JEMBATAN

24 10 2010

JEMBATAN

by Arif Rizki on Friday, 22 October 2010 at 15:44


 

ucap seorang penyair, terlalu banyak jembatan di kota ini

dan aku menyadarinya saat aku bertemu engkau di sini

di Jembatan Siti Nurbaya

entah pisang bakar keju itu yang menimbulkan rasa manis

atau sesuatu yang tak pernah ingin kita gubris

 

ya, terlalu banyak jembatan di kota ini

biarkan aku menambah satu bangunan lagi

untuk menuju engkau

agar engkau sampai aku jangkau

 

kau tahu, seperti ada kapal yang sulit menyebrang

seperti ada sesuatu yang sangat mengambang

seperti tiba-tiba aku ingin menjadi anak kapal yang mencari labuhan

dan laut ini kepada engkaulah aku dihantarkan

maukah kau menerima talinya?

 

serta membiarkan muaramu terluka oleh jangkarku yang tajam

menusukmu dengan perhentian yang teramat tanam

 

untuk itulah aku membangun sebuah jembatan

agar ada yang bisa senantiasa dihantarkan

agar ada yang senantiasa bertautan

mungkin akan tiba suatu masa

dimana jembatan tak lagi mempertemukan kita

seperti Jembatan Siti Nurbaya yang mempertemukan—namun juga memisahkan

 

mungkin esok aku akan meruntuhkan bangunan jembatan menuju engkau

dan menyisakan diri kita yang memandang dari kejauhan

sambil menduga-duga

air mata siapakah yang akan tumpah duluan.

 

 

 





DI SOLARIA

22 10 2010

DI SOLARIA

Di Solaria aku menduga-duga pandangan matamu.

Mencari cara agar aku bisa menangkap satu puisi atau bahkan seribu

Engkau bertanya, seperti apakah aku memandangmu?

Aku mengaduk isi cangkirku lebih lama

Untuk menandakan bahwa aku menyukai senyummu yang tertata

Adakah kau menangkapnya?

Aku menyukai semua pesan-pesan pendek yang terjadi di antara kita

Pesan yang membuat hari singkat menjadi jauh lebih panjang

Pesan yang membuat kita berusaha mencari bahan pembicaraan

Untuk sekedar sebentar bertemu mata

Lalu terdiam dan tersenyum di dalam dada

Di Solaria, mungkin kita sedang terjebak permainan sederhana

Permainan yang menyerupai sebuah kencan pertama

Adakah di antara kita sebuah maksud tentang permainan berikutnya?

Atau untuk sekedar membuat permainan sederhana ini sedikit lebih lama?

Di Solaria, di Solaria

Ada yang diam-diam bergelut di dalam dada





Puisi Toilet

2 10 2010

Puisi Toilet
Cerpen oleh Arif Rizki

Ketika cerita ini sampai kepada ibu, semoga ibu dalam keadaan sehat-sehat saja. Saya juga dalam keadaan sehat walafiat. Tapi tidak dengan pikiran saya, maka dari itulah saya memutuskan untuk mengirimi ibu surat ini. Saya tidak tahu lagi harus bercerita kepada siapa. Dari dulu saya terbiasa memendam setiap permasalahan yang datang kepada saya maupun terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya. Tapi kini saya sudah tidak sanggup lagi, bu.
Jujur saya katakan saya baru mengenal ibu. setelah beberapa kali membaca semua nasehat ibu kepada orang-orang yang juga bermasalah dalam hidupnya, membuat saya merasa ibu adalah orang yang tepat untuk memberi saya jalan keluar masalah ini.
Langsung saja ya, bu. Jadi ceritanya begini. Saya adalah seorang istri dari seorang lelaki yang telah menikahi saya selama delapan tahun sembilan bulan lima hari. Kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang lucu sekali. Mirip sekali dengan bapaknya. Kini usianya sudah lima tahun empat bulan. Sebentar lagi akan saya daftarkan ke sekolah.
Saya mengenal suami sekitar sembilan puluh hari sebelum kami menikah. Kami sebenarnya tidak sengaja saling berkenalan. Ketika itu saya sedang bekerja sebagai penyanyi Organ Tunggal yang selalu diundang setiap kali ada perkawinan, acara tujuh-belasan dan acara-acara masyrakat di kampung kami. Malam itu, seingat saya, saya sedang mengisi acara di sebuah pasar malam. Jufri diam-diam memperhatikan saya dari bawah panggung. Ia tidak ikut berjoget dengan orang-orang yang seperti kepayang itu. Sambil mengajak orang-orang untuk naik ke atas panggung, saya sempat menyadari bahwa ia tampak berbeda. Ia sepertinya tidak menikmati pertunjukan saya. Padahal saya yakin lelaki lain sudah terbakar dengan baju kulit palsu berwarna merah darah dan goyangan saya (orang kampung menamai goyangan saya dengan goyangan blender).
Saya yakin ada bola api di kedua bola matanya, bu. Tapi ia tidak mau mengikuti hasutan hatinya untuk ikut melayani hentakan musik dan lagu-lagu yang saya nyanyikan. Ia hanya diam di balik kumis tipisnya itu.
Tapi ketika saya pulang ke rumah seusai pasar malam menjadi lengang, ia ternyata mengikuti saya. Saya kaget ketika tiba-tiba ia muncul di hadapan saya di malam yang sangat sepi itu. di bagian manapun di kampung saya, ketika malam hari, tak bisa dibedakan dengan kuburan. Banyak orang-orang kesepian yang akhirnya menderita sampai kematian mereka tiba disini.


Ia memandang mata saya lekat-lekat. Ia tidak tahu betapa saya sangat ketakutan walaupun diam-diam saya akui dia cukup lumayan. Setidaknya, dia akan membuat para penyanyi kampung lainnya cemburu bila lelaki itu saya ajak jalan-jalan ke kota.
“Suaramu bagus sekali.” Ucapnya seperti seorang pengamat seni.
“Ah, biasa saja. Suaraku pas-pasan kok. Seperti bayarannya.”
“Aku sebenarnya ingin bergoyang, tapi dengan begitu akan tidak bisa dengan seksama meresapi alunan suaramu. Lagipula semua lagu yang kaunyanyikan itu adalah lagu kesukaanku.”
“Namaku Steven.” Ucapnya mengenalkan nama bahkan tanpa aku tanya. Nama itu cocok sekali untuknya. Barangkali dia memang bukan orang kampung sini.
“Aku Sintana.” Ujarku memalsukan nama. Aku harus sedikit menjaga kualitasku. Memberikan nama palsu aku rasa bukanlah sebuah dosa. Jika pun itu sebuah dosa, barangkali itu bukanlah dosa yang terlalu berat.
Malam itu kami tidak hanya berkenalan, bu. Ia langsung mengajak saya berkencan. Entah apa yang sedang saya pikirkan. Mungkin karena bulan bersinar terlalu terang. Saya jadi mudah tergoda. Lagi pula seumur hidup saya belum pernah menginap di hotel. Mungkin saja ini adalah tawaran yang bagus.
Sepertinya saya salah. Di matanya bukanlah bola api, tetapi bulan purnama yang menjadi ganda. Ketika kami bercinta saya lihat tidak ada bulan itu di luar jendela. Malam itu saya putuskan untuk jatuh cinta saja kepadanya, bu.
Ketika pagi hari membangunkan kami, saya lihat ia masih berada di samping saya. Saya pastikan sepasang sepatu saya masih ada di bawah ranjang. Pagi itu saya lelah sekali. Ternyata jatuh cinta cukup melelahkan saya.
Ketika Steven mengantar saya ke rumah kontrakan saya yang mirip kulkas itu—hanya memiliki satu pintu dan satu daun jendela dan kalau malam dingin sekali, ia mengatakan sesuatu kepada saya. Ternyata namanya bukanlah Steven. Namanya yang sebenarnya adalah Jufri. Ia memohon saya tidak kecewa dengan namanya. Sesungguhnya saya sedikit kecewa. Seperti yang sering ibu bilang bahwa setiap hubungan tidak akan berhasil jika diawali dengan kebohongan, mengingatkan saya bahwa ini tidak akan berakhir baik. Akan tetapi saya juga tidak kuasa menyembunyikan rahasia. Saya utarakan juga sebuah rahasia, bahwa nama saya sebenarnya adalah Nurlili, bukan Sintana. Ia tertawa, dan kami cukup bahagia pagi itu sehingga kami tidak perlu sarapan pagi. Ketika itu saya ingat lagi kata-kata, ibu. Akan tetapi jika sebuah hubungan diawali dengan kebongan dari kedua belah pihak, saya rasa itu cukup adil kan? Tidak ada yang dirugikan. Dan itu mungkin saja akan berakir cukup baik.
Hari itu juga Jufri berjanji untuk tidak akan meninggalkan saya, bu. Kalimat ini sudah saya dengar berkali-kali dari banyak lelaki dan telivisi. Tetapi ketika Jufri yang mengatakan itu, ini terasa sangat lain. Tiba-tiba saya merasa bahwa ia bersungguh-sungguh.
Dugaan saya benar. Empat puluh hari setelah peristiwa kecil di pagi hari itu, ia mendatangi saya untuk mengajak menempuh hidup yang sebenarnya. Katanya pernikahan itu adalah ide yang paling bagus. Makanya tuhan menciptakan pernikahan dalam skenario hidup manusia. Ketika saya menikah dengannya, saya hanya mengetahui dua hal saja. Pertama, namanya adalah Jufri Tanjung. Ia tidak suka dengan nama akhirnya, sebab banyak yang mengolok-olok dengan memanggil dirinya dengan sebutan ’Jufri Tanjakan’. Ini tidak pernah lucu bagi saya. Sebab ia kadangkala memang seperti sebuah tanjakan. Tidak mudah untuk mendaki perasaannya. Kedua, saya sangat mencintainya. Kedua hal ini menjadi modal yang cukup bagi saya untuk menerima niat tulusnya. Keseluruhan sifatnya bisa saya wawancarai dan kenali sepanjang usia pernikahan kami yang semoga benar-benar panjang. Mengenali adalah tujuan utama pernikahan, bagi saya.
Ternyata ada hal yang luput bagi saya, bu. Gagasan saya tentang ‘mengenali adalah tujuan utama pernikahan’ seringkali membuat saya terjebak. Menikahinya selama delapan tahun sembilan bulan lima hari ternyata membuat saya tidak kunjung mengenalinya. Banyak hal-hal sepele yang akhirnya menjadi bahan pertengkaran kami sepanjang malam, bahkan berminggu-minggu. Itu hal yang biasa kan, bu? Saya juga menyadari itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Namun kadang saya tidak bisa menahan diri melihat ulahnya. Sehari-hari Jufri bekerja sebagai seorang pengangguran yang merasa kreatif. Setiap hari ia mematuti mesin ketik tuanya di kamar utama rumah kontrakan kami. Ia bekerja sebagai penulis yang tidak jelas kapan menerima gaji. Jufri adalah seorang penyair, bu. Ia menulis puisi untuk dijadikan buku dan diterbitkan di koran serta majalah. Uang yang dihasilkan seperti musim. Kadang bagus kadang tidak. Dan lebih sering tidak. Saya kadang bisa memahami hal ini kadang juga tidak bisa. Dan lebih sering tidak bisa.
Puncak masalah terjadi pada suatu hari ketika saya memperbaiki toilet kami yang sudah beberapa hari tersumbat. Untuk membiayai perbaikannya, saya menggunakan uang yang diberikan oleh Jufri. Semua uang penghasilannnya memang diberikan kepada saya dan sayalah yang mengendalikannya. Biasanya, kemanapun saya habiskan uang itu, ia menerima saja keputusan saya. Tetapi tidak ketika saya katakan bahwa upah perbaikan toilet itu saya bayar dengan honor penerbitan puisinya bulan lalu. Ia marah-marah seperti anak-anak yang dilarang bermain oleh ibunya.
Ia menghempaskan barang-barang. Gelembung air liur berloncatan dari mulutnya seperti peluru yang membidik tepat di hati saya. Hati saya iba sekali, bu.
Katanya, kalau mau memperbaiki toilet pakailah uang yang lain. Honor puisi itu untuk membeli beras. “Kau samakan saja susahnya membuat puisi dengan memperbaiki toilet di kamar mandi.”
Saya katakan bahwa kalaupun saya gunakan uang yang relatif sedikit itu untuk membeli beras, toh akhirnya akan berakhir di toilet juga kan? Lagi pula uang puisi itu tidak cukup kok untuk membeli sekarung beras.
Ia semakin uring-uringan mendengar alasan saya, bu. Ia menangis di hadapan mesin ketik tuanya semalaman. Bagi saya ia tetap saja mirip seperti anak-anak. Apalagi ketika ia menangis, ia hanya menggunakan kain sarung. Ia tampak seperti seorang anak yang menangis sehabis disunat.
Kini apa yang harus saya lakukan, bu? Ia tidak mau bicara dengan saya. Padahal ia tetap saja memakai toilet itu. Sebentar-sebnetar ia ke kamar mandi. Kini tingkahnya lebih aneh lagi, bu. Ia tidak mau berbicara dengan saya. Bahkan saya sudah meminta maaf berkali-kali. Ia juga sering membawa mesin ketiknya ke dalam kamar mandi. Akibat tingkahnya saya terpaksa menumpang ke rumah tetangga untuk mandi dan buang air.
Saya sangat menyesal sekali, bu. Setiap hari, setiap malam, saya mendengar suara gemertak mesin ketik dari dalam kamar mandi. Saya tidak tahu pasti apa yang sedang ia tuliskan. Mungkin saja ia menulis puisi berjudul Toilet Puisi. Mungkin pula ia memutuskan untuk membenci saya saja. Entahlah. Yang jelas, di dalam hati, saya masih sangat menyayanginya, bu. Bahkan diam-diam saya juga telah membuat puisi untuknya. Mungkin saja inilah cara terbaik untuk berbahasa dengannya. Tetapi bagaimana saya bisa lagi berbicara dengannya? Ia masih di dalam kamar mandi. Dan memang, hatinya sangat tinggi dan sulit untuk didaki.

Padang, 2010








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.