merasa bahwa kita sudah memperlombakan rancangan tuhan? Orang-orang itu seperti bersabada saja bahwa manusia harus diberikan nomor. Sebuah nomor yang bermula dari paras muka. Bahkan tuhan saja tak pernah menentukan siapa yang paling rupawan selama ini. Siapakah sebenarnya yang benar-benar berhak menobatkan seseorang sebagai orang tercantik? Tidakkah kita sudah terlampau lancang?” ucap bayangan Binar di cermin meja rias itu. Bayangan di cermin itu benar-benar dirinya. Tapi ia tidak pernah mengucapkan kata-kata itu.
“Kalau kau adalah bagian diriku, tentu kau tahu semua ini ada alasannya, bukan?” ucap Binar dengan getar di bibir kepada bayangannya di cermin itu.
“Pekerjaan konyol ini memang menghasilkan uang. Tapi betapa kau tidak tahu bahwa ini justru menciptakan perang yang lain.” Jawab bayangannya di cermin.
“Perang lain apa maksudmu?”
“Perang yang akan kau mengerti jika kau berpikir amat teliti.”
“Justru ini adalah hasil dari apa yang aku pikirkan. Aku tidak ingin keluargaku menemui kematian lebih cepat dari persiapan. Dan kau tahu, kuburan adikku belum sempat kami berikan kembang dan nisan.”
“Kau akan tahu perang lain yang aku maksudkan itu jika…”
Tapi belum sempat bayangan dirinya itu menyelesaikan kata-kata terbaiknya, Binar melempar cermin itu dengan vas bunga. Ia memecah cermin itu bukan lantaran ia buruk rupa, tapi karena bayangan itu benar-benar menyebalkan. Betapa tidak, selama ini tak ada orang yang berani-beraninya mengguruinya sedemikian rupa. Dan bunyi derai cermin yang pecah itu, ah betapa ia sudah sedemikian karib dengan bebunyian itu.
Di meja rias, Binar dan para perempuan-perempuan itu memang seolah mampu menatap gemintang. Kilau cahaya dari kamera dan lampu-lampu hias itu benar-benar memukau. Itulah kehidupan yang mesti diperebutkan. Hampir seluruh televisi dan halaman koran membicarakan mereka. Berita tentang kota-kota yang mengibarkan bendera lain lalu menyulut perang itu menjadi tak terdengar lagi. Meskipun desing peluru itu masih nyaring.
“Kau jangan pulang dulu. Jadilah bintang di sana lalu selamatkan kami.” Ucap Ibu Binar melaui percakapan telfon.
“Jika memang kau menang, dan berita tentang kami tak terdengar lagi, jangan kau kembali. Pergilah jauh-jauh dari kota yang hampir mati ini.” Potong Ayahnya tak mau ketinggalan.
“Kami akan bangga melihatmu nanti. Kau memang anak kami yang paling jelita.” Sambung Ibunya.
“Ohya, kau tak perlu malu untuk melakukan apa saja jika itu memungkinkan kemenangan. Kami tak bisa membantu banyak disini. Bahkan untuk membeli sayur ke warung sebelah saja kami harus membawa senapan.”
“Aku tahu kau akan menang, Binar. Semua orang juga tahu kau memang berparas menawan. Kau telah mencukupi persyaratan utama perlombaan itu.”
“Lagi pula jika perlombaan itu memang membutuhkan kecerdasan, kau jawablah sebagus mungkin. Kau adalah anak kami yang paling cerdas, Binar. Camkan kata-kata kami, lakukanlah apapun yang memungkinkan kau untuk menang.” Itulah kata terakhir dari Ayahnya, lalu telfon terputus tiba-tiba dari seberang.
***
Seperti perang yang saat ini menjadi-jadi dalam diri Binar, perang di kampungnya sudah lebih dulu meledakkan kecemasan. Semula semua orang merasa aman di tempat itu, tapi entah siapa yang mulai meributkan perbedaan-perbadaan, sehingga perbedaan menjadi duri besar dan teramat runcing yang tumbuh dalam daging. Senjata meletus dimana-mana, orang-orang yang terdekat kemudian menjadi musuh yang berat.
Tidak ada penjual kembang untuk kematian di sana, tapi di sini, di dekat meja rias ini begitu banyak kembang beragam warna dan aroma. Dan sungguh meja rias ini amat menyebalkan. Binar di kepung oleh meja rias di ruangan itu. dan cermin di meja rias itu memantulkan bayangan dirinya yang terkadang menangis dan tertawa besar secara tiba-tiba.
“Kau tidak secantik yang mereka katakan, Binar. Kau telah dibodohi untuk menghibur mata mereka, kau memang bodoh, Binar. Bila kau menjadi ratu kecantikan, lalu apa setelah itu? Kau tak lebih dari seonggok daging berotak bebal. Ah, aku benci mengatakan ini, tapi aku tahu kau bagian dari diriku, maka aku perlu mengatakan ini padamu.” Semua pantulan dirinya di cermin meja rias itu kembali mengguruinya.
Kemudian Binar berteriak-teriak dan mengucapkan kata-kata yang tak jelas. Semua perempuan di ruangan tempat bersolek itu menatapnya dengan raut yang aneh. Seseorang dari mereka mencoba menenangkan Binar, tapi sia-sia. Teriakan Binar semakin menjadi-jadi. Bahkan Binar melempari semua cermin di meja rias itu dengan apa saja dekat dengannya. Para perempuan itu lalu berlarian keluar dan digantikan dengan kedatangan laki-laki berbadan tegap. Lalu Binar diamankan. Mulutnya yang meraung-raung itu kemudian letih dan ia tak sadarkan diri.
“Sayang ya, cantik cantik tapi gila.” Seseorang bergumam, dan Binar entah mendengarnya entah tidak.

Ruangsempit, 2008








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.