15 05 2011

undefinedread more…





Beberapa Kalimat tentang Pelukan

12 01 2011

1

Ia dan kekasihnya ingin menciptakan sebuah pelukan yang mampu menjadi pohon. Yang kemudian berberai sebagai molekul-molekul kecil yang menciptakan pelukan-pelukan lain di tubuh yang lain

 

2

Pelukan bukan serupa pakaian. Ia sering lupa pada hal itu. Untuk mengingatkan itulah, kekasihnya selalu memeluknya dan membuktikan bahwa pelukan jauh lebih hangat dari sekedar pakaian.

 

3

Kelak, jika benar pelukan itu akan menjadi pohon, ia ingin memanjat pohon itu bersama kekasihnya. Mereka akan menyaksikan kota dari atas sana.

 

4.

Pelukan, berapapun ukuran tangan si pemeluk, dan betapapun ukuran tubuh, selalu bisa muat dan nyaman. Pelukan selalu muat di tubuh mereka. Padahal mereka telah terlalu tua untuk sekedar mengira-ngira.

 

5.

Ia selalu berdongeng tentang pelukan yang selalu utuh kepada cucunya. Ia berharap suatu ketika, cucunya yang pendiam dan penakut, bisa memberikan pelukan yang sangat berani dan takluk.

 

6.

Setiap kali bangun pagi, ia selalu menemui cermin di sudut kamarnya. Ia bertanya kepada seseorang di dalam kaca: “Sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?”  iya ingat penyair bernama: M Aan Mansyur.

 

7.

Saat hujan jatuh, tubuhnya yang kesepian selalu memimpikah hujan pelukan. Tapi kadang ia sadar bahwa ia hanya seorang yang selalu suka berlebihan.

 

8.

Sejak kehilangan pelukan, ia memutuskan untuk mencari pelukan di tiap-tiap tubuh orang yang ia jumpai. Tapi tak satu pun pelukan yang sama seperti yang ia cari. Jika kau temui ia di jalanan, peluklah ia walaupun ia tampak tak terlalu bahagia.

 

9.

Ketika ia berpergian, ia selalu mencemaskan keselamatannya agar pelukan yang ia rawat di tubuhnya selalu terjaga.

 

10.

Tubuhnya dewasa oleh pelukan yang datang dari berbagai macam orang. Setelah ia tua, ia memeluk anak dan cucunya, agar mereka bisa pula dewasa sebagaimana mestinya.

 

11.

Nuklir bukanlah cara yang selalu tepat untuk menyelesaikan perang. Saya mengusulkan satu senjata baru: pelukan. Meskipun setelahnya PBB bisa mengklaim “Pelukan” sebagai alat perang, tidak masalah.

 

12.

Pelukan, walaupun ia asing bagimu. Tapi ia selalu berusaha untuk tidak asing bagimu. Setiap waktu ia berupaya mengenali tubuhmu dan dirimu.

 

13.

Semenjak ia memeluk seseorang di stasiun itu, ia ingat sesuatu. Ia ingat pelukan akan selalu mengingat mereka berdua. Maka setelah bertahun-tahun semenjak peristiwa itu, mereka kembali berpelukan di stasiun untuk memintal kembali kenangan yang rekamannya terlalu panjang.

 

14.

Pelukan selalu terjadi di bandara, stasiun, halte dan dermaga. Pelukan adalah kepergian, juga kedatangan.

 

15.

Di lain waktu, pelukan bisa menjelma bagian dari jarak. Ketika kau sedang menelfon seseorang yang jauh darimu, sebenarnya engkau sedang memeluknya. Betapa hangat!

 

16.

Mereka yang mampu menciptakan pelukan setiap hari, akan berjalan dengan tubuh yang berat. Ia merangkul begitu banyak pelukan. Tapi ia tahu bahwa ia bahagia.

 

17.

Kau mungkin tak bisa memiliki sepasang sayap seperti burung atau ayam untuk mengesankan kau adalah seorang malaikat, tapi kau memiliki pelukan yang senantiasa mengingatkan kau adalah manusia biasa yang selalu butuh seseorang untuk menciptakan serangkul pelukan. Misalnya orang itu aku?

 

18.

Kata peramal tua itu: “Suatu hari hidupmu akan berakhir pada sebuah pelukan. Seperti halnya kau lahir. Aku tidak bisa memberi tahu, di pelukan manakah kematianmu akan berlangsung.”

 

19.

Ketika lahir, semua manusia lahir dengan tubuh yang gamang. Untuk itulah ia menjalani hidup. Dari pelukan demi pelukan agar ia bisa berjalan seimbang dan kuat. Ketika menikah, ia menemukan pelukan yang setia menguatkan tubuhnya sampai kematian datang memeluk.

 

20.

Kapankah terakhir kali pelukan hinggap dan hidup di rangkulanmu?

 





Sonnet untuk Menjadi Tua (Beserta balasannya)

6 12 2010

ketika usia menempati kita terlalu lama,

kau dan aku akan berangsur-angsur pandai melupa.

semua jalan itu akan asing jika dilalui sendiri maupun berdua

dan kita mulai kehilangan suara-suara

apalagi debar dada,

detaknya akan semakin tak terasa

 

tanganku akan lupa cara merangkulmu

tubuhku akan bertanya-tanya tentang pelukanmu

dan aku pun tak bisa memastikan, apakah aku akan masih bisa

menjangkau buah apel yang tergantung di pucuk pohon tinggi itu

untuk melepas dahagamu

oh, ular-ular yang mendesis itu barangkali mau bersabar

kuharap ia tak terlalu mengejar kita dengan desakan

“petiklah wahai adam! petiklah untuk itu perempuan!”

 

tapi gemetar yang bersarang di tanganku tak akan mampu memetiknya

mungkin kita akan menunggunya jatuh sambil bercerita

tentang masa lalu yang tak sepenuhnya kita lupa

ketika itu, maukah kau bersabar dan berpura-pura bahwa dunia yang menyebalkan ini

adalah surga yang berhasil kita kuasai, hawa?

 

Seorang teman saya, bernama Suzia Levina, juga suka menulis puisi. Ia membalas puisi yang saya tulis di atas dengan judul Balasan Sonnet untuk Menjadi Tua. Seru sekali. Selamat membaca, kawan-kawan.

 

 

Balasan Sonnet untuk Menjadi Tua


ketika usia menempati kita terlalu lama,

kau dan aku akan sering bertengkar perkara lupa.

aku mulai sering menghitung kerut kerut manis dahimu

dan kaupun mengelengkan kepala setiap melihat uban lebatku.

 

ntah kenapa tanganku seakan cepat sekali mengerut

ketika hendak menjaukau pundak ringkihmu.

dan aku pun sering menghayal akan peluk hangat mu.

bahkan sering cemas tak dapat takarkan gula pada kopimu,

 

dan ketika rabun mata menjadi penghalang rupamu

dan sesak napas penyekat kata sayang ku

maka satu hal saja yang kau perlu tau

yang ku minta hanya apel merah

yang berdenyut di dada kirimu.

penawar segala dahaga di dunia

yang sering aku umpat ini, wahai adam.

 

>>oleh Suzia Levina.

Padang, 2010





Kejadian Puisi

30 11 2010


KEJADIAN PUISI (I)

ia seringkali menyamakan hati seseorang sebagai sebuah sumur.
sumur yang digali entah sesiapa —yang serupa kubur—
di malam hari ketika orang-orang melesap ke dalam dengkur
ada bunyi dan gerak-gerik yang jalin-menjalin namun kabur

di hadapan sumur itu ia diberkati sebuah batu kapur
tanpa ingin menulis aksara yang membaur
ia jatuhkan itu batu kepada kedalaman itu sumur
untuk tahu betapa dalam hati yang bisa diukur
berapa tali kah jarak bisa diulur

bila jatuhan batu tak kunjung dengungkan sebuah bunyi,
sungguh ada jarak yang harus dipahami
di antara sunyi sepanjang jatuhan batu ke dalam hati
sungguh disana ada kejadian puisi

KEJADIAN PUISI (II)

ia membuat sebuah tarian.
ia biarkan dari ujung rambutnya yang tajam
hingga ujung jari kakinya, beralunan,
seperti sedang dirajam.
seperti sedang bepergian,
namun tak membawa badan

ia pergi, namun tak berlari atau berjalan
tapi ada burung-burung yang berlepasan
membentuk keasingan lingkaran

ia menari, namun bukan koreografi.
“ada yang seperti majnun yang ditenun oleh diri sendiri”
ia pergi, namun tak berjalan atau bahkan berlari
ia membubung, tapi menginjak bumi
seperti ada burung-burung; membentuk lingkaran puisi
yang mengajaknya bepergian, membubung tinggi
namun tidak terbang
namun tidak berjalan
namun tidak ah….

KEJADIAN PUISI (III)

semenjak memasukiku, kau memutuskan untuk menjadi dalang
yang mengajarkan tubuhku untuk membedakan mana pergi mana pulang
yang membukakan langkahku untuk paham mana jalan mana lobang
lalu kau kuasai mataku atas seluruh pemandangan

kemudian telingaku yang digemari kebisingan
lidah dan hidungku yang seringkali tak sepaham
serta seluruh badanku yang awam dengan pengertian;
apakah itu gerakan?

air tak pernah ingin menjadi cangkir
kecuali saling menukar takdir
tapi engkau, engkau merupa air yang mengalir
sebagai pemilik seluruh takdir
engkau adalah ibarat atas seluruh yang lahir

dan semenjak memasukiku, engkau langsung menjadi dalang
aku berjalan seperti langkahmu, berucap seperti lidahmu,
mendengarkan seluruh suaramu, mencium aroma darimu

tapi meskipun engkau ada di dalam aku,
tak pernah bisa aku memataimu dengan mataku,
melidahkanmu dengan lidahku, menghidungkanmu
dengan dua lobang hidungku, menelingakan suaramu dengan suaraku.
seluruh pulang dan pergi adalah engkau
yang dekat tapi tak sampai aku jangkau.

Dimuat di Riau Pos, 28/11/10

Arif Rizki, mahasiswa tingkat akhir Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (UNP). Menulis sajak, cerpen, dan esai di berbagai media dan di bukukan dalam beberapa buku antologi. Diundang ke Ubud Writers & Readers Fesitval (UWRF) 2010. Bergiat di Komunitas Sastra Ruang Sempit dan Teater Noktah. Tinggal di Padang.





SEPANJANG JALAN PADANG

24 11 2010

SEPANJANG JALAN PADANG

1.

perjalanan kita hanyalah pelintasan jembatan, pendakian gunung Padang, pantai demi pantai

dan restoran murahan. tapi apa yang membuanya tiba-tiba menjelma kenangan?

aku pernah mengatakan padamu, terbentuk dari apakah kenangan itu.

saat itu sebenarnya aku sedang bertanya dari apakah kenangan itu terbentuk menurutmu.

“mungkin awal mulanya dari pandangan mata kita?”

tapi benarkah mata kita benar-benar pernah bertemu lama?

kau tahu, kenangan tak memberi apa-apa selain ingatan.

sialnya, jalan,jembatan, simpang, restoran dan baliho di kota Padang adalah bagian dari kenangan kita.

aku terpaksa harus mengingatmu tanpa jeda.

 

2.

ya, perjalanan kita hanyalah pantai demi pantai. tapi apakah yang membuat pantai kumuh itu menjelma begitu landai?ombak hanyalah air yang menggulung, langit hanyalah hamparan awan yang murung,

“karena kulihat sesuatu dari matamu, sesuatu yang langit, sesuatu yang laut, sesuatu yang begitu ingin mengajakku untuk tertimbun.sesuatu yang engkau!”

dan aih, ombak ternyata adalah penyair yang suka bergurau. ia berkali-kali menghempaskan debur kecilnya pada percakapan kita, pada wajahmu, pada keterpesonaanku pada matamu, pada rambutmu, pada seluruhmu.

pada seluruhmu.

ombak yang menyentuh wajahmu itu hanyalah air asin.  tapi ia jatuh ke dalam diriku sebagai sesuatu yang lain.

sebagai suatu getar yang entah hangat entah dingin.

saat itu, debur ombak dan debar dada tiba-tiba tak ada bedanya, perempuan. tak ada bedanya.

 

3.

aku mungkin akan mempuisikanmu pada setiap puisiku. menyajakkanmu pada sajakku. mendirikanmu kepada diriku. melihat engkau pada ombak, mengandai engkau pada pantai, mengungkit engkau pada langit. mengangan engkau sepanjang jalan. dan menyeluruhkan engkau pada setiap bagian-bagian kecil dari keseluruhan.

ya, perjalanan kita hanyalah pantai demi pantai, jembatan demi jembatan, terkadang restoran murahan.

kini, aku akan membiarkan engkau tertinggal disana. seperti kutinggalkan laut yang tetap mendeburkan, langit yang membirukan, batu karang yang menahan, jembatan yang mempertemukan dan memutuskan.

selebihnya kubiarkan seluruhnya kembali seperti permulaan, seolah tak pernah ada jembatan yang mempertemukan. seolah tak ada Gunung Padang, seolah tak ada jalan ke pantai Bungus yang penuh lobang, seolah tak ada sajak-sajak yang berlebihan tentang kita yang berlainan.

segalanya akan kembali memulangkan diri. selebihnya akan terperam diam-diam di dalam hati

karena lampu-lampu di sepanjang jembatan, lobang di sepanjang aspal jalan Padang atau pun menu-menu di restoran murahan, akan selalu ada di sana.

yang sudah lama meminta kita untuk saling membiarkan saja.

 

 

Padang, 2010





KENANGA

13 11 2010

KENANGA

disini, di tampuk bunga yang patah dan kering

pernah tumbuh sekuntum kenanga kuning

kau memetiknya saat aku berusaha menahan kepergianmu

yang menolak membawa serta rindu.

 

engkau mencium kenanga untuk siapa?

 

aku mencium sisa tampuk yang patah

dan mencari-cari siapakah yang salah;

waktu ataukah hatiku lah yang mudah goyah

saat angin ribut membawakan kita sebuah degup

yang ternyata menumbuhkan sebuah kuncup

 

engkau mencium kenanga untuk siapa?

 

aku urung memagut kepergianmu

yang menolak membawa serta rindu

kini di tampuk bunga yang layu ini

tak ada yang akan sedia tumbuh lagi

 

tapi ada yang selalu tumbuh meski berkali-kali kurenggutkan

bukan kenanga, sayang. bukan.

hanyalah beberapa  patah kenangan.

 

 

Padang, 2010

 





PADA SUATU SIANG KETIKA MATAHARI DENGAN SEMANGAT-SEMANGATNYA MELAKUKAN TUGAS UNTUK MEMANAS-MANASI BUMI, KITA RASAKAN ADA YANG TIBA-TIBA MENUSUK JANTUNG HATI

5 11 2010


Aku tak tahu apa mau bocah kecil itu sebenarnya, ia bukanlah burung atau bayi. Yang jelas ia memiliki sayap. Di tangannya sebuah mainan yang berbahaya; busur panah lengkap dengan beberapa pucuk anaknya.

Kita tak menghiraukannya. Sama seperti kita tak menghiraukan pertemuan-pertemuan yang tak terencana.

Tapi ada yang tiba-tiba membuat suasana menjadi sepi saja. Padahal hiruk pikuk sedang membisingkan telinga kota.

Ya, ada dua anak panah yang berlepasan.

Satu menancap di dadaku, satu lagi merasuk ke dalam jantung hatimu.

Kita tiba-tiba mengerti apa arti bertemu.

Dengan dada yang tertancap anak panah, kita menguasai kota dan melengkapi hiruk pikuknya. Bocah kecil bersayap itu tak lagi di tempatnya.

Maka bagaimana kalau kita bergantian mencabuti anak panah yang menusuk itu. aku mencabutmu, engkau mencabutku.

Jangan bergesa-gesa. Aku ingin ia tertancap lebih lama sebenarnya. agar kita punya alasan yang sakit untuk tetap selalu menjaga.

2010





JEMBATAN

24 10 2010

JEMBATAN

by Arif Rizki on Friday, 22 October 2010 at 15:44


 

ucap seorang penyair, terlalu banyak jembatan di kota ini

dan aku menyadarinya saat aku bertemu engkau di sini

di Jembatan Siti Nurbaya

entah pisang bakar keju itu yang menimbulkan rasa manis

atau sesuatu yang tak pernah ingin kita gubris

 

ya, terlalu banyak jembatan di kota ini

biarkan aku menambah satu bangunan lagi

untuk menuju engkau

agar engkau sampai aku jangkau

 

kau tahu, seperti ada kapal yang sulit menyebrang

seperti ada sesuatu yang sangat mengambang

seperti tiba-tiba aku ingin menjadi anak kapal yang mencari labuhan

dan laut ini kepada engkaulah aku dihantarkan

maukah kau menerima talinya?

 

serta membiarkan muaramu terluka oleh jangkarku yang tajam

menusukmu dengan perhentian yang teramat tanam

 

untuk itulah aku membangun sebuah jembatan

agar ada yang bisa senantiasa dihantarkan

agar ada yang senantiasa bertautan

mungkin akan tiba suatu masa

dimana jembatan tak lagi mempertemukan kita

seperti Jembatan Siti Nurbaya yang mempertemukan—namun juga memisahkan

 

mungkin esok aku akan meruntuhkan bangunan jembatan menuju engkau

dan menyisakan diri kita yang memandang dari kejauhan

sambil menduga-duga

air mata siapakah yang akan tumpah duluan.

 

 

 





DI SOLARIA

22 10 2010

DI SOLARIA

Di Solaria aku menduga-duga pandangan matamu.

Mencari cara agar aku bisa menangkap satu puisi atau bahkan seribu

Engkau bertanya, seperti apakah aku memandangmu?

Aku mengaduk isi cangkirku lebih lama

Untuk menandakan bahwa aku menyukai senyummu yang tertata

Adakah kau menangkapnya?

Aku menyukai semua pesan-pesan pendek yang terjadi di antara kita

Pesan yang membuat hari singkat menjadi jauh lebih panjang

Pesan yang membuat kita berusaha mencari bahan pembicaraan

Untuk sekedar sebentar bertemu mata

Lalu terdiam dan tersenyum di dalam dada

Di Solaria, mungkin kita sedang terjebak permainan sederhana

Permainan yang menyerupai sebuah kencan pertama

Adakah di antara kita sebuah maksud tentang permainan berikutnya?

Atau untuk sekedar membuat permainan sederhana ini sedikit lebih lama?

Di Solaria, di Solaria

Ada yang diam-diam bergelut di dalam dada





Puisi Toilet

2 10 2010

Puisi Toilet
Cerpen oleh Arif Rizki

Ketika cerita ini sampai kepada ibu, semoga ibu dalam keadaan sehat-sehat saja. Saya juga dalam keadaan sehat walafiat. Tapi tidak dengan pikiran saya, maka dari itulah saya memutuskan untuk mengirimi ibu surat ini. Saya tidak tahu lagi harus bercerita kepada siapa. Dari dulu saya terbiasa memendam setiap permasalahan yang datang kepada saya maupun terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya. Tapi kini saya sudah tidak sanggup lagi, bu.
Jujur saya katakan saya baru mengenal ibu. setelah beberapa kali membaca semua nasehat ibu kepada orang-orang yang juga bermasalah dalam hidupnya, membuat saya merasa ibu adalah orang yang tepat untuk memberi saya jalan keluar masalah ini.
Langsung saja ya, bu. Jadi ceritanya begini. Saya adalah seorang istri dari seorang lelaki yang telah menikahi saya selama delapan tahun sembilan bulan lima hari. Kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang lucu sekali. Mirip sekali dengan bapaknya. Kini usianya sudah lima tahun empat bulan. Sebentar lagi akan saya daftarkan ke sekolah.
Saya mengenal suami sekitar sembilan puluh hari sebelum kami menikah. Kami sebenarnya tidak sengaja saling berkenalan. Ketika itu saya sedang bekerja sebagai penyanyi Organ Tunggal yang selalu diundang setiap kali ada perkawinan, acara tujuh-belasan dan acara-acara masyrakat di kampung kami. Malam itu, seingat saya, saya sedang mengisi acara di sebuah pasar malam. Jufri diam-diam memperhatikan saya dari bawah panggung. Ia tidak ikut berjoget dengan orang-orang yang seperti kepayang itu. Sambil mengajak orang-orang untuk naik ke atas panggung, saya sempat menyadari bahwa ia tampak berbeda. Ia sepertinya tidak menikmati pertunjukan saya. Padahal saya yakin lelaki lain sudah terbakar dengan baju kulit palsu berwarna merah darah dan goyangan saya (orang kampung menamai goyangan saya dengan goyangan blender).
Saya yakin ada bola api di kedua bola matanya, bu. Tapi ia tidak mau mengikuti hasutan hatinya untuk ikut melayani hentakan musik dan lagu-lagu yang saya nyanyikan. Ia hanya diam di balik kumis tipisnya itu.
Tapi ketika saya pulang ke rumah seusai pasar malam menjadi lengang, ia ternyata mengikuti saya. Saya kaget ketika tiba-tiba ia muncul di hadapan saya di malam yang sangat sepi itu. di bagian manapun di kampung saya, ketika malam hari, tak bisa dibedakan dengan kuburan. Banyak orang-orang kesepian yang akhirnya menderita sampai kematian mereka tiba disini.


Ia memandang mata saya lekat-lekat. Ia tidak tahu betapa saya sangat ketakutan walaupun diam-diam saya akui dia cukup lumayan. Setidaknya, dia akan membuat para penyanyi kampung lainnya cemburu bila lelaki itu saya ajak jalan-jalan ke kota.
“Suaramu bagus sekali.” Ucapnya seperti seorang pengamat seni.
“Ah, biasa saja. Suaraku pas-pasan kok. Seperti bayarannya.”
“Aku sebenarnya ingin bergoyang, tapi dengan begitu akan tidak bisa dengan seksama meresapi alunan suaramu. Lagipula semua lagu yang kaunyanyikan itu adalah lagu kesukaanku.”
“Namaku Steven.” Ucapnya mengenalkan nama bahkan tanpa aku tanya. Nama itu cocok sekali untuknya. Barangkali dia memang bukan orang kampung sini.
“Aku Sintana.” Ujarku memalsukan nama. Aku harus sedikit menjaga kualitasku. Memberikan nama palsu aku rasa bukanlah sebuah dosa. Jika pun itu sebuah dosa, barangkali itu bukanlah dosa yang terlalu berat.
Malam itu kami tidak hanya berkenalan, bu. Ia langsung mengajak saya berkencan. Entah apa yang sedang saya pikirkan. Mungkin karena bulan bersinar terlalu terang. Saya jadi mudah tergoda. Lagi pula seumur hidup saya belum pernah menginap di hotel. Mungkin saja ini adalah tawaran yang bagus.
Sepertinya saya salah. Di matanya bukanlah bola api, tetapi bulan purnama yang menjadi ganda. Ketika kami bercinta saya lihat tidak ada bulan itu di luar jendela. Malam itu saya putuskan untuk jatuh cinta saja kepadanya, bu.
Ketika pagi hari membangunkan kami, saya lihat ia masih berada di samping saya. Saya pastikan sepasang sepatu saya masih ada di bawah ranjang. Pagi itu saya lelah sekali. Ternyata jatuh cinta cukup melelahkan saya.
Ketika Steven mengantar saya ke rumah kontrakan saya yang mirip kulkas itu—hanya memiliki satu pintu dan satu daun jendela dan kalau malam dingin sekali, ia mengatakan sesuatu kepada saya. Ternyata namanya bukanlah Steven. Namanya yang sebenarnya adalah Jufri. Ia memohon saya tidak kecewa dengan namanya. Sesungguhnya saya sedikit kecewa. Seperti yang sering ibu bilang bahwa setiap hubungan tidak akan berhasil jika diawali dengan kebohongan, mengingatkan saya bahwa ini tidak akan berakhir baik. Akan tetapi saya juga tidak kuasa menyembunyikan rahasia. Saya utarakan juga sebuah rahasia, bahwa nama saya sebenarnya adalah Nurlili, bukan Sintana. Ia tertawa, dan kami cukup bahagia pagi itu sehingga kami tidak perlu sarapan pagi. Ketika itu saya ingat lagi kata-kata, ibu. Akan tetapi jika sebuah hubungan diawali dengan kebongan dari kedua belah pihak, saya rasa itu cukup adil kan? Tidak ada yang dirugikan. Dan itu mungkin saja akan berakir cukup baik.
Hari itu juga Jufri berjanji untuk tidak akan meninggalkan saya, bu. Kalimat ini sudah saya dengar berkali-kali dari banyak lelaki dan telivisi. Tetapi ketika Jufri yang mengatakan itu, ini terasa sangat lain. Tiba-tiba saya merasa bahwa ia bersungguh-sungguh.
Dugaan saya benar. Empat puluh hari setelah peristiwa kecil di pagi hari itu, ia mendatangi saya untuk mengajak menempuh hidup yang sebenarnya. Katanya pernikahan itu adalah ide yang paling bagus. Makanya tuhan menciptakan pernikahan dalam skenario hidup manusia. Ketika saya menikah dengannya, saya hanya mengetahui dua hal saja. Pertama, namanya adalah Jufri Tanjung. Ia tidak suka dengan nama akhirnya, sebab banyak yang mengolok-olok dengan memanggil dirinya dengan sebutan ’Jufri Tanjakan’. Ini tidak pernah lucu bagi saya. Sebab ia kadangkala memang seperti sebuah tanjakan. Tidak mudah untuk mendaki perasaannya. Kedua, saya sangat mencintainya. Kedua hal ini menjadi modal yang cukup bagi saya untuk menerima niat tulusnya. Keseluruhan sifatnya bisa saya wawancarai dan kenali sepanjang usia pernikahan kami yang semoga benar-benar panjang. Mengenali adalah tujuan utama pernikahan, bagi saya.
Ternyata ada hal yang luput bagi saya, bu. Gagasan saya tentang ‘mengenali adalah tujuan utama pernikahan’ seringkali membuat saya terjebak. Menikahinya selama delapan tahun sembilan bulan lima hari ternyata membuat saya tidak kunjung mengenalinya. Banyak hal-hal sepele yang akhirnya menjadi bahan pertengkaran kami sepanjang malam, bahkan berminggu-minggu. Itu hal yang biasa kan, bu? Saya juga menyadari itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Namun kadang saya tidak bisa menahan diri melihat ulahnya. Sehari-hari Jufri bekerja sebagai seorang pengangguran yang merasa kreatif. Setiap hari ia mematuti mesin ketik tuanya di kamar utama rumah kontrakan kami. Ia bekerja sebagai penulis yang tidak jelas kapan menerima gaji. Jufri adalah seorang penyair, bu. Ia menulis puisi untuk dijadikan buku dan diterbitkan di koran serta majalah. Uang yang dihasilkan seperti musim. Kadang bagus kadang tidak. Dan lebih sering tidak. Saya kadang bisa memahami hal ini kadang juga tidak bisa. Dan lebih sering tidak bisa.
Puncak masalah terjadi pada suatu hari ketika saya memperbaiki toilet kami yang sudah beberapa hari tersumbat. Untuk membiayai perbaikannya, saya menggunakan uang yang diberikan oleh Jufri. Semua uang penghasilannnya memang diberikan kepada saya dan sayalah yang mengendalikannya. Biasanya, kemanapun saya habiskan uang itu, ia menerima saja keputusan saya. Tetapi tidak ketika saya katakan bahwa upah perbaikan toilet itu saya bayar dengan honor penerbitan puisinya bulan lalu. Ia marah-marah seperti anak-anak yang dilarang bermain oleh ibunya.
Ia menghempaskan barang-barang. Gelembung air liur berloncatan dari mulutnya seperti peluru yang membidik tepat di hati saya. Hati saya iba sekali, bu.
Katanya, kalau mau memperbaiki toilet pakailah uang yang lain. Honor puisi itu untuk membeli beras. “Kau samakan saja susahnya membuat puisi dengan memperbaiki toilet di kamar mandi.”
Saya katakan bahwa kalaupun saya gunakan uang yang relatif sedikit itu untuk membeli beras, toh akhirnya akan berakhir di toilet juga kan? Lagi pula uang puisi itu tidak cukup kok untuk membeli sekarung beras.
Ia semakin uring-uringan mendengar alasan saya, bu. Ia menangis di hadapan mesin ketik tuanya semalaman. Bagi saya ia tetap saja mirip seperti anak-anak. Apalagi ketika ia menangis, ia hanya menggunakan kain sarung. Ia tampak seperti seorang anak yang menangis sehabis disunat.
Kini apa yang harus saya lakukan, bu? Ia tidak mau bicara dengan saya. Padahal ia tetap saja memakai toilet itu. Sebentar-sebnetar ia ke kamar mandi. Kini tingkahnya lebih aneh lagi, bu. Ia tidak mau berbicara dengan saya. Bahkan saya sudah meminta maaf berkali-kali. Ia juga sering membawa mesin ketiknya ke dalam kamar mandi. Akibat tingkahnya saya terpaksa menumpang ke rumah tetangga untuk mandi dan buang air.
Saya sangat menyesal sekali, bu. Setiap hari, setiap malam, saya mendengar suara gemertak mesin ketik dari dalam kamar mandi. Saya tidak tahu pasti apa yang sedang ia tuliskan. Mungkin saja ia menulis puisi berjudul Toilet Puisi. Mungkin pula ia memutuskan untuk membenci saya saja. Entahlah. Yang jelas, di dalam hati, saya masih sangat menyayanginya, bu. Bahkan diam-diam saya juga telah membuat puisi untuknya. Mungkin saja inilah cara terbaik untuk berbahasa dengannya. Tetapi bagaimana saya bisa lagi berbicara dengannya? Ia masih di dalam kamar mandi. Dan memang, hatinya sangat tinggi dan sulit untuk didaki.

Padang, 2010








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.