KEJADIAN PUISI (I)
ia seringkali menyamakan hati seseorang sebagai sebuah sumur.
sumur yang digali entah sesiapa —yang serupa kubur—
di malam hari ketika orang-orang melesap ke dalam dengkur
ada bunyi dan gerak-gerik yang jalin-menjalin namun kabur
di hadapan sumur itu ia diberkati sebuah batu kapur
tanpa ingin menulis aksara yang membaur
ia jatuhkan itu batu kepada kedalaman itu sumur
untuk tahu betapa dalam hati yang bisa diukur
berapa tali kah jarak bisa diulur
bila jatuhan batu tak kunjung dengungkan sebuah bunyi,
sungguh ada jarak yang harus dipahami
di antara sunyi sepanjang jatuhan batu ke dalam hati
sungguh disana ada kejadian puisi
KEJADIAN PUISI (II)
ia membuat sebuah tarian.
ia biarkan dari ujung rambutnya yang tajam
hingga ujung jari kakinya, beralunan,
seperti sedang dirajam.
seperti sedang bepergian,
namun tak membawa badan
ia pergi, namun tak berlari atau berjalan
tapi ada burung-burung yang berlepasan
membentuk keasingan lingkaran
ia menari, namun bukan koreografi.
“ada yang seperti majnun yang ditenun oleh diri sendiri”
ia pergi, namun tak berjalan atau bahkan berlari
ia membubung, tapi menginjak bumi
seperti ada burung-burung; membentuk lingkaran puisi
yang mengajaknya bepergian, membubung tinggi
namun tidak terbang
namun tidak berjalan
namun tidak ah….
KEJADIAN PUISI (III)
semenjak memasukiku, kau memutuskan untuk menjadi dalang
yang mengajarkan tubuhku untuk membedakan mana pergi mana pulang
yang membukakan langkahku untuk paham mana jalan mana lobang
lalu kau kuasai mataku atas seluruh pemandangan
kemudian telingaku yang digemari kebisingan
lidah dan hidungku yang seringkali tak sepaham
serta seluruh badanku yang awam dengan pengertian;
apakah itu gerakan?
air tak pernah ingin menjadi cangkir
kecuali saling menukar takdir
tapi engkau, engkau merupa air yang mengalir
sebagai pemilik seluruh takdir
engkau adalah ibarat atas seluruh yang lahir
dan semenjak memasukiku, engkau langsung menjadi dalang
aku berjalan seperti langkahmu, berucap seperti lidahmu,
mendengarkan seluruh suaramu, mencium aroma darimu
tapi meskipun engkau ada di dalam aku,
tak pernah bisa aku memataimu dengan mataku,
melidahkanmu dengan lidahku, menghidungkanmu
dengan dua lobang hidungku, menelingakan suaramu dengan suaraku.
seluruh pulang dan pergi adalah engkau
yang dekat tapi tak sampai aku jangkau.
Dimuat di Riau Pos, 28/11/10
Arif Rizki, mahasiswa tingkat akhir Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (UNP). Menulis sajak, cerpen, dan esai di berbagai media dan di bukukan dalam beberapa buku antologi. Diundang ke Ubud Writers & Readers Fesitval (UWRF) 2010. Bergiat di Komunitas Sastra Ruang Sempit dan Teater Noktah. Tinggal di Padang.


![Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU] Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU]](http://static.flickr.com/7102/7204258846_3843eb8ecb_t.jpg)
Komentar Terakhir