Aku tak tahu apa mau bocah kecil itu sebenarnya, ia bukanlah burung atau bayi. Yang jelas ia memiliki sayap. Di tangannya sebuah mainan yang berbahaya; busur panah lengkap dengan beberapa pucuk anaknya.
Kita tak menghiraukannya. Sama seperti kita tak menghiraukan pertemuan-pertemuan yang tak terencana.
Tapi ada yang tiba-tiba membuat suasana menjadi sepi saja. Padahal hiruk pikuk sedang membisingkan telinga kota.
Ya, ada dua anak panah yang berlepasan.
Satu menancap di dadaku, satu lagi merasuk ke dalam jantung hatimu.
Kita tiba-tiba mengerti apa arti bertemu.
Dengan dada yang tertancap anak panah, kita menguasai kota dan melengkapi hiruk pikuknya. Bocah kecil bersayap itu tak lagi di tempatnya.
Maka bagaimana kalau kita bergantian mencabuti anak panah yang menusuk itu. aku mencabutmu, engkau mencabutku.
Jangan bergesa-gesa. Aku ingin ia tertancap lebih lama sebenarnya. agar kita punya alasan yang sakit untuk tetap selalu menjaga.
2010




Komentar Terakhir