PADA AKHIRNYA AKU AKAN MATI DI LAUT

28 09 2010

photo by: http://www.adventurequestproductions.com/raja-ampat.html

MUNGKIN ini adalah bulan ke- lima belas Sintana sakit. Ada sesuatu yang bersarang di kepalanya, kata dokter. Selain pikiran tentang aku, ada yang sudah bertahun-tahun tumbuh di kepalanya. Sesuatu yang membuatnya kini terbaring lemah di kamarnya yang baru saja kuganti warna dindingnya menjadi biru muda. Warna laut. Ia yang memilih warna itu, meskipun aku tak mengerti apa makna laut baginya.

Rambutnya yang panjang dan hitam telah dipangkas habis dari kepalanya. Bibirnya pucat seperti warna langit yang murung. Matanya yang sangat kukagumi itu kini begitu kosong dan cekung. Ada yang hilang dari tatapannya. Tapi ada yang senantiasa tumbuh di hati kami berdua.

Aku menatapnya yang terbaring sambil mencoba kembali mengingat-ingat, betapa semua berlalu begitu cepat. Kadang aku merasa baru saja kemarin memutuskan untuk jatuh cinta kepadanya saat aku menemuinya di sebuah toko buku kecil di kota ini. Saat itu aku mendapatinya terdiam begitu lama, menatap sebuah halaman buku pariwisata. Ia membacanya sambil berdiri. Aku tersenyum geli membayangkan bagaimana ia membuka plastik buku baru tersebut diam-diam. Meskipun pada akhirnya ia tetap memustuskan untuk membeli buku perjalanan itu, tapi sungguh aku geli melihat tingkahnya membuka plastik buku tersebut.

Saat itu, dengan modal kepercayaan diri yang berlebihan pada diriku, aku mencoba mengajaknya berbicara.

“Apa menariknya buku pejalanan itu?” tanyaku sambil berpura-pura mengambil buku perjalanan yang lain. Ia tak menjawab. Ia hanya terdiam dan terpaku pada sebuah halaman buku yang tak kunjung dibaliknya. Setelah itu ia menghembuskan nafas panjang sambil seolah-olah mengucapkan nama tuhan.

“Oh, tuhan…” ujarnya menghembuskan nafasnya lembut. Aku bisa melihat matanya bercahaya.

Tingkahnya ini membuatku semakin penasaran tentang apa yang dipikirkannya. Aku pun mencoba bertanya lagi.

“Tampaknya si penulis berhasil membuatmu terpukau. Jika semua orang di toko buku ini sepertimu, aku yakin buku itu akan jadi best seller.” Ujarku kembali menggodanya.

“Bukan penulisnya, tapi karena apa yang ditulisnya.” Ia akhirnya menanggapi ajakanku berbicara. “Lihat gambar ini!” Ujarnya sambil memperlihatkan padaku sebuah gambar dari buku perjalanan tersebut.

Aku melihatnya dan mengerutkan dahi.

“Ya, bagus. Pemandangan yang bagus.” Jawabku datar.

“Bagus? Segitu saja? Ini luar bisa, tahu nggak. Tak ada tempat seindah ini lagi di dunia.” Ia membalasku dengan mata yang berkaca-kaca. Entah tersinggung karena responku yang datar, entah karena begitu terharu menatap gambar pantai di buku tersebut. Yang jelas, sebenarnya aku hanya tertarik kepada wajahnya dibandingkan buku perjalanan tersebut.

“Ya tempat ini memang bagus. Ini di Hawaii ya?” tanyaku berpura-pura tertarik.

“Oh, tuhan. Kamu kemana saja. Ini Raja Ampat. Pantai terindah yang ada di Indonesia.” Jawabnya berapi-api.

“Oh, ya, ya, ya. Aku tahu. Ini pantai yang di Kalimantan itu kan?” kali ini aku mencoba serius. Aku tertarik dengan cahaya api dari matanya.

“Bukan. Aduh! Ini di Papua. Kamu memang kurang pengetahuan atau pura-pura tak tahu?”

“Haha. Aku hanya pura-pura tak tahu. Tak mungkin aku tak tahu tempat ini.” Ujarku mencoba menyembunyikan ketololanku.

“Semoga kamu benar-benar tahu. Yang jelas tempat ini memang indah. Luar biasa indah. Sangat luar biasa indah. Aku harus kesini suatu saat. Paling nggak sekali saja seumur hidupku.” Ia kali ini serius. Air wajahnya tenang dan dingin. Aku mencoba mencari sesuatu dari matanya. Mencari jawaban tentang apa makna pantai dan laut baginya. Bukankah kota ini juga memiliki pantai. Tapi apa yang membuatnya segitu ingin untuk bepergian kesana.

Aku menatap matanya sambil menyadari bahwa aku tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang tumbuh. Perempuan memang selalu menyukai hal-hal yang unik. Tapi perempuan ini memiliki kesukaan yang lebih unik dan berbeda. Jadi tak terlalu berlebihan jika aku ingin mengajaknya berkenalan. Setidaknya untuk mengetahui namanya. Tapi sepertinya ia tipikal perempuan yang tak menyukai peristiwa jatuh cinta di toko buku.

Ia berlalu meninggalkan toko setelah menyelesaikan tagihannya di kasir. Aku pun mengejarnya agar aku bisa berkenalan. Dan aku menemukan cara yang tepat.

“Hei, kalau kamu mau, aku punya banyak video dan buku tentang pantai favoritmu itu.”

“Benarkah? Berarti kamu sebenarnya memang tahu kan tentang pantai ini?”

“Iya, aku tahu. Aku juga menyukainya. Sama sepertimu, aku juga ingin bisa kesana.”

Ia terkesan mendengar kebohonganku. Ia tersenyum dan mengenalkan namanya.

“Sintana.” ujarnya singkat.

“Orhan.” Aku membalas.

Dan hari itu menjadi permulaan dari semua ini. Malam itu aku menghubungi semua toko buku yang ada di kotaku dan penjual video langgananku. Aku terpaksa harus mencari sebanyak-banyaknya tentang pantai Raja Ampat. Agar ia percaya bahwa aku tak hanya sekedar berbohong untuk bisa mendekatinya. Agar aku punya banyak alasan untuk dekat dengan Sintana. Dan aku tak menyangka bahwakebohonganku harus aku pertanggung jawabkan. Termasuk bahwa sebelum aku melamar Sintana, aku berjanji bahwa aku akan membawanya ke pulau impiannya. Ke pantai impiannya. Raja Ampat.

Waktu ternyata berlalu lebih cepat dari yang semua orang rasakan. Waktu lima tahun perkawinanku dengan Sintana seperti baru lima hari. Di hidungku masih tercium wangi melati di rambutnya saat kami menikah.

Saat ini sudah empat belas bulan lebih ia divonis oleh dokter menderita suatu penyakit yang mematikan. Sudah 437 hari kanker itu bersarang di kepalanya. Ia terbaring lemah dan guyah. Saat perih itu muncul, kadang aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa bahwa ia terlalu sibuk memikirkan aku. Sehingga pikiran tentang aku itu bertumpuk dan menjadi kanker. Cinta memang nama lain dari kanker. Ia selalu tersenyum saat aku mengatakan lelucon itu. Kadang dalam sakit, ia masih berusaha mengatakan bahwa dari dulu aku tetap tak berubah. Selalu suka mengada-ada. Saat ia tersenyum, saat itulah aku menangis. Dengan air mata yang masuk ke dalam.

Minggu lalu dokter mengatakan bahwa penyakit Sintana justru makin parah setelah di operasi. Dokter pun tak mengerti. Satu-satu cara ia harus dibawa berobat ke luar negeri. Aku telah mengusahakan semuanya demi kesembuhan Sintana. Tapi untuk berobat ke luar negeri, aku rasa pekerjaaanku sebagai pegawai negeri sipil belum mampu untuk mengupayakannya. Aku merasa lebih cemas saat ini. Tapi aku tak memberitahukan Sintana tentang apa yang dikatakan dokter. Aku hanya mengatakan bahwa ia perlu terus istirahat dan minum obat.

Saat ia tertidur, ia ternyata terlelap sambil memeluk sebuah album majalah pariwisata yang aku belikan untuknya dulu. Majalah itu terbuka dan aku tahu ia baru saja kembali membaca bagian pantai Raja Ampat yang selalu menjadi impiannya. Ketika itulah aku ingat dengan janji yang sempat aku ucapkan secara sembarangan kepadanya dulu, bahwa bagaimanapun caranya aku akan membawanya kesana, ke pantai Raja Ampat. Setidaknya sebelum ketakutanku terjadi.

Aku pun memiliki semangat baru demi kesembuhan Sintana. Aku berharap, mungkin saja ia bisa lebih sehat jika aku membawanya ke surga impiannya itu. Aku langsung menggadaikan motorku untuk membeli tiket perjalanan, aku mengambil semua sisa tabungan, aku menjual apapun yang memiliki harga tinggi. Aku lupakan keinginanku untuk membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuk Sintana. Sebuah rumah yang memiliki kolam ikan di pekarangan, balkon untuk menatap rembulan, atap yang kokoh dan tak gentar dari panas dan hujan, dinding yang mampu memeluk dan menghangatkan. Aku lupakan semuanya untuk Sintana.

Beberapa hari setelah itu aku bisikkan padanya bahwa aku akan mengajaknya ke suatu tempat.

Ia hanya menuruti semua yang aku katakan. Aku kenakan padanya pakaian yang paling menawan. Lalu aku membawanya ke bandara dan ia bertanya apakah kami akan melakukan perjalanan jauh. Aku jawab dengan mengelus kepalanya yang ditutup kerudung. Ia kembali bertanya hendak dibawa kemana. Tak biasanya ia nyinyir. Ia adalah permpuan yang selalu setuju dengan kata-kataku. Maka kali ini aku memberinya kesempatan. Aku pun menunjukkan tiket perjalanan kami. Setelah membuka dan membacanya, ia hanya menumpahkan air mata. Tangannya terlalu lemah untuk memelukku. Dalam mata yang basah Ia hanya tersenyum, dan aku menganggap itu adalah pelukan paling hangat.

“Kita akan kesana. Ke surgamu.” Ujarku sambil menyeka air matanya dengan tanganku yang kasar. Dan pesawat kami menuju ke timur Indonesia, Raja Ampat, Papua Barat.

***

Ketika kakinya menyentuh pasir putih yang seperti tepung terigu itu, ia tak bisa menyembunyikan bahagia dari wajahnya. Tubuhnya sangat lemah, tapi ia bersikeras ingin bermain air dan menyusuri garis pantai. Aku akui Raja Ampat memang pantai yang hampir menyerupai surga yang ada di pikiran orang-orang. Bukit-bukit yang hijau mengelilingi pantai. Ombaknya lembut. Air laut nya bening, seolah-olah ingin menunjukkan kepada siapapun yang ada disana bahwa ia memiliki dasar yang sangat cantik.

Ia tampak sangat sehat ketika aku mengajaknya bermain air. Tiba-tiba aku merasa bahwa ia tak pernah sakit. Tiba-tiba pula aku merasa bahwa kami masih berusia sangat muda, ini seperti kencan petama kami dahulu. Entah mengapa, saat itu aku memahami apa makna laut bagi Sintana. Aku mengeti bahwa ada yang ingin ditempuhnya dari lautan itu. Laut adalah kebebesan baginya.

Matahari tenggelam di Raja Ampat. Horizon menjelma warna merah dan berangsur-angsur gelap. Aku kembali menyadari bahwa Sintana tak akan mampu bertahan lebih lama. Meskipun sebenarnya aku belum tahu apakah aku siap melihat cahaya mata Sintana menjelma senja lalu kelam.

Mungkin kami akan disini sampai Sintana pergi ke laut. Dan suatu saat aku juga akan menyusulnya.

28/09/10

-Padang-

untuk Ice Yolanda

“Aku berjanji akan membawamu kesana.”





Apenberg

23 09 2010

Apenberg
Cerpen oleh Arif Rizki

Ketika Eliana memutuskan untuk pindah ke Belanda. Aku tidak mengantarkannya ke Bandara Ketaping. Aku bisa saja menduga-duga bahwa ia menunggu kedatanganku untuk mengucapkan ‘sampai jumpa’ atau bahkan menguncapkan ‘kita tak akan berjumpa lagi selamanya’. Jika aku sedikit mabuk laut, aku bisa saja membayangkan bahwa ia menangis sejadi-jadinya di pintu bandara. Ia akan menatap panjang ke arah gerbang, menyelidiki setiap mobil atau kendaraan yang berhenti lalu mengejarku seolah-olah ingin aku menahan kepergiannya. Tapi aku sedang tidak sanggup menghayal. Aku pun tak mungkin pula mampu menghentikan kepergiannya ke Belanda. Maka ketika Eliana memutuskan untuk meneruskan keinginan keluarganya untuk selamanya tinggal di Belanda, aku pun tidak mengantarnya ke bandara. Aku bahkan tidak memberikan kalimat kekalahan ‘sampai jumpa’.
Tapi aku bergegas mendaki Gunung Padang.
****


Cuaca di pantai Purus sore itu seperti seorang sahabat yang tiba-tiba saja menjelma malaikat. Tak seperti hari biasanya di bulan September, angin bertiup lembut dan matahari memberikan sinar wajahnya yang paling ramah. Sehingga tanpa sengaja mengundang orang-orang untuk berlalu lalang sepanjang pantai. Mereka datang beramai-ramai ke tepian pantai Purus untuk menunggu matahari tenggelam.
Seperti kebiasaan orang-orang kebanyakan, ada yang duduk-duduk berjejal di sepanjang bebatuan, bermandian dan bermain bersama gulungan ombak yang genit, juga ada yang sekedar lewat untuk sekedar menatap ke arah laut barang semenit dua menit. Tapi aku masih melakukan kebiasaanku. Sebelum matahari menyelinap ke dalam laut dan malam menyelubungi kota Padang, aku mengitari tepian pantai untuk mengangkat perangkap udang yang telah aku sediakan dari pagi hari. Aku selalu memasang perangkap udang di sepanjang pantai Purus hingga ke Muara. Selama ini tangkapanku selalu mengembirakan. Kegembiraan yang selalu membuatku bersemangat untuk menempuh malam dengan cara menjala ikan-ikan.
Tapi kali ini hasil tangkapanku agak berbeda. Maksudku, jauh berbeda. Biasanya aku menangkap udang-udang yang malang karena tidak bersembunyi di balik batu. Atau setidaknya aku berhasil menjaring kepiting dengan perangkap tersebut. Namun kali ini tangkapanku bukan udang, bukan pula kepiting. Melainkan perempuan. Ah, inilah yang tidak kupahami dari perangkap udang yang aku tebar itu. Saat itu seorang perempuan tiba-tiba saja meminta  tolong di lautan. Aku pikir ia terjatuh dari papan selancar yang sebelumnya ia mainkan bersama teman-temanya itu. Dan sialnya ia tak mampu berenang. Maka sebagai anak nelayan dan anak lautan, aku pun langsung melompat dari perahu mesinku untuk menyelamatkan perempuan sial itu. Ternyata kakinya terikat oleh perangkap udang milikku saat terlepas dari papan selancarnya. Aku membantunya lepas dari belitan tali dan benang perangkap udang dan menaikinya ke perahu mesinku sebelum kawan-kawan peselancarnya sampai untuk menyelamatkan.
Setelah membawanya ke tepian, perempuan itu memberiku uang sebagai imbalan untuk jasaku yang sudah menolongnya. Aku pun menolak. Dan aku pun tidak mengakui bahwa perangkap udang itu adalah kepunyaanku. Untuk bisa pergi tanpa rasa bersalah atau basa-basi, aku pun berlalu dan memacu perahu mesinku ke arah matahari tenggelam.
Perempuan itu bangkit dan bersorak dari tepian pantai Purus.
“Hei, lelaki penyelamat. Siapa namamu?” soraknya.
“Lingga.” Jawabku membalas sorakannya. Ia pun melambaikan tangan kepadaku sambil meneriakkan kata terima kasih. Aku membalas lambaiannya dengan perasaan yang berkecamuk. Aku tak menyangka akan bertemu nasib yang unik sore itu.
“Udang yang sangat cantik.” Gumamku.
Sebelum sempat berpikiran terlalu jauh, aku pun kembali menata perasaanku dan berharap semoga badai tidak lagi tiba-tiba datang tanpa memberikan tanda. Sekaligus berharap bahwa esok pagi aku akan membawa banyak sekali ikan-ikan yang besar.

****
Aku sedang memperbaiki jala di siang hari yang teramat terik saat seorang perempuan datang menghampiriku sambil membawakan kopi dingin yang sangat manis. Ia adalah perempuan yang kemarin aku selamatkan.
“Aku sudah lama mencari-carimu. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih.” Ujarnya sambil duduk di hadapanku dan memperhatikan jala yang sedang kurajut.
“Ah, tak perlu berterima kasih kok. Itu sudah tanggung jawabku.” Aku mencoba berbasa-basi.
“Hm, jangan gitu dong. Kamu berjasa besar lho. Kalo kemarin itu aku gak ditolong, bisa batal rencanaku ke Belanda. Ini, kopi aku beliin buat kamu. Maaf cream nya sedikit cair. Soalnya aku susah nyariin kamu sepanjang pantai ini.” ujarnya sambil memberikan sebuah kopi dingin kepadaku. Aku menerimanya sebab ia mengatakan bahwa itu adalah kopi Itali.
“Ternyata kopi Itali enak juga. Mereka tidak hanya pandai main bola ya. Tapi juga hebat bikin kopi.” Balasku. “Ohya, mau apa ke Belanda?” tiba-tiba saja aku berani bertanya. Entah disebabkan kopi Itali yang sedang kuminum, entah karena aku merasa berjasa kepadanya.
“Oh, itu. Aku mau kuliah disana. Dan mungkin juga mati disana.” Tiba-tiba saja suaranya mengecil. “Aku sudah di… ah, sudahlah. Bagaimana kopinya? Enak?” Ia mencoba mengalihkan pembicaraan yang ia mulai sendiri. Seperti ada sesuatu yang tengah ia pendam.
Entah dari mana mulainya, ia menjadi sering menemuiku di siang hari. Biasanya ia datang di hari sabtu siang. Ia selalu membawa kopi Itali yang pakai krim. Dan entah dari mana mulainya, kami menjadi sedemikian dekat. Setelah kedekatan kami melewati hari, minggu dan bulan, aku pun memberanikan diri untuk mengajaknya ke suatu tempat yang paling kusukai; Gunung Padang. Ia menamai Gunung itu dengan nama Apenberg. Saat orang Belanda menjajah, mereka manamai gunung itu dengan nama Apenberg. Ia mengetahui itu dari Internet. Mungkin Internet juga sejenis kopi Itali. Atau bahkan merupakan penduduk Itali. Yang jelas aku tak menyukai nama Apenberg itu.
Eliana belum pernah ke puncak Gunung Padang. Semenjak ia pindah ke Padang, ia tak pernah punya waktu. Ia selalu berpindah-pindah. Ketika aku tanyakan ia sebenarnya asli dari daerah mana, ia selalu kebingungan, karena orang tuanya selalu bertugas dari daerah ke daerah.
Ia adalah perempuan yang dimanjakan oleh keadaan. Ketika aku dan Eliana mendaki Gunung Padang, ia hanya sanggup mendaki beberapa langkah saja. Aku pun menawarkan untuk mengendongnya ke puncak sana dan menjanjikan padanya bahwa pemandangan puncak gunung Padang tak akan mengecewakannya. Ia setuju dan sangat berjingkrak bahagia karena aku bersedia menggendongnya.
“Kau adalah seorang nelayan, tapi mengapa baumu tidak seperti bau ikan?” tanyanya kepadaku saat aku mengendongnya di belakang punggungku.
“Aku adalah tipe nelayan yang tidak mandi di air laut. Jadi bau tubuhku tidak jauh beda dengan yang lainnya.” Jawabku.
“Pantesan. Tapi bau rambutmu tercium kayak bau laut.” Balasnya. Dan aku hanya tersenyum. “Kenapa malah jadi nelayan? Aku lihat, kamu cukup pas buat jadi model. Kamu cukup tinggi. Dan…..  ya, keren. Kenapa gak terjun di dunia modeling aja?” tambahnya dan terdengar seperti seorang perempuan yang mulai merayu.
“Aku lebih baik terjun ke laut dari pada terjun ke dunia model itu.” jawabku. Dan ia tertawa sambil memukul bahuku. Pukulan kecilnya itu pun menyadarkan aku bahwa kami telah sampai di puncak Gunung Padang. Ia langsung berteriak gembira ketika menyaksikan laut dan Samudra Hindia yang terhampar luas. Ia tak mampu menyembunyikan luapan kesenangan di hatinya yang terlihat dari senyuman yang tak kunjung lepas dari bibirnya. Dan sungguh, sangat mudah bagiku untuk menyadari bahwa udang tangkapanku ini sangat memesona.
Sambil menghadap ke laut, aku ceritakan kepadanya bahwa puncak Gunung Padang ini adalah tempat favorit Siti Nurbaya dan Samsu Bahri. Juga tentang Gunung Padang yang sebenarnya hanyalah bagian dari bukit barisan. Aku juga mengajaknya ke makam Siti Nurbaya. Ia mengaku tidak pernah membaca novelnya. “Aku lebih suka Harry Poter” katanya. Dan aku menerima perbedaan antara kami berdua. Tapi ia cukup terharu ketika aku ceritakan mengapa Siti Nurbaya meninggal dan bagaimana akhir kisah mereka. Sambil tak mampu menahan air matanya, ia memintaku agar segera diantarkan pulang. Saat itu, aku tak mengerti apa yang terjadi kepadanya.

**
Aku sempat berpikir bahwa ia marah kepadaku karena aku ajak ke Gunung Padang dan menceritakan kisah yang bukan bagian dari Harry Poter kesukaannya. Ternyata aku salah. Aku memang selalu salah dalam menyangka perasaan seseorang. Termasuk ketika aku tak menyangka dengan apa yang ia katakan ketika aku mengajaknya bertemu di suatu malam ketika bulan purnama bersinar di atas lautan kota Padang. Sesungguhnya malam itu adalah malam yang mestinya tidak boleh aku lewatkan begitu saja tanpa pergi ke laut. Ini adalah malam sempurna untuk pergi melaut. Tapi karena Eliana ingin mengatakan sesuatu, dan aku kira apa yang akan dikatakan Eliana adalah hal yang sangat penting, aku pun urung berlayar malam di malam itu.
“Lingga, aku nggak tahu bagaimana harus menjelaskannya.” Ucap Eliana terbata-bata. Aku pun tetap mendengarkan. “Mungkin ini terdengar sangat bodoh dan aneh. Aku juga nggak ‘ngerti. Yang jelas, sejak di dekat makam Siti Nurbaya, tiba-tiba aku merasa ingin selalu ada di dekatmu. Aku selalu ingin mencium rambut bau lautmu. Aku selalu ingin ada di dekat baju kaos oblongmu yang bau ikan asin itu. Aku tiba-tiba menyukai semua yang ada pada dirimu.” Ucapnya dengan semakin terbata-bata.
Aku pernah melalui badai terhebat yang membuatku berfikir tak akan selamat. Aku pernah dipilin-pilin gelombang dan pasang. Aku hampir ditelan hidup-hidup oleh ikan hiu tutul di perairan Hindia. Tapi aku tak pernah ditimpakan luapan perasaan dari perempuan seperti ini. Apa yang diungkapkan Eliana jelas melebihi gelombang dan badai. Aku seperti berada di ombak yang hempasannya bisa menjatuhkan kapal-kapal dagang yang besar dari Eropa. Dan aku lebih tak mampu lagi menahan jantungku yang rasanya hendak meledak ketika kusadari bahwa aku ingin Eliana juga selalu ada di dekatku. Dan aku katakan kepadanya—dalam keadaan gugup yang luar biasa bahwa “Aku juga menginginkanmu selalu ada. Bersamaku.”
Ia hanya tersenyum. Mukanya memerah seperti kepinting yang direbus di air mendidh. Dan aku merasa seperti berada di sebuah kapal yang segera akan oleng dan tenggelam.
**
Kini Eliana akan berangkat ke Belanda. Aku tak pernah tahu dimanakah letak negeri itu. Aku juga tak yakin mampukah aku menempuhnya hanya dengan perahu diesel-ku. Aku tak mengantarnya ke bandara. Aku malah menaiki Gunung Padang. Sebelum kepergiannya ke Belanda, Eliana tetap bersikukuh menamainya Apenberg. Aku akan melepas kepergian Eliana dari puncak Gunung Padang. Ketika pesawatnya lewat di atas kepalaku dan menuju ke arah utara, mungkin aku akan melambaikan tanganku tanpa berharap ia akan melihat atau bahkan membalasnya.
Di telingaku masih terngiang bagaimana ayahnya menyatakan kepadaku bahwa Eliana akan kuliah di Belanda dan menikah disana dengan anak rekan kerjanya. Ayahnya memang tak memiliki pilihan lain, sebab ia sudah lama membuat janji perjodohan dengan rekannya yang juga lari ke Belanda karena perubahan arus politik di Indonesia. Ia hanya menganggapku sebagai penyelamat anaknya, meskipun malam itu, sesungguhnya kedatanganku ke rumahnya adalah untuk melamar Eliana. Eliana tidak diberi kesempatan menolak keputusan-keputusan yang dibuat oleh ayahnya.
Aku juga tidak mampu membawanya lari. Eliana sempat meminta kepadaku untuk membawanya pergi jauh-jauh. Tapi kemana aku harus pergi membawanya? Aku hanya anak laut. Hidupku adalah lautan yang buas. Sementara Eliana selalu mabuk laut—bahkan ketika menaiki kapal pesiar yang nyaman. Apalagi jika ia kularikan dengan perahu bututku. Tentu saja ia tidak hanya mabuk laut, tapi juga mabuk hidup.
Kukatakan kepadanya bahwa aku mencintainya. Seluruh lautan mampu aku serahkan kepadanya. Tapi ia tak akan bahagia hanya dengan lelaki yang berbau ikan asin sepertiku. Aku akan selamanya begini. Dan itu tak akan memberi kehidupan apapun baginya. “Berangkatlah, Eliana. Kabarkan kepada negeri penjajah itu, bahwa engkau adalah Siti Nurbaya yang baru. Siti Nurbaya yang selalu memeram dalam-dalam perihnya di dasar laut yang dalam dan diam. Yang mengubur mimpinya di puncak Gunung Padang.” Ucapku kepadanya ketika matahari di pantai Purus mulai mengemasi dirinya. Senja jatuh di hati kami masing-masing.
Kini aku sendiri di puncak Gunung Padang ini. Tidak jauh dari makam Siti Nurbaya. Aku menyadari tak akan mungkin menjerat perempuan dengan perangkap udang lagi. Seluruh lautan telah aku kabarkan bahwa aku jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Eliana. Jika kini kukatan lagi bahwa ada yang telah remuk dalam diriku, bagaimana aku harus menjelaskannya kepada lautan yang terhampar di hadapanku ini? Eliana barangkali seperti ikan yang mengerjap manja ketika kutangkap dengan jala, tapi ketika aku menatap matanya, aku harus tahu bahwa aku harus segera melepaskannya kembali. Salahku selama ini merawatnya di aquarium yang tersimpan di jantungku. Ia hanya ikan yang tanpa sengaja tertambat di hati seorang nelayan kampung yang selalu bau angin laut yang asin.
Kini aku sendiri di Apenberg. Di puncak Gunung Padang. Kapal-kapal dan pesawat bertolak entah kemana. Lautan membentang di bawah sana. Dan angin seperti menuntunku untuk berjalan ke tepian tebing yang curam. Tiba-tiba aku merasa tebing itu seperti memanggil-manggil namaku. Angin seperti merayu tubuhku untuk bermain bersamanya. Entah mengapa tiba-tiba penglihatanku perlahan-lahan memudar ketika aku saksikan laut lepas yang terhampar. Tiba-tiba aku ingin melompat ke bawah sana, seseorang yang dilahirkan laut, pada akhirnya akan kembali kepada laut.

Padang, 2010





SAJAK YANG AKAN AKU BACAKAN JIKA AKU MENIKAH NANTI

16 09 2010

SAJAK YANG AKAN AKU BACAKAN JIKA AKU MENIKAH NANTI

Di punggung tanganmu ada lukisan yang berkeliaran
Sebagai bunga yang sakral dan hanya khusus untuk perkawinan.
Aku sedikit kecewa karena dengan begitu aku tak bisa seperti biasanya
Mengelus-elus punggung tanganmu agar susut air pasang di dada

Ketika orang-orang yang datang itu kita salami satu-satu
Dan mereka memuji disain undangan dan pakaian kita
Aku tahu wajahmu merah menyemu
Kemudian aku teringat sesuatu:

dulu aku pernah meninggalkanmu di tengah jalan raya
ketika mobil-mobil berlalu lalang dari semua penjuru arahnya
sudah aku katakan aku takut menyebrang
maka akupun tak sengaja meninggalkanmu di tengah jalan
hingga aku baru menyadari kebodohanku ketika di seberang

kita lihat bagaimana teman-temanku menertawai kita
dan aku lihat wajahmu memerah seperti lampu jalan yang selalu bertukar warna
akupun kemudian menggenggam tanganmu dan membuat janji
untuk tidak akan meninggalkanmu di dunia selamanya
kecuali di jalan raya
kau tertawa dan memberi pukulan kecil di dada kiriku
Hai! Bukankah peristiwa itu telah lebih dulu menjadi puisi yang luar biasa
bahkan sebelum kita memikirkan kata yang tepat untuk memaragrafkannya?

Tadi siang telah aku serahkan dengan tunai seperangkat alat sembahyang
Hanya karena aku tak mau kau mendapatkan cinta kreditan
Dan kini tiba-tiba aku diharuskan untuk menidurimu
Demi tuhan, aku tak sanggup menatap kedua matamu

“ayo cepat selesaikan ini” ucapku padamu
Karena aku tak enak pada mereka bila terlalu lama
menjadikan dunia ini milik kita berdua
dan bukankah kita juga butuh mereka untuk keperluan hidup kita

tapi kau malah ingin bermain teka-teki dulu
dan menantangku untuk menjadi si bocah petualang itu.
bagaimana mungkin aku menolak tawaranmu?





Ikan dalam Plastik

15 09 2010

IKAN DALAM PLASTIK
Oleh: Arif Rizki

Akhirnya kereta mulai bergetar dan meninggalkan stasiun setelah keberangkatannya ditunda selama dua puluh menit. Aku memandang ke luar untuk menawar hatiku yang pelan-pelan ikut bergemuruh.
Dari dalam tas aku keluarkan sebuah buku saku kecil dengan sampul batik yang telah lusuh. Ke-empat ujungnya telah terlipat-lipat. Buku ini hampir seragam dengan buku catatan para tukang kredit di pasar tekstil. Ini adalah buku harian ibuku. Buku ini adalah satu-satunya peninggalan ibu yang tidak kubagikan kepada sanak keluargaku.
Di dalamnya ada catatan-catatan singkat tentang kehidupan ibuku dari remaja hingga ia melahirkan anak pertamanya—kakakku. Banyak catatan yang membuatku tersenyum geli jika kubaca lagi, misalnya bagaimana ibu yang pelan-pelan luluh dan jatuh cinta kepada ayahku yang berkali-kali melamar ibuku. Ayah adalah seorang pemburu yang beringas di rimba raya. Dan di rimba cinta ia ternyata tetap pantang kalah. Begitulah kutipan di buku harian itu.
Namun ada sebuah catatan yang paling panjang di buku itu. Sebuah catatan yang barangkali sangat pribadi bagi ibuku. Akupun selalu dihanyutkan sebuah perasaan yang tak jelas ketika membaca catatan itu. Dan untuk itulah aku naik kereta api ini.

**

Payakumbuh, 7 July 1971

Telegram tiba ketika adzan zuhur belum berhenti menggema dari puncak menara. Biasanya, sepeda Pak Cip si Pak Pos selalu berdering dua kali jika ada surat. Dan ternyata telegram itu ditujukan untuk kakakku. Yulis, kakakku menerimanya. Aku yang sedang mencuci pakaian juraganku langsung berhenti dan menghampiri kakakku tersebut. Ia mendesis—seperti mengucap nama tuhan. Aku meraihnya. Dengan jelas di sana tertulis: Bapakmu sakit. Datanglah ke Padang.
Aku memandang kakakku yang tiba-tiba saja menatap jauh ke arah halaman. Lalu buru-buru ia ke kamar kami dan menggulung kasur. Di bawahnya ada beberapa uang yang kami simpan dari hasil jerih payah kami menjadi pembantu di rumah bekas majikan Ayah di gudang garam.
Ia menghitungnya dan buru-buru mengikatnya dengan karet gelang. Aku tak tahu pasti berapa jumlahnya. Tapi aku ingat bagaimana Kak Yulis langsung menyisir rambut dan mengelap sandal kayunya.
“Aku akan ke Padang. Ayah butuh bantuan.” Ujar kakak dengan nada yang sangat bergetar.
“Aku ikut.” Balasku.
“Jangan. Nanti Pak Faisal marah kalau kita berdua meninggalkan pekerjaan.
Aku tidak mampu lagi berucap sepatah kata apapun. Dari belakang aku lihat Kak Yulis berbicara dengan Istri pak Faisal, majikan kami. Ibu itu tampaknya mengijinkan. Ia menyuruh Uda Sedi untuk mengantar kakak ke stasiun dengan sepeda. Lalu aku lihat dari jendela bagaimana wajah kakak yang murung meninggalkanku dan aku lihat sendiri pantulan wajahku di kaca, lebih murung dari itu.
Setelah itu aku tidak bisa dengan benar-benar melanjutkan pekerjaanku. Bukan karena aku masih berusia sebelas tahun. Tapi karena biasanya kakaklah yang mengarahkanku untuk melakukan apa-apa di rumah itu, karena majikanku tidak mau memerintah kami. Ia ingin tahu beres saja. Ini membuatku gagap. Belum lagi dengan isi telegram itu.
Beberapa saat setelah kakak meninggalkan rumah, aku teringat akan sesuatu.
“Aku harus ke stasiun!”
Aku buru-buru mengambil plastik. Kemudian aku mengambil seekor ikan mas kecil dari dalam bak. Minggu lalu aku membelinya seharga sepuluh rupiah. Penjualnya mengatakan ini adalah ikan ajaib.
“Ikan ini bisa mengabulkan apa saja permintaan kita, jika kita bersungguh-sungguh dan dengan niat yang baik.” Begitu kata penjualnya. Aku takjub dengan ikan ini dan aku belum meminta satu hal pun. Mungkin inilah saatnya untuk mencoba keampuhannya. Aku akan memberikan ikan ini untuk ayah. Semoga ayah bisa sembuh bila aku berikan ikan ini.
Akupun bergegas menangkapnya. Ternyata tidak mudah sebab bak mandi itu cukup luas. Dan ikan itu cukup lihai menghindar. Tak lama kemudian aku berhasil jua menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah plastik.
Aku mengikat ujung plastik itu setelah memberi udara agar ikan mas ajaib ini bisa bertahan sepanjang jalan. Jalan ke Padang tidak mungkin bisa ditempuh sebentar saja. Ikan ini harus sampai di tangan ayah dengan selamat.
Aku berlari dengan kencang ke stasiun. Harusnya aku ingat untuk menitipkan ikan ini lebih awal. Tapi sudahlah, aku harap waktu bisa menunggu.
Tapi dari kejauhan aku lihat kereta mulai berjalan. Akupun berlari sekencang-kencangnya. Tak pernah aku berlari secepat ini. Dan tak pernah kurasakan dadaku sesesak ini sebelumnya. Kereta itu sudah berjalan walaupun cukup pelan. Aku yakin aku bisa mengejarnya.
Dan beruntung, aku lihat Kak Yulis ternyata ada di gerbong paling belakang. Dari kejauhan aku berteriak dan melambai-lambai kepadanya. Berulang-ulang kupanggil nama kak Yulis. Tapi suara bising dari rel mengalahkan suaraku.
Aku tak berhenti berlari dan ternyata kereta itu semakin terasa bergerak lebih cepat. Aku berusaha berteriak dan melambai.
Dan tuhan, untunglah, ketika itu Kak Yulis mampu mendengarnya. Ia berlari ke belakang gerbong. Ada pintu di bagian belakang. Akupun berlari di atas rel untuk mengulurkan ikan dalam plastik itu kepada Kak yulis. Tapi kami masih berjarak.
Aku mulai menyadari bahwa aku tidak akan sanggup mengejar kereta itu. Belum lagi karena tiba-tiba air mata meleleh dari ke dua tepi mataku. Tapi aku tetap mengejar kak Yulis. Dan Kak yulis berteriak-teriak untuk menyuruhku pulang, kembali ke rumah pak Faisal.
Demi tuhan aku tak punya waktu untuk menjelaskan untuk apa ikan ini. Aku harus memberikannya kepada kak Yulis tapi ia tak paham apa maksud semua ini. Sebelum sempat sedikit kujelaskan, kereta itu menjadi lebih jauh. Jauh. Jauh. Jauh. Dan jauh.
Kak Yulis menatapku dari kejauhan. Aku tahu ia menangis. Dan akupun tak sanggup menghambat derasnya air dari mataku. Lututku yang letih membuatku tak sanggup berdiri. Menatap kereta yang menjauh membuat tubuhku sangat lemas. Plastik berisi ikan itu jatuh dari genggamanku dan pecah di atas rel yang panas.
Sore itu, harapanku pecah di rel berkarat. Doakupun menguap bersamaan dengan asap yang berlepasan dari cerobong lokomotif itu.
Di perjalanan pulang aku terisak-isak. Ikan itu aku bawa dengan kedua telapak tanganku. Ia tak akan hidup lebih lama karena tanganku tak bisa menampung air yang cukup untuknya. Dari kejauhan, masih kudengar suara kereta menuju kota Padang. Seolah aku mampu mendengar suara ayah yang tak henti mengerang.

***

Sudah berpuluh-puluh kali aku baca bagian ini. tapi mataku selalu basah setiap kali membaca kata demi kata yang ditulis ibuku. Selama beliau masih hidup, ia tak pernah tampak begitu menderita. Paling tidak ia tampak cukup bahagia dngan keluarga kecil kami. Tapi ternyata jauh di dalam ia menyimpan genangan air keruh dari masa silamnya.
Di luar kulihat jalan raya sesak oleh berbagai macam kendaraan. Aku sendiri baru sekali ini naik kereta api. Ini pun hanya kereta api wisata yang jalan sekali seminggu. Tak ada lagi kereta seperti yang ada di catatan harian ibuku ini. Rel-rel telah menjadi pondasi rumah penduduk dan ditutup oleh aspal beton. Jarak antara Padang dan Payakumbuh bisa ditempuh dalam waktu tiga jam saat ini. Tapi di zaman ibuku, di buku harian ini, tampak begitu jauh.

**
15 July 1971

Aku tahu Padang sangat jauh dari sini. Entah mengapa ayah memilih bekerja di sana. Ini sudah seminggu kak Yulis pergi. Belum ada berita. Ia tidak menitipkan surat. Aku begitu pencemas sekarang. Banyak saja yang bisa kutakutkan.

16 July 1971

Ikan mas ajaibku akhirnya mati. Aku menguburnya di halaman belakang rumah majikanku ini. Aku tahu ini adalah pertanda buruk. Aku begitu cemas dengan semua pertanda buruk. Tapi sesungguhnya aku telah siap. Apapun yang akan terjadi.
Kesiapan itu ternyata menuntut pembuktian. Ayahku ternyata kalah. Ia meninggal. Aku seperti dipukul oleh sesuatu yang tak kutahu. Sungguh, aku sangat terpukul. Seandainya saja aku tidak terlambat. Seandainya aku sempat memberikan ikan mas itu ke pada kak Yulis. Kini aku tahu bagaimana sesuatu yang baik bisa saja menjelma menjadi petaka.
Ayah dimakamkan di Bukittinggi, kota kelahiranku. Tepat disamping ibu yang lebih dulu meninggal ketika melahirkanku yang konon kembar. Aku lahir selamat. Ibu dan kembaranku membayar mahal atas kelahiranku.
Ketika ayah dikuburkan, aku menggali kembali kuburan ikan mas itu. Aku menguburnya kembali di tengah-tengah pusara ayah dan ibu. Aku harap ini semua bisa menjelaskan sesuatu kepada mereka.
Kini aku hanya memiliki kak Yulis saja di dunia ini. Kami menjadi lebih dekat dan kesepian. Kami harus bekerja lebih keras dengan hati yang terkuras. Mungkin hidup kami seperti ikan yang terjebak di dalam plastik.

***

Aku menutup buku harian itu. Tak ada sedikitpun rasa yang istimewa ketika menaiki kereta wisata ini. Aku tak mendapatkan perasaan emosional yang kuharapkan sebelumnya. Aku justru menaiki kereta yang sesungguhnya dengan membaca buku lusuh ini. Dua jam perjalanan menikmati kota Padang dan Pariaman tak memberiku rasa apa-apa. Semua orang di dalam kereta ini tampak baik-baik saja. Tapi di dalam diriku ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh. Aku takjub membayangkan masa lalu ibuku. Aku tak pernah begitu merindukan ibuku seperti saat ini. Di buku ini ibu begitu berbeda dengan sosok yang kukenal. Aku beruntung telah menjadi sepotong dari bagian hidupnya. Aku menatap langit ketika menggumamkan kalimat ini.


Di pariaman, kereta wisata itu berhenti sekitar dua jam. Para penumpang sungguh tampak berbahagia telah bepergian dengan kereta itu. Dari kejauhan aku menatap kereta itu. Aku bayangkan bagaimana kejadian ibu mengejar kereta ketika hendak memberikan ikan mas kepada kakaknya—bibiku.
Waktu selama dua jam aku habiskan untuk merenung dan membaca ulang buku harian itu. Esok aku akan menikah. Ada hidup lain yang akan aku tempuh. Jika saja ibu masih ada tentu aku akan mengajaknya merayakan pernikahanku dengan berkeliling kota dengan kereta wisata ini.
Terompet kereta membunuh lamunanku sebelum sempat aku gumamkan doa. Namun sebelum naik kereta untuk kembali menuju Padang, seorang anak menawarkan ikan kepadaku di pintu kereta. Tanpa pikir panjang aku membelinya. Harganya lima belas ribu—harga yang berbeda jauh dengan harga ikan di zaman ibuku. Ikan itu ada kemiripan dengan ikan ajaib ibuku. Sama-sama ikan mas dan sama-sama di dalam plastik bening.
Aku menatap ikan itu begitu lama ketika berada di dalam kereta. Ikan seperti inilah yang pernah hadir dalam hidup ibuku. Betulkah ia bisa mengabulkan permintaan? Entahlah, jika saja benar. Aku ingin ibu bahagia di alam sana. Dan tentu saja aku berharap pernikahanku baik-baik saja.
Di tengah perjalanan kantuk menyerangku dengan kekuatan terberatnya. Antara sadar dan tidak, sekilas di luar–di jalan, aku melihat seorang perempuan menggunakan daster lusuh bermotif bunga berlari ke arah keretaku. Ia membawa ikan mas di dalam plastik. Dalam kantuk yang berat aku lihat wajahnya sangat mirip dengan ibu ketika masih remaja. Namun aku rasa aku hanya sangat lelah dan merindukan beliau.





Lelaki yang Gagal

15 09 2010

Lelaki yang Gagal
Cerpen oleh Arif Rizki

Aku memandang tanganku. Mencoba-coba membaca garis rahasia yang ada di kedua telapak tanganku. Barangkali ada yang salah di sana. Kalau memang nasib bisa dibaca di garis-garis ini, tentu nasib sewaktu-waktu bisa dirubah sejauh apa yang mampu dilakukan oleh tangan itu sendiri.

BERKALI-KALI aku mondar-mandir di hadapan cermin. Aku memperhatikan tingkahmu yang tak sudah-sudah bersolek. Kau menepungi wajah dengan bedak, menggincu bibir tipismu dengan warna yang paling menyala (aku bertaruh siapa pun yang menatap bibirmu yang merah menyala itu pasti akan merasa dibakar di atas tungku), kau melukis garis mata, memasang bulu mata palsu seolah-olah kau tak memilikinya sama sekali dan membuat garis melengkung di atas kedua matamu. Kau menamainya sebagai alis mata setelah sebelumnya kau mencukur alis sungguhan yang mirip iringan semut hitam. Kau tak pernah tahu bahwa aku masih sangat menyukai wajah lamamu ketimbang topeng barumu itu.
Tepat pukul enam petang kau mengucapkan salam kepadaku. Mencium tanganku dan berlalu meninggalkan aku sendirian semalaman. Kepergianmu selalu diiringi oleh gema adzan magrib. Aku sholat sendirian sambil berusaha memaklumi kalimat yang paling sering kau lontarkan akhir-akhir ini:
“Aku harus mendapatkan promosi ini. Lembur kerja adalah jalan pintasnya.” Aku lebih hafal kalimatmu itu dibanding slogan yang kerap diucapkan calon pejabat di negri ini. Mungkin karena setiap hari kau mengucapkannya kepadaku. Mungkin pula karena percakapan kita yang sangat sedikit belakangan ini.
Aku tak pernah mempermasalahkan ini. Aku belajar hal-hal kecil. Aku belajar memaklumi. Aku juga belajar untuk menyalahkan diri sendiri. Jika dirunut satu persatu, dari awal hingga hari ini, kesalahan jelas ada padaku. Aku memang tidak juga berhasil memberikan kebahagian yang paling bulat sempurna kepadamu. Masa lalu pun bisa menudingku untuk perkara ini. Sebab dari dulu aku selalu gagal menebak apa maumu. Ketika kita belum menikah, dan ketika itu kau berulang tahun, aku memberikan sebuah kue mungil dengan sebatang lilin dan sebuah novel populer sebagai kadonya. Kau menerimanya dengan suka cita namun malam itu kau mengungkapkan kekecewaanmu kepada radio yang sengaja menyiarkan acara untuk orang yang mengalami hari yang buruk. Kau tak mengira diam-diam aku menyimaknya. Bahkan semua orang di kota kita pasti menyimaknya. Di sana kau mengatakan kau ingin diberi sebuah kalung yang telah lama kau idam-idamkan. Kau bilang kau pernah memberi isyarat agar aku membelikannya. Tapi aku tak mengerti apapun isyarat yang kau datangkan. Malam itu hujan tak hanya turun dari cuaca, Sintana.
Kini kau jadi sering berpergian. Tanpa sengaja aku merasa ada yang salah di rumah kita walaupun aku tahu kau pergi bekerja untuk memperbaiki semuanya. Tapi entah kenapa kesepian menjadi hal yang paling mendebarkan.
Di malam hari tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menonton acara televisi yang membosankan hingga pukul sepuluh malam, mematuti foto pernikahan, mengeja satu persatu nama-nama asing dari peralatan kosmetikmu lalu tertidur dengan memeluk pakaian kotormu yang menyisakan bau keringatmu agar aku merasa kau tidur di sampingku. Di tahap ini aku kesulitan membedakan antara jatuh cinta dan jatuh sakit. Bagiku kedua-duanya sama-sama menderita.
Di pagi hari, ketika kau pulang bekerja, hal pertama yang perlu kau lakukan adalah marah-marah seolah-olah kau tak dianugrahi lagi sifat yang lain oleh Tuhan. Kau mudah terpancing oleh hal-hal sepele semisal tisu yang berserakan di lantai. Sekonyong-konyong kau mengucapkan kata-kata yang sumpah mati tak ingin kudengarkan dari dirimu.
“Tisu apa ini? Kau onani?” tanyamu sambil mengambil sapu yang digantung di balik pintu.
“Bukan. Itu untuk mengelap air mataku.” Pelan aku membalasmu.
“Cengeng!” ucapmu sambil melompat ke atas tempat tidur. Lalu kau terlelap membelakangiku hingga siang berlalu tanpa percakapan. Siang itu tiba-tiba saja aku merasa perlu untuk menjadi seorang penyair kesiangan karena aku hanya mampu menulis puisi yang demi tuhan tak pernah aku tuliskan sepanjang umurku. Aku menulis puluhan kalimat liris sambil menatapmu tertidur membelakangiku. Aku mematuti punggungmu sambil mengutuk diriku yang telah membebani punggung itu.
Saat aku menyimpan tulisan itu, aku menemukan secarik kertas yang tampaknya cukup rahasia di dalam laci kerjamu. Tanpa kuduga ternyata kau menulis sepucuk surat untuk seorang Psikolog. Aku tak tahu seperti apa suratmu kepadanya, namun dari balasannya kau menulis banyak hal tentang aku. Dari balasan surat yang ditulis Psikolog itu aku bisa menerka-nerka bahwa kau menceritakan pernikahan kita digerogoti penyakit kritis yang tak bisa diselamatkan. Kau tak tahu seperti apa pastinya, namun kau mengira-ngira penyebabnya adalah pertama karena aku tak mampu memberimu keturunan. Kedua, aku tak bisa lagi membahagiakanmu secara finansial. Barangkali kau menceritakan kepadanya tentang jati diriku. Tentang aku yang diistirahatkan dari tugas militer karena lumpuh yang bersumber dari peluru yang bersarang di beberapa bagian tubuhku. Dan tentang sebuah masalah kecil yang dari dulu telah kau peram, yaitu tentang sifatku yang pendiam. Sifatku yang satu ini membuatmu berfikir bahwa aku tak pernah mencintaimu sebab sekali pun aku tak pernah mengucap kalimat cinta kecuali di hari pertama pernikahan. Dari semua masalah itu kau mengatakan bahwa aku adalah lelaki yang gagal.

Aku membaca surat itu seperti berada di tengah perang salib. Aku merasa diserang dengan ratusan batu neraka oleh burung Ababil. Mereka membidik tepat di hatiku. Namun dalam keadaan gemetar, aku masih bisa mengembalikan surat itu ke tampatnya dengan rapi. Aku buru-buru meminum air dan menyalakan televisi agar aku bisa berpura-pura tidak pernah membaca surat itu.
Aku berusaha tenang ketika kau bangun dari tidurmu. Aku ingin membicarakan sesuatu, namun setelah membaca keluhanmu tentang sifatku yang pendiam justru membuatku lebih bungkam. Dalam diam ini sesungguhnya aku telah mengucapkan ratusan juta kalimat cinta kepadamu. Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi.
“Selamat siang.” Ucapmu ketika bangun dari tidur. Kalimat itu terdengar seperti kalimat seorang resepsionis di kantor-kantor besar. Dan sesungguhnya aku tak mengharapkan itu. Dan juga sama sekali tak mengharapkan ada bau sengat alkohol yang keluar dari mulutmu. Sontak ini menjerang darahku, dan langsung mendidih.
Aku mengejarmu dengan pertanyaan apakah kau mabuk-mabukan semalaman. Dan kau hanya mengatakan itu adalah bagian dari pekerjaan. Mengapa pekerjaanmu justru mengesankan dirimu seperti wanita yang tidak terhormat? Apa lagi yang bisa aku lakukan selain kembali bertanya apa sesungguhnya yang kau lakukan di luar sana sambil tanpa sengaja memukul wajahmu? Dan sungguh, pukulan itu di luar kendaliku.
Kau langsung mengemasi pakaian tanpa ingin mendengar maaf yang aku ajukan. Esoknya kau kembali dengan dua orang anggota polisi dan seorang pengacara. Mereka membawaku ke kantor dan menuntutku secara hukum sebagai orang yang melakukan kekerasan dalam rumahtangga.
Aku benar-benar tak menduga pukulan tangan itu bernama kekerasan dalam rumahtangga. Padahal aku menamainya dengan pukulan dari tangan yang rindu. Tangan yang rindu ingin membelai wajahmu yang dulu, wajah yang selalu menyediakan senyum untukku di mulai dari ketika aku berangkat kerja hingga aku berangkat kerja lagi ke-esokan harinya, dan ke-esokan harinya. Kau tahu, setelah memukulmu, aku merendam tanganku di air mendidih agar aku bisa meredam ruh yang bersemayam di dalamnya. Lalu dengan bodoh aku menangis sepanjang malam di kamar mandi dan memecahkan cermin yang memantulkan bayangan seorang lelaki paling gagal sedunia.

KETUKAN PALU dari hakim yang agung aku terima apa adanya. Aku menerima kurungan lima tahun penjara agar aku bisa jera. Aku terbukti bersalah telah melakukan penganiayaan. Bukti memar yang tak kunjung hilang di wajahmu selama dua minggu menjadi barang bukti yang paling telak. Aku tak berminat mengajukan banding. Aku juga tak berminat melawan pengacara dan polisi yang datang ke rumah kita dulu. Lagi pula pengacara, polisi dan militer sudah lama tak berhubungan baik. Tak akan ada tindakan penyelamatan yang menarik untuk aku lakukan.
Di dalam kurungan yang dingin ini aku memandang tanganku. Mencoba-coba membaca garis rahasia yang ada di kedua telapak tanganku. Barangkali ada yang salah di sana. Kalau memang nasib bisa dibaca di garis-garis ini, tentu nasib sewaktu-waktu bisa dirubah sejauh apa yang mampu dilakukan oleh tangan itu sendiri.

KINI setelah lima tahun aku pendam surat ini, dan lusa aku akan dikeluarkan dari tempat ini, belum jua aku berani mengirimkannya kepadamu. Aku memahami keberadaanmu yang baru. Seseorang mengabariku bahwa kau menikahi pengacaramu itu. Seluruh isi dunia telah aku tumpahkan kepadamu. Surat ini barangkali akan aku kirimkan ke alamat lama kita. Aku berharap mungkin bertahun-tahun setelah ini kau akan dengan iseng mendatangi rumah lama kita dan membuka kotak surat yang ada tanda tangan kita berdua. Aku tak berharap kau membaca seluruh isi surat ini selain bagian akhir yang aku garis bawahi; bahwa dengan cara yang paling sunyi, aku tak pernah gagal mencintaimu, Sintana.
Ketika kau sampai di bagian itu, mungkin tubuhku yang tergantung dengan tali di ruang tamu telah membusuk dan lapuk seperti kenangan tentang masa lalu.

Padang, 2010





CANGKIR

14 09 2010

CANGKIR

cangkir atau air kah yang menyentuh bibirmu?

keduanya seperti kembar siam yang berlain rupa

kepada mereka engkau mengadukan dahaga

engkau biarkan cangkir itu mengenalimu

agar engkau mampu mereguk air senantiasa

agar kelak kau bisa merindukan keduanya

atau diam-diam melupakan satu dari mereka

dalam cangkir itu percakapan mengalir

menciptakan jalan teramat licin

; kerap kita tergelincir

katamu aku tak pernah menjelma air

aku tak lebih dari sebuah cangkir

dahagamu seperti anjing terlunta

yang tak kunjung diterima di sorga

engkau ialah kemarau yang mendoakan lebat hujan

kemudian engkau hanya ibarat;

perumpamaan atas cinta yang kukejar hingga sekarat

Ruangsempit, 2010





Perempuan Pintu Jalan

14 09 2010

Perempuan Pintu Jalan

Cerpen oleh Arif Rizki

1.

Pertemuan kami—seperti halnya pertemuan lain di kota ini, terjadi begitu saja. Bukan pertemuan istimewa sesungguhnya. Kepergian dan kepulangan yang aku lakukanlah yang mewujudkannya. Ketika aku pergi atau pulang mengantarkan penumpang antar Pasar Minggu-Bandara Soekarno Hatta, aku mendapati seorang perempuan dalam sebuah kubus batu bata. Ia menjulurkan kepala dari jendela dan menagih tarif tol dengan muka yang sedatar jalan raya.  Dengan sisa asap yang penuh di muka, aku membayar tiket tol itu dengan tergesa-gesa. Lalu pertemuan kami berakhir begitu saja. Mungkin di antara kami tak akan memikirkan hal yang sangat begini biasa.

Aku salah. Sepanjang jalan aku memikirkanya. Aku tak habis pikir mengapa perempuan se-elok dirinya bisa bekerja sebagai penagih tarif tol? Dengan mata jernih dan kulit putih yang ia miliki, aku bertaruh ia bisa menjadi seorang peraga busana. Ia mungkin juga bisa menjadi pemeran sinetron yang selalu kutonton saban malam. Tahukah, sinetronlah yang mewakili perasaanku walaupun aku tak pernah sekalipun bermimpi menjadi lelaki kaya raya yang selalu ada di sepanjang ceritanya. Apalagi menjadi lelaki kaya yang buncit dan berkumis menggelikan. Bukan karena penghasilanku yang memang pas-pasan. Aku hanya tak terbiasa. Aku pernah mencoba melakukannya. Aku berjalan-jalan dari mall ke mall, meminjam telfon genggam ternama seorang teman, dan menaiki mobil mewah milik seorang majikan. Aku duduk di belakang seperti bos-bos. Namun tetap saja merasa sebagai orang termiskin di dunia.

Copyright All rights reserved by Daniel Lumbini

Aku menyadari bahwa aku tak akan bisa menjadi orang kaya, bahkan walaupun aku menguliti seorang konglomerat dan memakaikannya ke tubuhku. Aku tetap tak bisa bahkan ketika aku hidup di tubuh mereka. Mungkin saja perempuan yang kutemui itu bisa. Tapi apa yang membuatnya menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang penjaga pintu tol? Apakah tawaran nasib yang dimiliki oleh kota ini sedemikian kejamnya untuk perempuan seperti dirinya? Ketika kupercakapkan hal ini dengan kenalanku, seorang perempuan lain yang bekerja di SPBU, ia pun naik pitam.

“Kau pikir hanya perempuan buruk rupa saja yang layak menjadi pekerja kasar dan orang tak berpunya?” ujarnya dengan mata yang berapi-api. Untung saja kami tidak sedang berada di SPBU.

Aku tak pernah lagi membahas masalah ini. Kalau pun aku masih penasaran, aku cukup memikirkannya dalam imajinasiku saja. Ia tak pernah tahu, semenjak pertemuan kami yang biasa itu, aku menjadi seorang sopir yang tidak biasa. Aku mampu mengejar trip perjalanan berkali-kali dalam sehari. Biasanya jatahku hanya dua kali pulang pergi Pasar Minggu-Bandara Soekarno Hatta. Tapi kini aku bersikeras ingin menambah trip perjalananku setidaknya tiga kali pulang-pergi. Aku benar-benar memeras keringat. Tanya saja kepada handuk yang bertahun-tahun ada di pundakku itu. Semua itu kulakukan hanya untuk beberapa detik menemuinya sambil tak henti terpesona dengan selera seni yang dimiliki oleh Tuhan atas ciptaannya ini.

Perempuan itu tak pernah menyadari bahwa aku menaruh mata kepadanya. Ia barangkali tidak pernah ambil pusing tentang bau pesing dari ketiakku ketika mengulurkan selembar uang yang remuk untuk membayar tiketnya itu. Tapi entah mengapa aku yang ambil pusing tentang dirinya. Apalagi ketika kupikirkan mengapa ia tak pernah tersenyum kepadaku saat transaksi antara kami berlansung. Apakah ia memperlakukan hal yang sama kepada seluruh pengendara yang singgah di tempatnya?

Untuk itulah aku membeli sebuah parfum di sebuah toko milik seorang lelaki asal kota Padang di Pasar Minggu. Ia mengatakan bahwa ini adalah parfum Paris. Aku yakin dengan cara ini perempuan itu bisa menandai kedatanganku dan membedakan bauku dengan pengendara lain. Tapi ia tidak pernah peduli. Bahkan ketika aku sudah menghabiskan berbotol-botol parfum Paris. Aku menjadi ragu tentang keaslian parfum ini. Tidak, aku tidak akan menyalahkan indra penciumannya. Aku yakin hidungnya yang kecil itu jauh lebih berfungsi dari hidungku yang besar ini.

Maka pada suatu hari, saat beberapa isi dadaku seolah-olah ingin pecah seperti ban belakang bis-ku yang kerap kuganti, aku pun bersikeras ingin mencuri perhatiannya di sebuah senin siang yang sibuk itu. Ketika ia memberikan tiketku yang disertai kembalian uangku, aku pun dengan cepat mencari pandang ke arah papan namanya. Dan sungguh, Elianda adalah nama yang memesona. Aku tak begitu saja langsung berlalu. Aku mencoba menyebutkan namaku.

“Apik. Namaku Apik. Senang menemukanmu disini.”

Namun ia tidak membangun jawaban apapun seolah-olah berbicara bukan bagian dari pekerjaannya. Selama ini bahkan aku tidak pernah mendengar bagaimana suaranya saat mengucapkan kata terima kasih.

Tiba-tiba entah apa, aku merasa ia menyesali kepergianku. Aku hanya merasakan itu ketika aku sekejap menemukan matanya dari kaca spion ketika aku berlalu meninggalkan pintu tol. Ia melongokkan kepala ke arah bis-ku yang berjalan pelan menjauh. Di kaca spion sesaat mata kami beradu pandang. Berhari-hari ini menjadi adegan yang tak terlupakan.

2.

Aku telah menduganya. Elianda, perempuan penjaga pintu jalan itu ambil pikir tentangku. Pada suatu pagi yang gerimis, ketika kopi manis belum sempat aku gubris, aku harus mengantarkan orang-orang ke bandara. Di pintu tol tempat ia bekerja, kami kembali berjumpa. Di robekan tiket yang kuterima ada sebuah catatan yang ditulis dengan sebuah tinta berwarna jingga. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami bahwa itu adalah nomor telfon Elianda. Aku yakin itu bukan nomor telfon Jasa Raharja.

3.

Selalu ada banyak cara untuk bahagia. Deretan angka-angka di balik sobekan tiket yang diberikan oleh Elianda membuktikannya. Tapi aku tak pernah mencoba menghubunginya. Aku lebih suka berbicara dengan bertatap muka. Mendengarkan suara tak pernah begitu menyenangkan bagiku. Elianda tampaknya tak memahaminya. Ia tetap diam dengan wajah yang sedatar jalan raya ketika aku singgah di tempatnya. Seolah-olah ia tak pernah memberikan nomor telfon itu kepadaku.

Kini aku mulai berfikir apakah nomor ini benar-benar nomor telfon pimpinan Jasa Raharja. Kalau memang begitu, untuk apakah nomor ini? Aku ingin ia tahu bahwa aku tak pernah bisa melakukan percakapan telfon. Aku selalu kehabisan kata-kata jika melakukannya. Aku sungguh terpesona melihat penumpang bis-ku yang mampu menghabiskan perjalanan dengan menelfon orang lain yang entah dimana. Sementara dengan seseorang di sebelahnya—di dalam bis, tak terjadi percakapan apapun.

4.

Tapi juga selalu ada banyak cara untuk menderita. Misalnya ketika suatu pagi aku tidak menemukan Elianda di pintu tol menuju bandara. Ada perempuan lain disana, yang tidak seistimewa dirinya. Gerangan apakah yang telah terjadi menimpanya?

Aku mungkin bisa menduga-duga bahwa ia sakit atau dipindahkan ke daerah lain. Jika aku sedikit berlebihan, mungkin saja ia frustasi dan berhenti bekerja karena aku tak kunjung menghubunginya. Tapi aku rasa itu tak cukup masuk akal. Maka aku lakukan saja sesuatu yang masuk akal, yaitu menunggu. Aku sudah cukup terbiasa melakukan penungguan seperti yang kerap aku lakukan setiap hari. Tapi menunggu untuk berjumpa Elianda dan melewatkan detik-detik terhebat selama membayar tiket jalan bukanlah hal yang mudah. Waktu begitu berjalan lambat di dalam diriku. Sementara ia tak kunjung ada di pintu jalan itu.

Ketika rindu hampir menjadi batu yang sewaktu-waktu bisa melempari kewarasanku, aku pun memutuskan untuk menanyakan kepastian diri Elianda kepada seorang perempuan bermuka masam yang menggantikan pekerjaannya. Tentu saja aku tak membutuhkan parfum Paris agar informasi bisa aku peroleh dengan manis.

Ia ternyata tak juga tahu pasti. Namun ia hanya menjawab dengan jawaban yang sangat kutakutkan kebenarannya.

“Kalau tidak salah ia jadi korban ledakan kompor gas, mas.” Jawab perempuan bermuka masam itu.

Dengan seluruh sisa doa yang belum sempat aku ajukan kepada tuhan, aku berharap itu hanyalah informasi yang salah. Jika itu benar, apa yang harus aku perbuat? Nasib datang kepadanya dengan cara yang tak se-elok wajahnya. Pekerjaannya yang sekeras jalan layang itu masih bisa kuterima, tapi kematian akibat ledakan kompor sungguh tak bisa aku terima dengan lapang dada. Betapa buruknya cara malaikat menjemputnya. Memang aku katakan bahwa ia layak menjadi bintang sinetron, tapi tak seharusnya ia mati seperti adegan-adegan di sinetron itu juga. Aku tak sanggup lagi menempuh jalan ini jika sudah begini.

5.

Siapa yang harus aku tuding? Begitu banyak penjual gas di kota ini. Harus kemana aku mencari Elianda. Aku hapal seluruh jalan di kota ini. Termasuk jalan tikus dan jalan kucing jika itu memang ada. Tapi aku tak pernah tahu jalan menuju Elianda. Satu-satunya petunjuk tentang dirinya hanya deretan nomor telfon di balik tiket tol yang ia berikan. Aku telah menghubunginya ketika ketakutan memburuku dari semua penjuru. Nomor itu tak bisa dihubungi.

Kini pintu jalan raya di sepanjang kota ini seperti tak memiliki penjaga. Dalam pikiranku, betapa macetnya Jakarta tanpa dirinya. Elianda adalah penguasa jalan raya yang lenyap oleh kompor gas. Wajahnya yang elok kini senasib dengan ayam bakar kecap.

Tidak kutemukan jalan menuju dirinya. Elianda juga bahkan telah menutup sebuah pintu jalan lain yang justru belum sempat aku masuki. Jalan yang membuatku rela membeli berbotol-botol parfum Paris entah ala Padang atau Pasar Minggu. Aku penasaran berapakah harga tiket yang akan ia kenakan kepadaku. Kemanakah pintu jalan itu mesti aku cari. Perlukah aku menelfon sebuah pabrik gas untuk menanyakan pernahkah ia mengantar sebuah gas bocor ke rumah Elianda?

Padang, 2010





BATU APUNG

13 09 2010

BATU APUNG

ia terima dirinya sebagai batu

tapi dasar kolam tak menerima pada kedalamannya

ketika ia dilemparkan sekuat tenaga

oleh cuaca atau mungkin oleh waktu

ia terima dirinya untuk membenam

tapi betapa ia selalu kembali pada permukaan

walau ia sungguh ingin tenggelam

bercakap-cakap dengan semesta dasar perairan

;

kau terima diriku sebagai batu

kau ingin sekali aku mencapai kedalamanmu

padahal sungguh kau tahu aku adalah batu apung

yang tak pernah benar-benar sampai pada engkau jantung

aku biarkan diriku terkatung

aku terima diriku sebagai batu yang mengapung

dan kau terima dirimu sebagai dasar kolam yang dalam

menanti ketenggelamanku selama bertahun-tahun





BELATUNG INGIN JADI KUPU-KUPU

13 09 2010

BELATUNG INGIN JADI KUPU-KUPU

sebagai ulat busuk aku mengendap-endap menatapmu dari sebuah duri yang rucing
engkau berdiam diri, bersolek dan menikmati angin
menerima diri sebagai pemiliki kelopak yang rekah namun dingin

aku tempuh perjalanan dari daun menuju daun
dari dahan kepada dahan
dari ranting demi ranting
dari runcing demi runcing
bersikeras menunjukkan kaki-kakiku yang menaklukkan perjalanan
meski engkau tak pernah menjatuhkan serbuk sari kepadaku
sebagai tanda bahwa jari-jarimu terbuka untukku

maka aku memohon kepada musim
doa-doa yang remuk kepadanya aku kirim
“berikan aku sutra, berikan aku kepompong yang kosong.
sisa kupu-kupu pecundang pun tak mengapa.”

lalu aku tempuh keinginan-keinginan menemuimu
membiarkan diri dibesarkan oleh cuaca
bersama rasa sakit menahan  ejanan rindu
aku hadapi bagaimana doa-doa yang remuk
menyepuhku menjadi kupu-kupu yang sempurna bentuk

hingga pada bulan juni, dalam nyanyian-nyanyian puisi Sapardi,
kita bertemu sebagai cinta yang berani, jari-jarimu terbuka
dan memberi  tanda
engkau siap menerima lidahku yang seperti pita.
kukepakkan sayapku yang sewarna dengan mahkotamu
agar engkau maklum tentang  rindu telah menjelma bersamanya,
bersama semedi yang sakit
bersama belitan keinginan yang paling rumit

tapi duri di sekujur tubuhmu mengancamku,
duri yang membuat jari-jarimu terluka.
engkau katakan bahwa aku tetap saja belatung busuk yang berpura-pura
memiliki sepasang sayap penuh warna

maka aku pun pulang kepada daun-daun
kubiarkan serangga pemangsa yang melankolis mengutukmu dari jauh.
remah-remah doa yang tumpah aku kumpulkan menjadi satu
barangkali saja, setidaknya akan ada tattoo kupu-kupu yang menyerupai aku
di sekujur tubuhmu





Yang Hendak Diselesaikan.

13 09 2010

Saya dan seorang teman, Rio Fitra SY berencana menerbitkan kumpulan sajak berdua, Saat ini sudah ada materi kasarnya dan sudah dicetak versi dummy-nya. Semoga bisa terlaksana segera.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.