LELAKI YANG BERSAYAP

13 09 2010

LELAKI YANG BERSAYAP

Cerpen oleh Arif Rizki

Ia tak merasa dilahirkan. Sejak ia bisa mengingat, ia yakin bahwa tak ada seorangpun yang pernah melahirkannya. Dan memang hingga saat ini ia tak pernah tahu bagaimana harus menjawab siapa ibunya, karena memang sesungguhnya ia tak pernah memiliki ibu seperti yang lainnya.

Ia bersikukuh bahwa ia adalah salah bagian dari malaikat—atau apalah namanya, yang sangat berbeda jauh dengan manusia. Walaupun sebenarnya pada fisiknya tak dapat ditemui sedikitpun perbedaan dari manusia lain kecuali sebuah tato sepasang sayap kecil di punggungnya. Konon itu adalah sebuah bekas sayap yang ia potong sendiri dengan gergaji dan beberapa gunting besar.

Hanya berbekal keinginan yang luar biasa untuk menjadi seorang manusia utuh, Ridwan, yang kemudian mengganti namanya menjadi Orhan, rela memotong sepasang sayap yang biasanya menjadi alat untuk bisa terbang membumbung tinggi laiknya seekor burung. Sayap itu putus begitu saja. Orhan lalu membuangnya ke Sitinjau Laut, sebuah jurang yang dihuni oleh kawanan ular naga. Ia tahu tindakannya itu tak akan mengembalikan lagi sepasang sayap di punggungnya itu. Toh walaupun ia memakan tumbuhan-tumbuhan liar dan asing yang bergelantungan di lembah Anai-anai, tak akan menumbuhkan sayap ajaib itu lagi.

Dengan sedikit rasa sakit di punggung, Orhan berjalan ke hunianya. Ketika luka bekas potongan sayap itu mengering dipunggungnya, di malam harinya, pelan-pelan muncul sebuah goresan yang mirip sekali dengan batik (atau tattoo) yang menciptakan geli di punggungnya yang putih. Pagi harinya, dengan sedikit penasaran, ia dapati di dalam cermin ada sepasang tattoo yang menyerupai sayapnya dulu. Ia tidak merisaukan ini. Sebab sesungguhnya menjadi manusia adalah keinginannya.

Keinginan untuk menjadi manusia sempurna itu sebenarnya telah menjadi bulat ketika suatu kali ia sedang asyik-asyik terbang di langit dan mendapati seorang perempuan tengah berjalan di sebuah jalan yang lengang. Ia memperhatikan gelagat perempuan itu yang di matanya tampak begitu mempesona. Di mata manusia biasa perempuan itu tak ada apa-apanya. Bahkan jika ia merupakan satu-satunya perempuan yang tersisa di dunia, hanya beberapa orang saja yang mau kurang kerjaan dengan menikahi perempuan itu. Namun di mata Orhan ada yang lain di dalam perempuan itu.

Maka tanpa waktu yang panjang, Orhan menyadari ada yang pelan-pelan tumbuh dalam dirinya yang sangat mengagumkan melebihi tumbuh-kembali sepasang sayapnya. Dan ia tak punya padanan kata yang cukup pantas untuk menafsirkan apa yang menjadi tunas itu. Namun alangkah lucu, ia mengikuti kemanapun perempuan itu pergi termasuk ke dalam salon hanya untuk memperhatikan bagaimana perempuan itu mengecat kukunya, membeli buah melon, membayar pajak, mengantre di tempat makan cepat saji atau menyaksikan pertunjukan teater realis yang membosankan. Tapi itu bukan masalah, karena tak ada satupun yang bisa melihat tingkahnya kecuali teman-temannya yang satu klan dengannya. Kebanyakan teman sebangsanya tak mampu menahan geli di perut akibat kekonyolan sikap Orhan, tapi hanya itu satu-satunya obat bagi sesuatu dalam dirinya yang selalu memburu.

Sampai akhirnya suatu malam, ketika awan menurunkan sisa-sisa akhir dari guyuran hujannya, Orhan merasa mantap bahwa ia ingin menjadi manusia. Agar Ice, perempuan itu, bisa menatapnya dan menjelaskan apa yang terjadi di dirinya selama ini. Persyaratan untuk menjadi manusia itu susah-susah gampang dan sangat dilematis; memotong sayap. Dengan memotong sayap, secara otomatis Orhan akan menjadi seorang manusia dan tak akan mampu lagi terbang seenak hatinya.

Dan akhirnya keputusan itu diambil. Ia memotong sayapnya dan membuangnya ke jurang Sitinjau Laut yang penuh ular naga. Dan esoknya ia menjadi seorang manusia biasa.

***

Ice tak sedikitpun percaya pada cerita itu. Walaupun kekasihnya Orhan–sambil memperlihatkan sepasang tattoo sayap kecil di punggungnya, telah berpuluh-puluh kali menceritakan itu kepadanya. Baik saat ia tidur, terjaga, dalam percakapan telfon, sebelum berlibur, di atas kereta dan termasuk setelah mereka bercinta. Ice sendiri memang pernah berangan-angan agar bisa memiliki kekasih yang menyerupai malaikat yang teramat tampan, wangi dan memiliki kemampuan-kemampuan yang fantastis. Bahkan ia memang juga pernah berkali-kali berdoa agar bisa menjadi seorang perempuan yang ada dalam lukisan yang ia pajang di kamarnya. (Lukisan tersebut ia beli dari sebuah galeri seniman lokal yang baru saja naik daun) Lukisan itu berupa seorang perempuan bersayap yang tampak sedang menuju matahari. Namun dengan bekal dua harapan itu tak akan mungkin membuat ia betul-betul diberikan kekasih seorang malaikat oleh Yang Adiluhung.

Penolakannya terhadap cerita Orhan itu cukup beralasan. Orhan sama sekali tidak terlalu tampan. Selain pandai merayu dan sangat mencintai bunga, tak ada lagi yang tersisa yang bisa dibanggakan dari dirinya, apalagi untuk percaya bahwa ia adalah bagian dari kawanan malaikat bersayap. Bahkan jika mau untuk lebih memperhatikan, Orhan terlalu beruntung bisa mendapatkan Ice sebagai kekasihnya.

Tapi siapa yang tidak muak bila Orhan selalu saja menceritakan cerita yang sama kepada Ice, kekasihnya. Jika itu adlah rayuan, mestinya Orhan sadar bahwa rayuan tersebut benar-benar tidak mempan. Jika itu adalah tuntutan agar ia lebih dihargai, sungguh itu adalah tuntutan terkonyol yang pernah ia dengarkan sepanjang jalan hidupnya. Maka dalam tingkat tertinggi kebosanannya akan cerita konyol tentang malaikat itu, Ice mendapatkan sebuah cara agar omong kosong itu punah tak bersisia.

Cara ini sebenarnya terlalu berlebihan, namun akan sangat terlihat anggun jika berhasil.

***

“Apa? Terjun payung? Meloncat dari pesawat? Tidak, tidak, tidak!” pekik Orhan.

“Ini akan jadi hal menyenangkan, bukan?” rayu Ice sambil memperlihatkan sekali lagi voucher terjun payung itu.

“Aku memang jatuh cinta mati kepadamu, tapi bukan berarti seberat ini pengorbananku. Aku takut ketinggian, mestinya kau tahu itu. Aku pernah lihat di DVD, bagaimana mengerikannya naik pesawat. Ada rasa mual, masker oxygen yang bergelantungan di langit-langit, sabuk pengaman, perempuan penjajal pelampung. Tidakkah itu sungguh menakutkan? Apalagi untuk meloncat dari pintu belakang pesawat dan mengeluarkan parasut dari tas.” balas Orhan panik.

“Hei, bukankah kau adalah malaikat? Kau terbiasa terbang melayang-layang, bukan? Seharusnya ini menjadi hal yang sepele buatmu.”  Ice memberi senyum meremehkan.

“Tapi sekarang aku tak lebih dari sekedar manusia biasa. Manusia yang jatuh cinta. Aku tak lagi seorang malaikat bersayap, Ice.”

“Sudahlah. Kalau kau mau aku mengamini semua cerita masa lalumu itu, sebaiknya kau ikut denganku minggu ini.

***

“Kau yakin akan melakukan ini?” dengan gigil Orhan sekali lagi menyigi kepastian dari Ice ketika mereka berada di ketinggian 13.000 kaki dari air laut. Tak lain lagi, ia berharap Ice belum gila dan dapat hidayat yang cukup untuk menyadari bahwa ini adalah tindakan bodoh.

“Aku selalu bersiap-siap.”

“Kalian siap?” teriak seorang lelaki berbaju loreng di bibir pintu pesawat. “Kita akan mulai 10 detik lagi.”

“Kami siap!” teriak Ice sambil memperkuat pelukannya ke tubuh Orhan agar lelaki itu tidak lari.

Dan mereka meloncat.

Orhan mendadak kejang di udara. Air liur berbusa kental menetes dari mulutnya. Tapi itu tak cukup lama, ia disadarkan secara paksa oleh pekik Ice di telinganya.

“Orhan, kita mendekati bumi. Cepat keluarkan sayapmu!” pekik Ice.

“Sayap apa? Aku tak punya sayap. Itu telah kupotong habis. Bukankah sudah kuceritakan padamu berkali-kali.”

“Ayolah, kalau kau memang malaikat ayo tunjukkan sekarang juga. Ini akan menjadi peristiwa paling romantis sepanjang sejarah manusia.”

“Sudah aku katakan padamu, sayang. Aku tak lagi punya sayap.”

“Aku sudah menebaknya. Kau hanya memberikan omong kosong selama ini. untuk merayuku. Hahaha.”

“Tidak, tidak, aku memang benar-benar bukan manusia.

“Tidak, tidak. Kau memang pembual yang cukup beruntung.”

“Aku bukan pembual. Aku bersungguh-sungguh. Ayo keluarkan parasutnya! Kita bisa mati.”

“Tidak akan aku keluarkan. Ini balasan buatmu.”

“Demi Tuhan, Ice. Keluarkan parasutnya!”

“Kita sudah di ketinggian 400 kaki. Tidak akan selamat.”

“Arrghhhhh. Aku mohon. Aku mohon.” Orhan kembali kejang.

“Dasar pembual!” Ice tak dapat menyembunyikan kesalnya dari atas udara. Ia malu dan merasa bodoh kepada bumi yang akan ia injak sebentar lagi. Dengan terpaksa ia lepaskan penutup parasut itu. Lalu seperti layar terkembang, parasut itu mengambang di udara. Namun ada yang tak sengaja lepas, dan itu adalah tali pengikat antara ia dan Orhan. Entah mengapa ini bisa terjadi. Orhan lepas dari rengkuhan perempuan itu. Tak sempat Ice meraih tangannya karena parasut menariknya ke atas sementara Orhan jatuh dengan cepat ke arah tanah yang bertuliskan X.

Lalu terdengar sebuah teriakan yang parau dan panjang.

Dengan tergopoh-gopoh Ice berlari ke arah tanah yang bertuliskan X itu. Tepat di atasnya, Orhan terbaring remuk dan rusak. Tubuhnya saling berlepasan satu sama lainnya.

“Orhan! Orhan!” tak terbendung isak yang tumpah di tanah yang telah menjelma merah itu. “Mengapa kau tak jujur saja bahwa dulu kalau kau memang seorang manusia biasa. Mengapa kau harus selalu membual, Orhan. Aku menyesal, Orhan. Aku menyesal.” Pekiknya dengan suara yang parau. Terisak-isak.

Orhan tak sanggup lagi menjawab. Ice kemudian mengemasi tubuh Orhan yang berantakan. Ia mengemasnya dengan parasut dan membawanya pulang dengan terseok-seok.

Malam harinya, ketika tanah itu menjadi teramat sepi. Tak ada yang menyadari bahwa di antara darah yang telah mengering, ada beberapa lembar bulu-bulu yang menyerupai bulu burung. Hanya beberapa lembar bulu burung.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.