Menjadi Tuhan

17 02 2009

lifedu1Ketika arus materailisme yang digawangi oleh Karl Marx berkembang di Jerman di akhir abat 18 meredup, sejarah mencatat sebuah arus pemikiran baru yang dikenal dengan Neo Kantianisme. Banyak filsuf Jerman yang tidak puas dengan ide-ide Materialisme Marx atau Hegel, positivisme Aguste Comte maupun evolosionisme Charles Robert Darwin. Arus pemikiran Neo Kantianisme ini muncul dengan ide untuk kembali kepada filsafat kritis, yang bebas dari spekulasi idealisme serta positivisme dan materialisme yang cenderung dogmatis. Gerakan ini jelas dipelopori oleh para murid Kant seperti Paul Natrop (1854-1924), Heinrich Reickhart (1863-1939), dan Herman Cohen (1842-1918).

Yang paling mencolok dari murid-murid Kant ini adalah Herman Cohen. Salah satu pemikirannya yang fenomenal adalah tentang keyakinannya pada otoritas akal manusia untuk mencipta (to create). Intinya—jika kita hubungkan kepada teologi, baginya tuhan bukan sebagai person, melainkan sebuah resolusi dari semua attitude manusia. Dalam hal ini jelas, apa yang dimaksud Cohen tak lebih dari “tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi tuhan.” Jika kita tetap percaya pada teori evolusi, maka dalam konteks ini evolusi terakhir manusia adalah untuk menjadi tuhan.

Lalu apakah relevansinya terhadap kondisi kekinian?

Mengevaluasi pemikiran Cohen di atas kita bisa mengaitkannya dengan fenomena yang sering terjadi saat ini. Kita barangkali sepakat dengan pemikiran itu bila memperhatikan begitu banyaknya kemunculan aliran sesat yang mengusung para tuhan dan nabi baru. Dengan mengaku mendapat ilham ketika tidur atau bertapa, seseorang bisa saja esoknya mendeklarasikan kepada publik bahwa ia telah ‘dilantik’ menjadi tuhan. Tuhan dan nabi baru itupun bermacam-macam. Ada yang sedikit konvensional dengan tetap memeluk suatu agama—islam misalnya, hanya saja ajarannya sangat menyimpang. Misalnya dengan mengadakan pesta seks dan beribadah sekali seminggu dalam keadaan telanjang. Lalu ada yang teramat radikal, yang membangun sebuah agama baru dan menerbitkan kitab suci baru sebagai panduan hidup bagi para pengikutnya.

Keberadaan tuhan-tuhan baru ini jelas mengaduk-aduk semua kepercayaan yang selama ini kukuh dan dipeluk erat oleh masyarakat. Orang-orang yang berada pada pihak opposisi atau yang selama ini konsisten dengan kepercayaan mereka jelas sangat terguncang dengan peristiwa ini. Dalam perspektif agama manapun, kita tetap akan memandang mereka sebagai sebuah duri dalam jantung.

Kemudian baru-baru ini kita menyaksikan sebuah fenomena baru yang mengguncang keberadaan science; dukun cilik yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dukun cilik yang memiliki batu ajaib ini menggegerkan ilmu kedokteran hanya dengan menyembuhkan ribuan pasien dengan sebuah batu yang ia dapati setelah petir menyambar. Yang mengejutkan adalah, si dukun cilik bahkan tidak memerlukan berbagai macam mantra (seperti dukun kebanyakan) untuk setiap penyakit yang dihadapi. Ia hanya mencelupkan batu ajaibnya itu ke dalam air dengan muka yang less expression. Fenomena ini menunjukkan dua hal kepada kita. Pertama, masyarakat kita masih didominasi oleh masyarakat yang irrasional. Mengenai hal ini mungkin kita bisa sedikit mafhum, karena dari dahulu kita dibesarkan oleh mitos-mitos dan dongeng-dongeng berbau mistis oleh orang tua kita. Kedua, si dukun cilik seolah-olah menggantikan peran tuhan dengan memberikan penawar (walaupun sifatnya plazebo) terhadap penyakit orang-orang kita yang pendek akal. Dan orang-orang yang pendek akal ini kemudian menuhankan si dukun cilik itu. Hingga evolusi itu terjadi.

Kemunculan fenomena-fenomena ini barangkali hanya sebuah permulaan walaupun dari dulu kita juga telah mengenal berbagai macam aliran kepercayaan. Hanya saja kita bisa saja satu pendapat bahwa manusia sangat terdorong untuk menjadi tuhan bila kita mengamati semua fenomena tersebut. Barangkali kehendak untuk menjadi tuhan ini hampir seragam dengan apa yang dikatakan Nietzsche bahwa kehendak manusia adalah untuk berkuasa (the will to power) terhadap yang lainnya. Namun dengan mengamati posisi kita yang berada di tengah-tengah kutub, antara semua isme-isme yang berlaku di kepala kita, barangkali kita hanya membutuhkan satu senjata saja; yaitu critical thingking. Setidaknya hal ini mampu menghumanisasi kita lalu kembali berpikir siapakah yang sebenarnya menciptakan dan yang diciptakan?





The Simulacra of Politic

12 02 2009

Tahun 2009 adalah tahun yang penuh debar. Ruang-ruang publik dan ruang-ruang politik telah bercampur-baur dengan slogan-slogan, spanduk dan poster-poster para elit yang menawarkan berbagai macam tanda yang akhirnya mengarak-arak semuanya kepada sebuah isu simulakra politik yang menawarkan sebuah realitas dimana tanda dan cintra telah terdistorsi, tereduksi, menyimpang, terkikis, bergeser dan kabur dari realitas yang sebenarnya. Kita digiring masuk kedalam sebuah ruang yang penuh alibi, tak ada satupun tersangka di situ.

Simulakra politik dapat dipahami sebagai suatu keadaan dimana realitas kita telah diaduk-aduk oleh tanda-tanda yang mengakibatkan kita mengalami sebuah false consciousness (kesadaran semu). Spanduk-spanduk yang bertebaran di jalan-jalan atau slogan-slogan tentang perubahan dari para elit menjelang Pemilu 2009 ini membuat kita percaya bahwa mereka adalah tokoh protagonist seperti Robin Hood, Superman, Si Pitung atau Jaka Tarub yang muncul sebagai resolusi semua catatan permasalahan dalam hidup. Para ‘hero’ itu mengganti realitas kita dengan sebuah realitas lain dan kita tak menyadari pergantian itu. Baudrillard menggunakan istilah ‘hyper realitas’ untuk kasus seperti ini. Kita dapat melihat banyaknya iklan-iklan politik yang dijadikan sebagai media pencitraan diri para ruller elit. Ada iklan yang menganggap negeri sudah terlalu bobrok sehingga perlu perubahan, ada pula yang malah mengatakan negeri ini telah menggenapi berbagai macam kemajuan dalam bidak ekonomi, sosial maupun kultural, dan ada pula yang menganggap negeri ini sudah terlalu jauh ketinggalan sehingga membutuhkan pahlawan. Iklan-iklan politik inilah yang dimaksud dengan simulakra politik yang mempermainkan realitas kita sehingga kita menerima kenyataan bahwa hiper realitas itu adalah realitas kita sendiri.

Dalam abad informasi yang telanjang ini, tanda dan citra dimainkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks politik, pencitraan-pencitraan sangat efektif untuk mencapai tujuan itu. Permainan tanda-tanda dan citra, membuat kita tak mampu membedakan siapakah sebenaranya penjahat, pencuri, pembunuh ataupun penipu dari wajah-wajah yang tergambar di spanduk-spanduk di seluruh jalan. Sebab semuanya terlihat seperti Superman, Robin Hood dan bahkan menyerupai Jaka Tarub dan Si Pitung. Sehingga pilihan seperti apapun tetap akan membuat kita percaya bahwa merekalah pahlawan kesiangan itu.





REALITY SHOWS: SEBUAH PERTUNJUKAN KRISIS IDENTITAS DAN PERAN KAPITALISME MEDIA MASSA

12 02 2009

35544

Televisi sebagai media dari budaya popular menghasilkan berbagai macam program yang dapat disaksikan oleh semua kalangan di dunia pada umumnya. Program-program tersebut sangat variatif, dimulai dari acara yang edukatif seperti berita, talk show tentang politik, keagamaan, hingga yang menghibur seperti film, sinetron maupun olah raga. Program-program tersebut selalu berkembang sesuai kebutuhan zamannya sehingga banyak bermunculan tayangan-tayangan baru yang membuat acara televisi semakin beragam. Salah satu program tersebut adalah Reality show yang memotret atau mendokumentasikan kehidupan seseorang atau persitiwa yang tidak direkayasa sama sekali. Siahaan (2004) mendefenisikan reality show tersebut sebagai suatu jenis program televisi yang mendokumentasikan rekayasa realitas tanpa skenario dan artis pendukung.

Di Amerika, program tersebut mulai dikenal dengan kemunculan Nightwatch di tahun 1954 yang merekam bagaimana polisi kota Culver, California, dalam mengerjakan tugasnya (Victoria: 2007). Di Indonesia, acara sejenis mulai muncul pada akhir tahun 2000an. Umumnya acara ini bertujuan untuk memberikan hiburan alternatif dengan menghadirkan sebuah gambaran realitas yang didokumentasikan tanpa naskah. Awalnya acara tersebut memperlihatkan proses pembangunan kembali rumah orang-orang yang berasal dari kalangan ekonomi rendah, pembangunan tempat ibadah, kehidupan orang-orang urban dan aktifitas-aktifitas orang-orang yang berpotensi memberikan inspirasi bagi penonton program tersebut. Akan tetapi dalam perkembangannya, banyak jenis reality show baru yang bermunculan dengan tema-tema yang tidak inspiratif seperti hubungan antar remaja dengan lawan jenis dan gambaran kehidupan sehari-hari seorang artis terkenal yang tujuan utamanya hanya menambah populeritas artis yang bersangkutan. Bahkan reality show saat ini telah membuka ruang-ruang yang dianggap tabu dengan alasan menghibur publik. Hal tersebut diduga tidak dapat dilepaskan oleh peran kapitalis sebagai pemilik modal yang memungkinkan kemunculan acara tersebut di media massa.

Kemunculan reality show sebagai media komunikasi publik diduga berpotensi mereduksi nilai-nilai moral dan mengikis identitas masyarakat Indonesia. Program tersebut juga dianggap mampu mengubah realitas publik dan menggantinya dengan realitas yang ada dalam reality show tersebut. Sunardi dalam Strinati (2007) mengatakan bahwa dewasa ini kita tidak lagi bisa bicara fungsi media untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan manusia, namun media telah mengatur perasaan, gagasan dan cara pandang manusia. Untuk itu tulisan ini akan dianalisa seberapa jauh reality show sebagai representasi media di Indonesia mengubah dan mengkonstruksi gagasan dan identitas publik serta hubungannya dengan peran kapitalisme media massa yang menjadikan publik sebagai komoditi yang menguntungkan.

Terdapat banyak sekali jenis dan penggolongan reality show di pertelevisian Indonesia. Tulisan ini mengambil dua buah sampel reality show yang saat ini banyak menarik perhatian publik, yaitu Termehek-mehek yang ditayangkan di Trans TV dan Orang Ketiga yang ditayangkan di stasuin TV yang sama.

Berdasarkan sebuah polling yang dilakukan di internet, ada dua reality show yang cukup banyak mendapat perhatian publik yaitu Termehek-mehek dan Orang Ketiga yang ditayangkan di Trans TV. Kedua program tersebut hampir memiliki konsep yang sama, yaitu memberikan solusi bagi peserta yang memiliki masalah tertentu seperti hubungan dengan lawan jenis, pertemanan dan keluarga. Masalah tersebut dipecahkan dengan menggunakan cara yang telah disusun oleh program acara tersebut seperti menyelidiki seorang yang menjadi target penyelidikan selama berhari-hari dan secara rahasia. Penyelidikan tersebut biasanya dilakukan secara tidak terorganisir karena pihak penyelanggara acara tidak dapat memprediksi setiap tindakan objek penelitian mereka. Terkadang mereka tidak memperoleh hasil apa-apa dan gagal membuktikan asumsi-asumsi yang diajukan klien terhadap target penyelidikan.

Ada hubungan produksi-konsumsi yang saling terkait antara peserta, pihak penyelenggara program dan penonton (publik). Permasalahan peserta diproduksi dan diolah oleh pihak penyelenggara acara, lalu dikemas semenarik mungkin sehingga memenuhi selera publik yang mengkonsumsi acara tersebut. Kuantitas permasalahan yang dihadapi oleh peserta dan konflik yang terjadi ketika masalah tersebut dipecahkan menciptakan sebuah tegangan yang dimanfaatkan oleh pihak penyelenggara untuk mengemas acara tersebut terlihat menarik di telivisi. Ketegangan-ketegangan tersebut menjadi alat untuk menarik perhatian publik. Semakin tinggi konflik atau tegangan yang dimunculkan, akan berdampak semakin tinggi pula daya konsumsi publik yang mengakibatkan semakin tinggi pula income yang diperoleh oleh pihak penyelenggara acara tersebut.

Program reality show pertama yang menarik perhatian adalah Termehek-mehek. Acara ini mulai muncul di pertelivisian Indonesia di awal tahun 2008. Acara ini langsung mendapat perhatian dari publik karena acara ini menayangkan dengan berani sebuah gambaran realita kehidupan seseorang yang terkadang lucu atau menyedihkan.

Konsep program ini yaitu memecahkan masalah klien yang dianggap menarik bagi kedua belah pihak. Masalah tersebut biasanya seputar masalah pencarian anggota keluarga yang hilang, menyingkap hubungan seseorang dengan lawan jenis yang merugikan klien, atau menyelidiki status seseorang yang berhubungan dengan klien tersebut. Masalah ini dipecahkan secra spekulatif dengan sistem penyelidikan rahasia selama berhari-hari. Penyelidikan ini dilakukan oleh klien dan dibantu oleh beberapa orang kru yang menggunakan kamera tersembunyi. Untuk memudahkan penyelidikan, tim ini memanfaatkan tekhnologi komunikasi untuk menjaga interaksi antara klien dengan target penyelidikan. Interaksi tersebut dilakukan secara kontinuitas agar para kru tidak kehilangan jejak target penyelidikan tersbut. Interaksi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton karena penonton secara langsung juga bisa mengetahui apa yang dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Penyelidikan terhadap target dilakukan dengan cara mengikuti kemana saja target tersebut pergi secara rahasia. Para kru mengamati setiap tingkah laku yang dilakukan target dengan merekamnya secara langsung dengan kamera tersembunyi. Untuk memudahkan penyelidikan, misalnya menyelidiki status seseorang, para kru menggali informasi kepada semua orang yang memiliki hubungan dengan si target penyelidikan. Hal itu dilakukan juga tanpa sepengetahuan target acara tersebut.

Klimaks acara ini yaitu dengan menyingkap rahasia target penyelidikan yang sangat dibutuhkan oleh klien tersebut. Klimaks ini menjadi inti dari semua penyelidikaan program ini. Klimaks acara ini memberikan terkadang membenarkan spekulasi klien terhadap target, namun terkadang tidak membuktikan apa-apa. Hal tersebut memberikan efek emosional terhadap klien seperti bahagia ataupun sebaliknya. Hal tersebut juga terjadi pada reality shows Orang Ketiga yang lebih menspesifikkan tema mereka, yaitu mengenai hubungan dengan lawan jenis. Klimaks acara ini juga hampir sama dengan program Termehek-mehek, yaitu terkadang membuktikan bahwa target memiliki hubungan lain selain dengan klien, dengan alasan inilah program ini diberi nama Orang Ketiga.

Dengan menganalisa kedua reality show diatas, dapat dipahami bahwa motivasi sesorang untuk mengikuti program reality show ini adalah untuk memecahkan masalah yang solusinya hanya dimilki oleh pihak penyelenggara reality show tersebut. Hal tersebut memperlihatkan bahwa secara tidak langsung reality show dengan politik media massa telah menghegemony pihak yang menjadi kliennya, karena klien yang bersangkutan merasa telah menemukan jawaban yang tepat bagi masalahnya ketika ia direkrut untuk menjadi peserta acara tersebut. Dengan menawarkan solusi-solusi yang menarik bagi publik atau pesrta yang memliki permasalahan, reality show secara tidak langsung telah menanamkan ideologinya kepada klien yang bersangkutan sehingga ia meyakini bahwa dengan mengikuti program tersebut adalah solusi yang paling efektif. Hal ini memperlihatkan adanya kesadaran semu (false consciousness) yang dialami oleh peserta tersebut. Solusi spekulatif yang ditawarkan oleh pihak penyelenggara mengkonstruksi pola pikir klien tersebut yang akhirnya membuat ia membenarkan solusi yang ditawarkan. Kesadaran semu tersebut muncul karena klien tersebut hanya menyadari bahwa solusi tersebut adalah solusi yang tepat karena memiliki fakta-fakta empiris dan didukung oleh beberapa orang kru yang berpengelaman, tanpa mempertimbangkan timbulnya masalah baru bagi dirinya sendiri seperti terbukanya aib dirinya dan keluarganya atau merusak hubungan sosialnya dengan orang lain. Kesadaran semu itu juga dipengaruhi oleh reward yang diberikan kepadanya atas kontribusinya dalam mensukseskan program televisi tersebut yang beupa sejumlah uang atau souvenir dari sponsor.

Hal diatas tidak terlepas dari politik kapitalisme media massa. Media massa memilki berbagai macam cara untuk menarik perhatian publik agar terus mengkonsumsi produk-produk yang diciptakan. Media massa memiliki strategi-strategi yang mampu mengubah gagasan-gagasan seseorang sehinnga memudahkannya untuk mengontrol tingkah laku orang lain. Lyotard dalam Piliang (1998) mengatakan bahwa para kapitalis seperti mucikari yang menggunakan segala bentuk trik untuk mengkomersialkan setiap rangsangan libido demi memperoleh nilai tambah. Mereka mengeksloitasi kegairahan secara tanpa batas. Dalam konteks reality show, para produsen program telivisi mengekploitasi permasalahan yang dialami oleh klien untuk memperoleh profit yang besar. Mereka memancing permasalahan dan mengemasnya agar menarik dan mendapat keuntungan finansial. Kuantitas permasalahan yang dialami menjadi salah satu faktor yang menentukan kuantitas keuntungan yang akan didapatkan oleh kapitalis.

Ketika tema atau permasalahan yang diusung oleh reality show menarik, akan berdatangan para sponsor yang mengkomersialisasikan produk-produk mereka melalui iklan yang memberi keuntungan kepada pihak penyelenggara reality show tersebut. Dampak positif luar biasa dirasakan oleh media yang menayangkan reality show adalah peningkatan rating dan share. Rating adalah persentase penonton acara itu dari keseluruhan pemirsa yang menonton televisi. Share adalah persentase penonton acara itu dari keseluruhan pemirsa yang menonton televisi saat itu. Peningkatan rating dan share meningkatkan pemasang iklan dalam tayanagan televisi tersebut, sehingga pendapatan stasiun televisi semakin bertambah. Sebuah riset kuantitatif yang dilakukan di tahun 2005 oleh Halida mencatat bahwa contoh spot iklan sebuah acara reality show diantre oleh para produsen, tiap spot (30 detik) dihargai Rp 18 juta. Pada sebuah acara kontes bakat yang berdurasi tiga jam, sepertiga diisi dengan iklan dengan pendapatan sebesar Rp 3,24 milliar. Belum lagi keuntungan yang diperoleh dari sms premium (Rp 2000/sms) yang diperkirakan rata-rata mencapai Rp 10 milliar untuk setiap episode. Dari hasil riset ini dapat dipahami bahwa tujuan utama dari pembuatan program reality show ini untuk meraih untung sebesar-besarnya bagi kapitalis itu sendiri. Keuntungan tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan masalah-masalah yang dialami klien dan mengemasnya menjadi acara yang menarik bagi publik dan menjadi solusi sangat efektif bagi yang klien yang bersangkutan.

Permasalahannya adalah, klien yang bersangkutan—karena dipengaruhi oleh kesadaaran semu tersebut, selalu tidak menyadari bahwa mereka telah dimanfaatkan oleh produser acara reality show tersebut. Para klien tidak memahami bahwa mereka menjadi komoditi yang dieksploitasi oleh kapitalis hanya untuk meraih keuntungan finansial bagi mereka saja. Sistem yang saling menguntungkan antara produser dengan klien dapat dikatakan sebuah kamuflase saja, karena pada kenyataannya hanya produser program ini saja yang diuntungkan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat klimaks acara reality show tersebut. Klimaks acara ini umumnya memberikan efek yang merugikan kepada klien secara emosional. Klien yang tidak siap dengan kondisi yang mengejutkan di klimaks acara ini membuat yang bersangkutan tidak bisa mengendalikan diri. Akibatnya, klien tersebut justru mendapatkan masalah-masalah baru yang tidak diduga sebelumnya seperti terbukanya aib dirinya dan keluarganya, perkelahian, merusak hubungannya dengan target yang bersangkutan atau malah mendapatkan permasalahan psikis karena ia tidak dipersiapkan oleh penyelenggara acara untuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga. Kemungkinan yang tidak terduga itu tidak direspon baik oleh penyelenggara/kru dengan ikut menyelesaikannya, akan tetapi tetap merekam peristiwa tersebut dan mengkomersialisasikannya untuk menarik perhatian publik. Dalam kasus ini jelas yang dirugikan adalah klien yang telah mengikuti program tersebut. Hal inilah yang dimaksud dengan peran klien bukan sebagai pengguna jasa reality show, melainkan sebagai komoditi yang diekploitasi oleh reality show itu sendiri.

Reality shows tersebut juga mengikis budaya timur masyarakat Indonesia. Bagaimanapun, program ini adalah adaptasi dari program serupa yang berkembang di dunia barat. Dengan mengadaptasi program ini berarti Indonesia secara tidak langsung mengadaptasi pola budaya barat yang berakar dari konsumsi media massa. Victoria (2007) mengatakan bahwa dalam pertelevisian, produk budaya secara luas dideteminasi oleh budaya yang sedang berlansung. Dengan demikian, reality show berpotensi mendeterminasi budaya-budaya masyarakat Indonesia. Apapun yang ditampilkan oleh media massa akan memberikan efek terhadap publik yang mengkonsumsinya.

Perkembangan media massa di era post-modern ini juga berpotensi mereduksi nilai-nilai budaya yang telah mapan serta nilai-nilai moral. Sunardi dalam Strinati (2007) mengatakan bahwa media dan konsumsi menggeser ikatan sosial yang semula mementingkan aspek moral dan ikatan estetik. Dengan kehadiran reality show seperti Termehek-mehek dan Orang Ketiga dapat mengikis aspek moral yang dimilki oleh budaya timur yang disebabkan oleh ideology kapitalsi tersebut. Akibatnya, masyarakat seperti mengalami krisi identitas.

Dengan menganalisa kedua reality show di Indonesia, dapat dilihat ada dua buah bentuk krisis identitas. Pertama, acara reality shows tersebut dapat dikategorikan ke dalam krisis identitas yang dialami oleh media televisi Indonesia. Gagasan untuk mengadaptasi program reality show ke pertelevisian Indonesia mengindikasikan bahwa pertelivisian Indonesia belum mapan. Pertelevisian Indonesia tidak mampu mempertahankan identitas budaya timur yang sangat jauh berbeda dengan budaya barat. Globalisasi memang merambah ranah-ranah budaya Indonesia di zamaan pos modern, namun gagasan untuk mengadaptasi reality show ke dalam pertelevisian Indonesia memperlihatkan budaya Indonesia kehilangan pegangan. Hal tersebut merepresentasikan hilangnya identitas budaya timur yuang melekat di Indonesia yang juga dimotivasi oleh keuntungan finansial yang melimpah.

Bentuk krisis identitas kedua dialami oleh klien reality show tersebut. Dengan mengikuti program ini menandakan bahwa klien yang bersangkutan tidak mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa bantuan para kru program ini. Krisis identitas tersebut juga dapat dilihat dari tidak adanya awareness dari klien bahwa ia telah dimanfaatkan oleh para kapitalis. Ia tidak menyadari bahwa ia telah menjadi komoditi yang menguntungkan secara finansial untuk kapitalis. Dengan menjadi klien reality show, klien menunjukkan identitas dirinya yang tidak punya resistensi terhadap bentuk-bentuk eksploitasi dan hegemony. Kesemua itu merepresentasikan bahwa identitas masyarakat Indonesia yang mengikuti program reality show menjadi pertanyaan besar.

Efek kehadiran reality show ini membuat masyarakat khususnya klien program ini mengalami kesadaran semu. Klien merasa telah diuntungkan dengan mengikuti program ini, namun sebaliknya dialah yang dimanfaatkan untuk meraih keuntungan bagi kapitalis. Kesadaran semu inilah yang membuat acara reality show ini seperti sebuah pertunjukan krisis identitas masyarakat Indonesia.





Sajak-sajak Arif Rizki

12 02 2009

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

LOGAM

Logam di matamu itu, Binar; samakah dengan seguyur hujan di hari siang?

mereka katakan di tiap belahan dan simpang,

hujan telah merupa logam;

kita harus segera menggenapkan kepergian. sebelum siang sebenar-benar

bohlam yang membuat mata lebih pejam. lebih padam

tapi kepergian apa yang hendak dihikayatkan?

hutan-hutan itu telah besi, lagu ladang telah derit tembaga

dan tiup angin mengepung seumpama janji yang bundar

di lipat almanak yang usang

kita tak segera dewasa dengan jam dinding yang hilir

mudik itu. tapi kita akan menulis epilog sederhana;

tentang hujan yang membuat luka di lidah

atau pohon-pohon yang mentah

dan kau, Binar. jika benar air mata

telah menggenang seumpama logam yang runyam,

dan kepundan dari gunung yang tumbuh dari kediam-diaman kita,

siapkanlah tarian untuk hujan, angin dan hutan

yang telah besi dan telah tembaga itu;

sekedar tanda bahwa kita gagal memanen cinta

Ruangsempit, 2008

GURUN

pasir yang jatuh dari waktu. kuhirup seumpama candu

lalu menjadi gurun dalam diriku

sebagai cawan bagi para pejalan

yang gemetar dengan kepulangan

ada lubuk pula disitu, tempat kau mencuci muka,

berkaca dan meminum tuba usia

“ada musim yang tak singgah, mampirlah untuk berlelah”

dan merendam badan ke dalam badanku:

tempat kita seharusnya bertamu

Ruangsempit, 2008

ULAR DAN APEL

dan kucatat segurat kalimat di belah dadamu;

sesuatu telah berguncang melebihi tipuan ular dan apel

yang membuat langit lebih kerap hitam dan tebal

pertemuan di pangkal itu menyisakan sebidang taman

yang lalu kita tanami pohon yang berakar dari ciuman.

hingga ketika aku menghirup waktu dari tubuhmu, ada urat

yang tumbuh di badan kita. (ada ular dan apel disana)

kita sekiranya terlalu bertanam

hingga mata kita rimbun untuk bertatapan

maka barangkali kita perlu membakar ladang ini

kemudian tidur tanpa gusar hujan

walaupun terbangun dengan gigi

yang dipenuhi ampas khuldi

Ruangsempit, 2008

MANEKIN

Manekin O Manekin

aku mencintai nafas yang bukan hidungmu

yang bukan jantungmu

yang bukan paru-parumu

Manekin O Manekin

aku mencintai gerak yang bukan tanganmu

yang bukan kaki-kakimu

yang bukan badanmu

sebab kau lebih nafas

lebih hidung

lebih jantung

lebih paru-paru

dan kau sangat tangan

sangat kaki

sangat badan

hingga aku mati dalam penciptaan

Ruangsempit, 2008

TIGA CAMBUNG

awalnya ialah hujan. hujan yang menjatuhkan semua peristiwa

yang dicatat sungai, laut, hutan bakau, danau buaya, genangan rawa

dan juga air matamu

awalnya ialah hujan. hujan yang merupa selingkar air yang tak kita temui

dimanakah ia berpangkal. tapi kita tahu ia berujung di tiga cambung.

cambung yang menampung semua ingatanmu pada pokok rindu.

benarkah kata seseorang bahwa segala laku adalah rindu?

“rindu dalam diri. rindu dalam tiga cambung.”

cambung bercorak hitam, tempat rindu seburuk musim batu,

sebusuk rindu yang merupa candu

abu-abu! tempat bertanam bunga. tempat memeram

segala bentuk cinta.

namun cinta ialah penjelasan yang tak hendak kita dengar

dari dunia. karena awalnya adalah hujan. dan kita tak selalu

ingin bermandian ke dalamnya. “kita perlu banyak cambung putih”

untuk menghujani cinta yang kerontang.

“tapi kita membakar semuanya”

dengan musim bara yang cukup sederhana

dan kita harus menangis untuk memadamkan

kobar apinya.

Ruangsempit, 2008





KERANDA HUJAN

12 02 2009

bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.

menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.

ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah

petuah yang kau kepalakan setingginya

ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu

kau minta aku membacanya

aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.

sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku

aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga

masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu

kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.

dan kau tak akan memugar payung bukan?

diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu. kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?

RuangSempit, 2008





PERISTIWA PULANG

12 02 2009

di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin

yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata

dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.

sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.

bukan di gerbang stasiun atau rel karatan

kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan

kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja

matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi

hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.

dan matamu tetap saja air tawar

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8





BATU BATIKAM

12 02 2009

usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.

kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi

merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak

yang menggenangi badan kita

hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada

dan langkahku kau genggam di hulunya.

juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,

tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita

di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam

maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam

RuangSempit, 2008

Padang Ekspress, Maret 2oo8





Tidak Semua Film Indonesia Film Murahan

12 02 2009

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


Menurut para ahli, kemajuan teknologi komunikasi menjadi penanda habisnya era modern dan digantikan dengan era post-modern. Maka untuk membicarakan zaman yang dipenuhi tanda ini, tidak bisa kita kesampingkan segala yang berhubungan dengan media baik cetak maupun elektronik, karena semua media tersebut sangat berperan penting sebagai penanda zaman yang kemudian mengkarakterisasi suatu kelompok manusia atau bangsa. Pembicaraan mengenai media informasi salah satunya tidak akan bisa dilepaskan dengan televisi, karena mesin audio-visual ini sudah menjadi kebutuhan primer bagi semua lapisan masyarakat. Seperti kotak Pandora dalam sebuah mitologi Yunani, mesin ini menyimpan beraneka macam dampak negatif sekaligus manfaat positif. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan memperhatikan fenomena yang terjadi di masyarakat, ada yang menjadi banal dan ada yang berbudi luhur karena dipengaruhi oleh subversivitas televisi tersebut.

Ini memang sudah menjadi pembahasan usang bahwa jika televisi menayangkan program yang edukatif, maka yang menontonnya akan ikut terdidik dan kemudian berperilaku baik. Tapi jika program-program televisi menampilkan peragaan-peragaan kekerasan, kejahatan dan perbuatan yang unedukative, maka setidaknya beberapa orang akan mengimitasi apa yang mereka saksikan di televisi tersebut yang berkibat negatif terhadap hidup mereka masing-masing. Hal senada pernah diungkapkan oleh Yasraf Amir Piliang (1998) bahwa kehidupan masyarakat konsumer dewasa ini banyak dipengaruhi sifat-sifat glamour, dangkal, material, vulgar, anarkis, immoral, transparan di semua sudut kehidupan yang disebabkan oleh pendistribusian makna yang banyak disampaikan oleh media massa serupa Televisi. Pendapat Piliang tersebut cukup merepresentasikan bahwa televisi mempunyai daya pengaruh yang kuat yang bisa memberikan dampak-dampak negatif .

Dampak negatif tersebut diperlihatkan oleh Ardiansyah dalam tulisannya “Film Indonesia Film Murahan” (Singgalang, 7 September 2008). Dalam tulisan tersebut Ardiansyah mengungkapkan bahwa televisi dewasa ini sudah menjadi media yang menyayangkan film-film yang kurang berkualitas khususnya di Indonesia. Menariknya, Ardiansyah mengklasifikasi sifat-sifat perfilman Indonesia dewasa ini, misalnya tidak mempunyai tujuan yang jelas, menjual mimpi, musiman dan saduran. Masalahnya adalah benarkah semua film Indonesia seperti itu?

Jika kita menilai judul tulisan “Film Indonesia Film Murahan” tersebut, kita akan sampai pada dua pemahaman. Pertama pemahaman denotatif, yaitu film Indonesia dibuat dengan biaya seadanya yang memberikan kesan bahwa film Indonesia adalah film murah(an). Jika itu benar tentu Ardiansyah cukup keliru karena kita tahu biaya produksi yang dibutuhkan untuk membuat sebuah film sangat mahal. Belum lagi biaya pasca-produksi yang kerap membuat para sineas kelabakan. Tetapi tentu saja kata “murahan” yang dimaksudkan oleh Ardiansyah mengacu kepada pemahaman konotatif, yaitu tema, cerita dan isi film Indonesia sangat tidak bermutu jika dibandingkan dengan karya-karya pembuat film dari barat. Hal itu langsung dapat kita temui langsung dalam tulisan Ardiansyah yang mengungkapkan “jika kita teliti lebih dalam film-film yang acap kali disuguhkan atau film-film yang dilempar ke pasaran kebanyakan adalah film-film murahan, film seperti ini lebih bersifat menjual mimpi, cinta, kebohongan serta pembodohan, dan terkadang film ini tidak mempunyai tujuan yang jelas.” Kutipan tersebut merepresentasikan pendapat si penulis terhadap perfilman Indonesia akhir-akhir ini bahwa banyak terdapat ketimpangan-ketimpangan yang membawa dampak buruk bagi masyarakat Indonesia sendiri. Pendapat tersebut cukup tepat jika kita hubungkan dengan realitas saat ini yang memperlihatkan betapa masyarakat cukup terbodohi dan terpengaruh oleh film-film Indonesia mutakhir seperti film cinta-cintaan, horror ataupun film saduran seperti yang dikatakan oleh Ardiansyah tersebut. Namun apa benar semua film Indonesia masuk ke dalam kategori film murahan tersebut?

Jika kita lihat secara umum, perfilman Indonesia memang mengalami sebuah dekadensi. Film-film horror , cinta-cintaan dan komedi vulgar membuktikan itu. Namun jika kita mengamati secara detail, masih terdapat banyak film Indonesia yang jauh dari kesan dangkal tersebut. Lihat saja film Kala yang disutradarai oleh Joko Anwar. Film historikal ini mengandung banyak pesan yang dalam tentang keserakahan manusia terhadap keberadaan harta karun yang mengakibatkan terjadinya banyak perselisihan. Atau garapan Deddy Mizwar yang memukau penonton dengan Naga Bonarnya. Belum lagi Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi yang sebentar lagi dirilis. Lalu bagaimana dengan film Indonesia selebihnya?

Membongkar Makna: Menemukan Kehebatan Suatu Karya

Setiap karya seni memiliki dua aspek yang sangat fundamental, yaitu meaning and message (makna dan pesan). Setiap karya seni (termasuk film) akan terlihat bagus atau murahan dari kedua elemen ini. Jika sebuah film memiliki makna dan pesan yang kontemplatif, barangkali kita dapat menilai apakah karya tersebut berkelas atau murahan. Contohnya film Ekskul yang sempat menjadi kontroversi karena beberapa sineas menganggap film ini tidak dapat disebut sebuah film yang baik dan mendapat penghargaan. Namun film tersebut tetap menyabet beberapa penghargaan film ternama karena memiliki pesan dan makna yang dalam.

Kemudian di awal tahun 2008 muncul sebuah film berkategori remaja yang berjudul Radith dan Jani. Jika kita menonton film ini selintas saja, yang akan kita dapati hanya percintaan dua remaja yang dibubuhi asam-manis percintaan dan sedikit gambaran kehidupan orang-orang urban. Tapi jika makna film ini dibongkar, kita akan mendapati sebuah pemahaman lain. Paling tidak kita akan memahami bagaimana perjuangan dua pasang anak muda yang mencoba bertahan hidup di antara orang-orang yang tidak menyukai keberadaannya. Bahkan kita dapat melihat betapa anak muda mempunyai caranya sendiri untuk diakui eksistensinya sebagai manusia.

Demikian juga dengan film Nagabonar pertama ataupun ke-dua. Semua orang tentu tahu betapa film ini sangat bermakna. Lalu bagaimana dengan film vulgar ataupun film horror yang dikatakan oleh Ardiansyah sebagai film yang tidak mempunyai tujuan yang jelas? Barangkali kita sebagai penonton yang berhak sepenuhnya menilai suatu karya secara subjektif maupun secara objektif belum melakukan pembongkaran makna yang ada pada setiap film yang kita duga sebagai film yang tidak bermutu tersebut. Setiap karya seni, terlepas apakah karya tersebut mengikuti tren yang sedang marak saat ini ataupun saduran tentu menjual sesuatu yang dapat kita ambil sebagai nilai-nilai yang baik jika kita mampu membongkar maknanya dari sisi lain. Misalkan saja film Kuntil Anak, Jelangkung atau Pocong yang diduga hanya menjual ketakutan dan mitos-mitos saja. Jika kita melihatnya dari kacamata yang lain, paling tidak kita akan mendapat sebuah kesimpulan atau pemahaman bahwa ternyata masyarakat Indonesia masih memegang teguh kepercayaan pada hal-hal berbau mistik dan metafisik. Lebih lanjut, film-film tersebut dapat memancing pola pikir yang kritis apakah kita memang perlu percaya pada hal-hal yang berbau mistik tersebut.

Dengan membongkar makna yang tersirat dalam sebuah film barangkali kita akan dapat dengan jeli memahami apa sebenarnya yang ada di balik semua plot, karakterisasi, setting dan konflik dalam sebuah film. Membongkar makna ini terlebih dahulu kita harus menyingkirkan pendapat yang skeptis apakah film tersebut bangus atau buruk. Bila kita mampu membongkarnya secara dekonstruktif, tentu penilaian kita tentang sebuah film tidak hanya berdasarkan bagus atau buruknya saja, melainkan apakah hal positif dari fil tersebut baik bersifat personal, sosial, kultural maupun religius. Barangkali sebuah film garapan Riri Riza yang berjudul Tiga Hari untuk Selamanya dapat menjawab semua itu. Jika kita menonton film ini dengan latar belakang pengetahuan dan pola pikir kritis yang minim, maka film ini tak lebih dari sebuah film yang menampilkan gaya hidup orang kota yang serba glamour, abnormal, dan tidak mendidik. Namun jika background of knowledge kita dapat menjangkau pesan sebenarnya yang dimaksud oleh sutradara tentu kita akan berpendapat lain tentang film ini.

Menilai suatu karya seni seperti film memang membutuhkan daya pikir kritis agar kita tidak terjebak dengan pola pikir skeptis yang akan dengan cepat menjudge suatu film sebagai karya tidak bermutu dan murahan. Untuk menilai film tersebut kita tentu tidak hanya membutuhkan penilaian berdasarkan selera yang dapat menjebak kita kepada penilaian yang cenderung dangkal karena kita hanya menilai sesuai selera kita sebagai penonton. Jika kita memiliki semua elemen ini tentu kita tidak lagi mempermasalahkan sebuah film berdasarkan cerita atau apakah film itu saduran atau tidak, karena tugas kita sebagai penonton adalah mengapresiasi dalam artian mengevaluasi sebuah karya secara dekonstruktif agar kita dapat menilai sebuah film itu ‘murahan’ atau tidak. Lalu jika kemampuan membongkar makna itu dimiliki oleh semua penonton film Indonesia apakah semua akan berpendapat bahwa film Indonesia adalah film murahan?

Dimuat di Singgalang Minggu November 2008





DUA BALADA TENTANG ALAMAT

12 02 2009

1) surat yang amat panjang

sepeninggalmu, aku tanggung hari-hari sebagai kutukan

yang selalu kupampang pada kalender yang tak satu pun dapat kulingkari

sebagai janji maupun penanggal sepi.

maka tak ada lagi kerjaku selain menulis surat yang amat panjang

aku kira angin yang seperti mulut para pengahasut itu,

menyihir hujan jadi kabar gembira

dan alamatmu tergantung dalam geraiannya

tetapi seluruh jendela sudah kurapatkan

hingga sepeninggalmu, hari-hari pun telah merupa kurungan

kirimkan jugalah alamatmu sebelum senja

agar kau tahu, surat yang panjang ini

berisikan namamu saja

2) kartu nama

lalu pada pertemuan yang saling tak bertatapan

kita sama bertukar kartu nama seperti menukar kenangan

ku ingat lagi balada itu:

“dalam lelap kita saling menatap, dalam jarak kita saling mendekap.”

tetapi sungguh di kartu namamu tak ada alamat

seperti yang pernah tersurat pada tangis yang pekat

sebelum dulu kau berangkat

hingga walaupun kemudian,

sesorang dari seberang membawa lembaran

doa tetua dan sepasang nama

yang di baliknya tertera sebuah peta,

aku anggap kesedihan telah tiba pada tempatnya

lalu akan aku ingat lagi balada itu:

“dalam lelap kita saling menatap

dalam jarak kita saling mendekap.”

2008





LA-SURVIE ; pada yang bersyair

12 02 2009

ARUNG:

bila hidup menuju laut, siapa dari kita yang sebenar pelaut?

karena dalam syair kita merupa air yang mengalir

dari lingkaran hujan menuju pantai yang anyir.

tetapi sungai selalu berkembara

dan kita tak pernah berkecimpung di alir yang sama

dan betapa kata-kata telah dulu berangkat

sebelum sungai memuai, sampan karam, dan ombak merapat

TEMPURUNG:

waktu sebatas bayang-bayang, lapang sebatas ruang

lalu kita adalah pelaut di air yang menyusut, segenap puisi bertepian maut

serupa tempurung yang terhuyung di negeri gelombang

serupa pelaut yang sungsang

serupa kata yang membatu

serupa puisi yang selalu abu?

lalu bila puisi adalah laut, siapa yang sebenar pelaut?

yang pandai menipu badai

yang lihai membaca tikai

2008








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.