Menjadi Tuhan

17 02 2009

lifedu1Ketika arus materailisme yang digawangi oleh Karl Marx berkembang di Jerman di akhir abat 18 meredup, sejarah mencatat sebuah arus pemikiran baru yang dikenal dengan Neo Kantianisme. Banyak filsuf Jerman yang tidak puas dengan ide-ide Materialisme Marx atau Hegel, positivisme Aguste Comte maupun evolosionisme Charles Robert Darwin. Arus pemikiran Neo Kantianisme ini muncul dengan ide untuk kembali kepada filsafat kritis, yang bebas dari spekulasi idealisme serta positivisme dan materialisme yang cenderung dogmatis. Gerakan ini jelas dipelopori oleh para murid Kant seperti Paul Natrop (1854-1924), Heinrich Reickhart (1863-1939), dan Herman Cohen (1842-1918).

Yang paling mencolok dari murid-murid Kant ini adalah Herman Cohen. Salah satu pemikirannya yang fenomenal adalah tentang keyakinannya pada otoritas akal manusia untuk mencipta (to create). Intinya—jika kita hubungkan kepada teologi, baginya tuhan bukan sebagai person, melainkan sebuah resolusi dari semua attitude manusia. Dalam hal ini jelas, apa yang dimaksud Cohen tak lebih dari “tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi tuhan.” Jika kita tetap percaya pada teori evolusi, maka dalam konteks ini evolusi terakhir manusia adalah untuk menjadi tuhan.

Lalu apakah relevansinya terhadap kondisi kekinian?

Mengevaluasi pemikiran Cohen di atas kita bisa mengaitkannya dengan fenomena yang sering terjadi saat ini. Kita barangkali sepakat dengan pemikiran itu bila memperhatikan begitu banyaknya kemunculan aliran sesat yang mengusung para tuhan dan nabi baru. Dengan mengaku mendapat ilham ketika tidur atau bertapa, seseorang bisa saja esoknya mendeklarasikan kepada publik bahwa ia telah ‘dilantik’ menjadi tuhan. Tuhan dan nabi baru itupun bermacam-macam. Ada yang sedikit konvensional dengan tetap memeluk suatu agama—islam misalnya, hanya saja ajarannya sangat menyimpang. Misalnya dengan mengadakan pesta seks dan beribadah sekali seminggu dalam keadaan telanjang. Lalu ada yang teramat radikal, yang membangun sebuah agama baru dan menerbitkan kitab suci baru sebagai panduan hidup bagi para pengikutnya.

Keberadaan tuhan-tuhan baru ini jelas mengaduk-aduk semua kepercayaan yang selama ini kukuh dan dipeluk erat oleh masyarakat. Orang-orang yang berada pada pihak opposisi atau yang selama ini konsisten dengan kepercayaan mereka jelas sangat terguncang dengan peristiwa ini. Dalam perspektif agama manapun, kita tetap akan memandang mereka sebagai sebuah duri dalam jantung.

Kemudian baru-baru ini kita menyaksikan sebuah fenomena baru yang mengguncang keberadaan science; dukun cilik yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dukun cilik yang memiliki batu ajaib ini menggegerkan ilmu kedokteran hanya dengan menyembuhkan ribuan pasien dengan sebuah batu yang ia dapati setelah petir menyambar. Yang mengejutkan adalah, si dukun cilik bahkan tidak memerlukan berbagai macam mantra (seperti dukun kebanyakan) untuk setiap penyakit yang dihadapi. Ia hanya mencelupkan batu ajaibnya itu ke dalam air dengan muka yang less expression. Fenomena ini menunjukkan dua hal kepada kita. Pertama, masyarakat kita masih didominasi oleh masyarakat yang irrasional. Mengenai hal ini mungkin kita bisa sedikit mafhum, karena dari dahulu kita dibesarkan oleh mitos-mitos dan dongeng-dongeng berbau mistis oleh orang tua kita. Kedua, si dukun cilik seolah-olah menggantikan peran tuhan dengan memberikan penawar (walaupun sifatnya plazebo) terhadap penyakit orang-orang kita yang pendek akal. Dan orang-orang yang pendek akal ini kemudian menuhankan si dukun cilik itu. Hingga evolusi itu terjadi.

Kemunculan fenomena-fenomena ini barangkali hanya sebuah permulaan walaupun dari dulu kita juga telah mengenal berbagai macam aliran kepercayaan. Hanya saja kita bisa saja satu pendapat bahwa manusia sangat terdorong untuk menjadi tuhan bila kita mengamati semua fenomena tersebut. Barangkali kehendak untuk menjadi tuhan ini hampir seragam dengan apa yang dikatakan Nietzsche bahwa kehendak manusia adalah untuk berkuasa (the will to power) terhadap yang lainnya. Namun dengan mengamati posisi kita yang berada di tengah-tengah kutub, antara semua isme-isme yang berlaku di kepala kita, barangkali kita hanya membutuhkan satu senjata saja; yaitu critical thingking. Setidaknya hal ini mampu menghumanisasi kita lalu kembali berpikir siapakah yang sebenarnya menciptakan dan yang diciptakan?





The Simulacra of Politic

12 02 2009

Tahun 2009 adalah tahun yang penuh debar. Ruang-ruang publik dan ruang-ruang politik telah bercampur-baur dengan slogan-slogan, spanduk dan poster-poster para elit yang menawarkan berbagai macam tanda yang akhirnya mengarak-arak semuanya kepada sebuah isu simulakra politik yang menawarkan sebuah realitas dimana tanda dan cintra telah terdistorsi, tereduksi, menyimpang, terkikis, bergeser dan kabur dari realitas yang sebenarnya. Kita digiring masuk kedalam sebuah ruang yang penuh alibi, tak ada satupun tersangka di situ.

Simulakra politik dapat dipahami sebagai suatu keadaan dimana realitas kita telah diaduk-aduk oleh tanda-tanda yang mengakibatkan kita mengalami sebuah false consciousness (kesadaran semu). Spanduk-spanduk yang bertebaran di jalan-jalan atau slogan-slogan tentang perubahan dari para elit menjelang Pemilu 2009 ini membuat kita percaya bahwa mereka adalah tokoh protagonist seperti Robin Hood, Superman, Si Pitung atau Jaka Tarub yang muncul sebagai resolusi semua catatan permasalahan dalam hidup. Para ‘hero’ itu mengganti realitas kita dengan sebuah realitas lain dan kita tak menyadari pergantian itu. Baudrillard menggunakan istilah ‘hyper realitas’ untuk kasus seperti ini. Kita dapat melihat banyaknya iklan-iklan politik yang dijadikan sebagai media pencitraan diri para ruller elit. Ada iklan yang menganggap negeri sudah terlalu bobrok sehingga perlu perubahan, ada pula yang malah mengatakan negeri ini telah menggenapi berbagai macam kemajuan dalam bidak ekonomi, sosial maupun kultural, dan ada pula yang menganggap negeri ini sudah terlalu jauh ketinggalan sehingga membutuhkan pahlawan. Iklan-iklan politik inilah yang dimaksud dengan simulakra politik yang mempermainkan realitas kita sehingga kita menerima kenyataan bahwa hiper realitas itu adalah realitas kita sendiri.

Dalam abad informasi yang telanjang ini, tanda dan citra dimainkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks politik, pencitraan-pencitraan sangat efektif untuk mencapai tujuan itu. Permainan tanda-tanda dan citra, membuat kita tak mampu membedakan siapakah sebenaranya penjahat, pencuri, pembunuh ataupun penipu dari wajah-wajah yang tergambar di spanduk-spanduk di seluruh jalan. Sebab semuanya terlihat seperti Superman, Robin Hood dan bahkan menyerupai Jaka Tarub dan Si Pitung. Sehingga pilihan seperti apapun tetap akan membuat kita percaya bahwa merekalah pahlawan kesiangan itu.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.