MUNGKIN ini adalah bulan ke- lima belas Sintana sakit. Ada sesuatu yang bersarang di kepalanya, kata dokter. Selain pikiran tentang aku, ada yang sudah bertahun-tahun tumbuh di kepalanya. Sesuatu yang membuatnya kini terbaring lemah di kamarnya yang baru saja kuganti warna dindingnya menjadi biru muda. Warna laut. Ia yang memilih warna itu, meskipun aku tak mengerti apa makna laut baginya.
Rambutnya yang panjang dan hitam telah dipangkas habis dari kepalanya. Bibirnya pucat seperti warna langit yang murung. Matanya yang sangat kukagumi itu kini begitu kosong dan cekung. Ada yang hilang dari tatapannya. Tapi ada yang senantiasa tumbuh di hati kami berdua.
Aku menatapnya yang terbaring sambil mencoba kembali mengingat-ingat, betapa semua berlalu begitu cepat. Kadang aku merasa baru saja kemarin memutuskan untuk jatuh cinta kepadanya saat aku menemuinya di sebuah toko buku kecil di kota ini. Saat itu aku mendapatinya terdiam begitu lama, menatap sebuah halaman buku pariwisata. Ia membacanya sambil berdiri. Aku tersenyum geli membayangkan bagaimana ia membuka plastik buku baru tersebut diam-diam. Meskipun pada akhirnya ia tetap memustuskan untuk membeli buku perjalanan itu, tapi sungguh aku geli melihat tingkahnya membuka plastik buku tersebut.
Saat itu, dengan modal kepercayaan diri yang berlebihan pada diriku, aku mencoba mengajaknya berbicara.
“Apa menariknya buku pejalanan itu?” tanyaku sambil berpura-pura mengambil buku perjalanan yang lain. Ia tak menjawab. Ia hanya terdiam dan terpaku pada sebuah halaman buku yang tak kunjung dibaliknya. Setelah itu ia menghembuskan nafas panjang sambil seolah-olah mengucapkan nama tuhan.
“Oh, tuhan…” ujarnya menghembuskan nafasnya lembut. Aku bisa melihat matanya bercahaya.
Tingkahnya ini membuatku semakin penasaran tentang apa yang dipikirkannya. Aku pun mencoba bertanya lagi.
“Tampaknya si penulis berhasil membuatmu terpukau. Jika semua orang di toko buku ini sepertimu, aku yakin buku itu akan jadi best seller.” Ujarku kembali menggodanya.
“Bukan penulisnya, tapi karena apa yang ditulisnya.” Ia akhirnya menanggapi ajakanku berbicara. “Lihat gambar ini!” Ujarnya sambil memperlihatkan padaku sebuah gambar dari buku perjalanan tersebut.
Aku melihatnya dan mengerutkan dahi.
“Ya, bagus. Pemandangan yang bagus.” Jawabku datar.
“Bagus? Segitu saja? Ini luar bisa, tahu nggak. Tak ada tempat seindah ini lagi di dunia.” Ia membalasku dengan mata yang berkaca-kaca. Entah tersinggung karena responku yang datar, entah karena begitu terharu menatap gambar pantai di buku tersebut. Yang jelas, sebenarnya aku hanya tertarik kepada wajahnya dibandingkan buku perjalanan tersebut.
“Ya tempat ini memang bagus. Ini di Hawaii ya?” tanyaku berpura-pura tertarik.
“Oh, tuhan. Kamu kemana saja. Ini Raja Ampat. Pantai terindah yang ada di Indonesia.” Jawabnya berapi-api.
“Oh, ya, ya, ya. Aku tahu. Ini pantai yang di Kalimantan itu kan?” kali ini aku mencoba serius. Aku tertarik dengan cahaya api dari matanya.
“Bukan. Aduh! Ini di Papua. Kamu memang kurang pengetahuan atau pura-pura tak tahu?”
“Haha. Aku hanya pura-pura tak tahu. Tak mungkin aku tak tahu tempat ini.” Ujarku mencoba menyembunyikan ketololanku.
“Semoga kamu benar-benar tahu. Yang jelas tempat ini memang indah. Luar biasa indah. Sangat luar biasa indah. Aku harus kesini suatu saat. Paling nggak sekali saja seumur hidupku.” Ia kali ini serius. Air wajahnya tenang dan dingin. Aku mencoba mencari sesuatu dari matanya. Mencari jawaban tentang apa makna pantai dan laut baginya. Bukankah kota ini juga memiliki pantai. Tapi apa yang membuatnya segitu ingin untuk bepergian kesana.
Aku menatap matanya sambil menyadari bahwa aku tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang tumbuh. Perempuan memang selalu menyukai hal-hal yang unik. Tapi perempuan ini memiliki kesukaan yang lebih unik dan berbeda. Jadi tak terlalu berlebihan jika aku ingin mengajaknya berkenalan. Setidaknya untuk mengetahui namanya. Tapi sepertinya ia tipikal perempuan yang tak menyukai peristiwa jatuh cinta di toko buku.
Ia berlalu meninggalkan toko setelah menyelesaikan tagihannya di kasir. Aku pun mengejarnya agar aku bisa berkenalan. Dan aku menemukan cara yang tepat.
“Hei, kalau kamu mau, aku punya banyak video dan buku tentang pantai favoritmu itu.”
“Benarkah? Berarti kamu sebenarnya memang tahu kan tentang pantai ini?”
“Iya, aku tahu. Aku juga menyukainya. Sama sepertimu, aku juga ingin bisa kesana.”
Ia terkesan mendengar kebohonganku. Ia tersenyum dan mengenalkan namanya.
“Sintana.” ujarnya singkat.
“Orhan.” Aku membalas.
Dan hari itu menjadi permulaan dari semua ini. Malam itu aku menghubungi semua toko buku yang ada di kotaku dan penjual video langgananku. Aku terpaksa harus mencari sebanyak-banyaknya tentang pantai Raja Ampat. Agar ia percaya bahwa aku tak hanya sekedar berbohong untuk bisa mendekatinya. Agar aku punya banyak alasan untuk dekat dengan Sintana. Dan aku tak menyangka bahwakebohonganku harus aku pertanggung jawabkan. Termasuk bahwa sebelum aku melamar Sintana, aku berjanji bahwa aku akan membawanya ke pulau impiannya. Ke pantai impiannya. Raja Ampat.
Waktu ternyata berlalu lebih cepat dari yang semua orang rasakan. Waktu lima tahun perkawinanku dengan Sintana seperti baru lima hari. Di hidungku masih tercium wangi melati di rambutnya saat kami menikah.
Saat ini sudah empat belas bulan lebih ia divonis oleh dokter menderita suatu penyakit yang mematikan. Sudah 437 hari kanker itu bersarang di kepalanya. Ia terbaring lemah dan guyah. Saat perih itu muncul, kadang aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa bahwa ia terlalu sibuk memikirkan aku. Sehingga pikiran tentang aku itu bertumpuk dan menjadi kanker. Cinta memang nama lain dari kanker. Ia selalu tersenyum saat aku mengatakan lelucon itu. Kadang dalam sakit, ia masih berusaha mengatakan bahwa dari dulu aku tetap tak berubah. Selalu suka mengada-ada. Saat ia tersenyum, saat itulah aku menangis. Dengan air mata yang masuk ke dalam.
Minggu lalu dokter mengatakan bahwa penyakit Sintana justru makin parah setelah di operasi. Dokter pun tak mengerti. Satu-satu cara ia harus dibawa berobat ke luar negeri. Aku telah mengusahakan semuanya demi kesembuhan Sintana. Tapi untuk berobat ke luar negeri, aku rasa pekerjaaanku sebagai pegawai negeri sipil belum mampu untuk mengupayakannya. Aku merasa lebih cemas saat ini. Tapi aku tak memberitahukan Sintana tentang apa yang dikatakan dokter. Aku hanya mengatakan bahwa ia perlu terus istirahat dan minum obat.
Saat ia tertidur, ia ternyata terlelap sambil memeluk sebuah album majalah pariwisata yang aku belikan untuknya dulu. Majalah itu terbuka dan aku tahu ia baru saja kembali membaca bagian pantai Raja Ampat yang selalu menjadi impiannya. Ketika itulah aku ingat dengan janji yang sempat aku ucapkan secara sembarangan kepadanya dulu, bahwa bagaimanapun caranya aku akan membawanya kesana, ke pantai Raja Ampat. Setidaknya sebelum ketakutanku terjadi.
Aku pun memiliki semangat baru demi kesembuhan Sintana. Aku berharap, mungkin saja ia bisa lebih sehat jika aku membawanya ke surga impiannya itu. Aku langsung menggadaikan motorku untuk membeli tiket perjalanan, aku mengambil semua sisa tabungan, aku menjual apapun yang memiliki harga tinggi. Aku lupakan keinginanku untuk membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuk Sintana. Sebuah rumah yang memiliki kolam ikan di pekarangan, balkon untuk menatap rembulan, atap yang kokoh dan tak gentar dari panas dan hujan, dinding yang mampu memeluk dan menghangatkan. Aku lupakan semuanya untuk Sintana.
Beberapa hari setelah itu aku bisikkan padanya bahwa aku akan mengajaknya ke suatu tempat.
Ia hanya menuruti semua yang aku katakan. Aku kenakan padanya pakaian yang paling menawan. Lalu aku membawanya ke bandara dan ia bertanya apakah kami akan melakukan perjalanan jauh. Aku jawab dengan mengelus kepalanya yang ditutup kerudung. Ia kembali bertanya hendak dibawa kemana. Tak biasanya ia nyinyir. Ia adalah permpuan yang selalu setuju dengan kata-kataku. Maka kali ini aku memberinya kesempatan. Aku pun menunjukkan tiket perjalanan kami. Setelah membuka dan membacanya, ia hanya menumpahkan air mata. Tangannya terlalu lemah untuk memelukku. Dalam mata yang basah Ia hanya tersenyum, dan aku menganggap itu adalah pelukan paling hangat.
“Kita akan kesana. Ke surgamu.” Ujarku sambil menyeka air matanya dengan tanganku yang kasar. Dan pesawat kami menuju ke timur Indonesia, Raja Ampat, Papua Barat.
***
Ketika kakinya menyentuh pasir putih yang seperti tepung terigu itu, ia tak bisa menyembunyikan bahagia dari wajahnya. Tubuhnya sangat lemah, tapi ia bersikeras ingin bermain air dan menyusuri garis pantai. Aku akui Raja Ampat memang pantai yang hampir menyerupai surga yang ada di pikiran orang-orang. Bukit-bukit yang hijau mengelilingi pantai. Ombaknya lembut. Air laut nya bening, seolah-olah ingin menunjukkan kepada siapapun yang ada disana bahwa ia memiliki dasar yang sangat cantik.
Ia tampak sangat sehat ketika aku mengajaknya bermain air. Tiba-tiba aku merasa bahwa ia tak pernah sakit. Tiba-tiba pula aku merasa bahwa kami masih berusia sangat muda, ini seperti kencan petama kami dahulu. Entah mengapa, saat itu aku memahami apa makna laut bagi Sintana. Aku mengeti bahwa ada yang ingin ditempuhnya dari lautan itu. Laut adalah kebebesan baginya.
Matahari tenggelam di Raja Ampat. Horizon menjelma warna merah dan berangsur-angsur gelap. Aku kembali menyadari bahwa Sintana tak akan mampu bertahan lebih lama. Meskipun sebenarnya aku belum tahu apakah aku siap melihat cahaya mata Sintana menjelma senja lalu kelam.
Mungkin kami akan disini sampai Sintana pergi ke laut. Dan suatu saat aku juga akan menyusulnya.
28/09/10
-Padang-
untuk Ice Yolanda
“Aku berjanji akan membawamu kesana.”



![Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU] Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU]](http://static.flickr.com/7102/7204258846_3843eb8ecb_t.jpg)
hm.. uni baca cerpen ini tadi malem… GO!! go!! uda’…
sangat menyentuh hati’ku. “impian” kata yang sulit untuk terwujud.