SEPANJANG JALAN PADANG

24 11 2010

SEPANJANG JALAN PADANG

1.

perjalanan kita hanyalah pelintasan jembatan, pendakian gunung Padang, pantai demi pantai

dan restoran murahan. tapi apa yang membuanya tiba-tiba menjelma kenangan?

aku pernah mengatakan padamu, terbentuk dari apakah kenangan itu.

saat itu sebenarnya aku sedang bertanya dari apakah kenangan itu terbentuk menurutmu.

“mungkin awal mulanya dari pandangan mata kita?”

tapi benarkah mata kita benar-benar pernah bertemu lama?

kau tahu, kenangan tak memberi apa-apa selain ingatan.

sialnya, jalan,jembatan, simpang, restoran dan baliho di kota Padang adalah bagian dari kenangan kita.

aku terpaksa harus mengingatmu tanpa jeda.

 

2.

ya, perjalanan kita hanyalah pantai demi pantai. tapi apakah yang membuat pantai kumuh itu menjelma begitu landai?ombak hanyalah air yang menggulung, langit hanyalah hamparan awan yang murung,

“karena kulihat sesuatu dari matamu, sesuatu yang langit, sesuatu yang laut, sesuatu yang begitu ingin mengajakku untuk tertimbun.sesuatu yang engkau!”

dan aih, ombak ternyata adalah penyair yang suka bergurau. ia berkali-kali menghempaskan debur kecilnya pada percakapan kita, pada wajahmu, pada keterpesonaanku pada matamu, pada rambutmu, pada seluruhmu.

pada seluruhmu.

ombak yang menyentuh wajahmu itu hanyalah air asin.  tapi ia jatuh ke dalam diriku sebagai sesuatu yang lain.

sebagai suatu getar yang entah hangat entah dingin.

saat itu, debur ombak dan debar dada tiba-tiba tak ada bedanya, perempuan. tak ada bedanya.

 

3.

aku mungkin akan mempuisikanmu pada setiap puisiku. menyajakkanmu pada sajakku. mendirikanmu kepada diriku. melihat engkau pada ombak, mengandai engkau pada pantai, mengungkit engkau pada langit. mengangan engkau sepanjang jalan. dan menyeluruhkan engkau pada setiap bagian-bagian kecil dari keseluruhan.

ya, perjalanan kita hanyalah pantai demi pantai, jembatan demi jembatan, terkadang restoran murahan.

kini, aku akan membiarkan engkau tertinggal disana. seperti kutinggalkan laut yang tetap mendeburkan, langit yang membirukan, batu karang yang menahan, jembatan yang mempertemukan dan memutuskan.

selebihnya kubiarkan seluruhnya kembali seperti permulaan, seolah tak pernah ada jembatan yang mempertemukan. seolah tak ada Gunung Padang, seolah tak ada jalan ke pantai Bungus yang penuh lobang, seolah tak ada sajak-sajak yang berlebihan tentang kita yang berlainan.

segalanya akan kembali memulangkan diri. selebihnya akan terperam diam-diam di dalam hati

karena lampu-lampu di sepanjang jembatan, lobang di sepanjang aspal jalan Padang atau pun menu-menu di restoran murahan, akan selalu ada di sana.

yang sudah lama meminta kita untuk saling membiarkan saja.

 

 

Padang, 2010


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.