Sajak-sajak Arif Rizki

12 02 2009

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

LOGAM

Logam di matamu itu, Binar; samakah dengan seguyur hujan di hari siang?

mereka katakan di tiap belahan dan simpang,

hujan telah merupa logam;

kita harus segera menggenapkan kepergian. sebelum siang sebenar-benar

bohlam yang membuat mata lebih pejam. lebih padam

tapi kepergian apa yang hendak dihikayatkan?

hutan-hutan itu telah besi, lagu ladang telah derit tembaga

dan tiup angin mengepung seumpama janji yang bundar

di lipat almanak yang usang

kita tak segera dewasa dengan jam dinding yang hilir

mudik itu. tapi kita akan menulis epilog sederhana;

tentang hujan yang membuat luka di lidah

atau pohon-pohon yang mentah

dan kau, Binar. jika benar air mata

telah menggenang seumpama logam yang runyam,

dan kepundan dari gunung yang tumbuh dari kediam-diaman kita,

siapkanlah tarian untuk hujan, angin dan hutan

yang telah besi dan telah tembaga itu;

sekedar tanda bahwa kita gagal memanen cinta

Ruangsempit, 2008

GURUN

pasir yang jatuh dari waktu. kuhirup seumpama candu

lalu menjadi gurun dalam diriku

sebagai cawan bagi para pejalan

yang gemetar dengan kepulangan

ada lubuk pula disitu, tempat kau mencuci muka,

berkaca dan meminum tuba usia

“ada musim yang tak singgah, mampirlah untuk berlelah”

dan merendam badan ke dalam badanku:

tempat kita seharusnya bertamu

Ruangsempit, 2008

ULAR DAN APEL

dan kucatat segurat kalimat di belah dadamu;

sesuatu telah berguncang melebihi tipuan ular dan apel

yang membuat langit lebih kerap hitam dan tebal

pertemuan di pangkal itu menyisakan sebidang taman

yang lalu kita tanami pohon yang berakar dari ciuman.

hingga ketika aku menghirup waktu dari tubuhmu, ada urat

yang tumbuh di badan kita. (ada ular dan apel disana)

kita sekiranya terlalu bertanam

hingga mata kita rimbun untuk bertatapan

maka barangkali kita perlu membakar ladang ini

kemudian tidur tanpa gusar hujan

walaupun terbangun dengan gigi

yang dipenuhi ampas khuldi

Ruangsempit, 2008

MANEKIN

Manekin O Manekin

aku mencintai nafas yang bukan hidungmu

yang bukan jantungmu

yang bukan paru-parumu

Manekin O Manekin

aku mencintai gerak yang bukan tanganmu

yang bukan kaki-kakimu

yang bukan badanmu

sebab kau lebih nafas

lebih hidung

lebih jantung

lebih paru-paru

dan kau sangat tangan

sangat kaki

sangat badan

hingga aku mati dalam penciptaan

Ruangsempit, 2008

TIGA CAMBUNG

awalnya ialah hujan. hujan yang menjatuhkan semua peristiwa

yang dicatat sungai, laut, hutan bakau, danau buaya, genangan rawa

dan juga air matamu

awalnya ialah hujan. hujan yang merupa selingkar air yang tak kita temui

dimanakah ia berpangkal. tapi kita tahu ia berujung di tiga cambung.

cambung yang menampung semua ingatanmu pada pokok rindu.

benarkah kata seseorang bahwa segala laku adalah rindu?

“rindu dalam diri. rindu dalam tiga cambung.”

cambung bercorak hitam, tempat rindu seburuk musim batu,

sebusuk rindu yang merupa candu

abu-abu! tempat bertanam bunga. tempat memeram

segala bentuk cinta.

namun cinta ialah penjelasan yang tak hendak kita dengar

dari dunia. karena awalnya adalah hujan. dan kita tak selalu

ingin bermandian ke dalamnya. “kita perlu banyak cambung putih”

untuk menghujani cinta yang kerontang.

“tapi kita membakar semuanya”

dengan musim bara yang cukup sederhana

dan kita harus menangis untuk memadamkan

kobar apinya.

Ruangsempit, 2008


Tindakan

Information

2 tanggapan

22 02 2009
riosy

saya meninggalkan komentar di sini

3 02 2011
uni

ah.. lama ga update juga banyak yang baru uda’.. :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.