<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
LOGAM
Logam di matamu itu, Binar; samakah dengan seguyur hujan di hari siang?
mereka katakan di tiap belahan dan simpang,
hujan telah merupa logam;
kita harus segera menggenapkan kepergian. sebelum siang sebenar-benar
bohlam yang membuat mata lebih pejam. lebih padam
tapi kepergian apa yang hendak dihikayatkan?
hutan-hutan itu telah besi, lagu ladang telah derit tembaga
dan tiup angin mengepung seumpama janji yang bundar
di lipat almanak yang usang
kita tak segera dewasa dengan jam dinding yang hilir
mudik itu. tapi kita akan menulis epilog sederhana;
tentang hujan yang membuat luka di lidah
atau pohon-pohon yang mentah
dan kau, Binar. jika benar air mata
telah menggenang seumpama logam yang runyam,
dan kepundan dari gunung yang tumbuh dari kediam-diaman kita,
siapkanlah tarian untuk hujan, angin dan hutan
yang telah besi dan telah tembaga itu;
sekedar tanda bahwa kita gagal memanen cinta
Ruangsempit, 2008
GURUN
pasir yang jatuh dari waktu. kuhirup seumpama candu
lalu menjadi gurun dalam diriku
sebagai cawan bagi para pejalan
yang gemetar dengan kepulangan
ada lubuk pula disitu, tempat kau mencuci muka,
berkaca dan meminum tuba usia
“ada musim yang tak singgah, mampirlah untuk berlelah”
dan merendam badan ke dalam badanku:
tempat kita seharusnya bertamu
Ruangsempit, 2008
ULAR DAN APEL
dan kucatat segurat kalimat di belah dadamu;
sesuatu telah berguncang melebihi tipuan ular dan apel
yang membuat langit lebih kerap hitam dan tebal
pertemuan di pangkal itu menyisakan sebidang taman
yang lalu kita tanami pohon yang berakar dari ciuman.
hingga ketika aku menghirup waktu dari tubuhmu, ada urat
yang tumbuh di badan kita. (ada ular dan apel disana)
kita sekiranya terlalu bertanam
hingga mata kita rimbun untuk bertatapan
maka barangkali kita perlu membakar ladang ini
kemudian tidur tanpa gusar hujan
walaupun terbangun dengan gigi
yang dipenuhi ampas khuldi
Ruangsempit, 2008
MANEKIN
Manekin O Manekin
aku mencintai nafas yang bukan hidungmu
yang bukan jantungmu
yang bukan paru-parumu
Manekin O Manekin
aku mencintai gerak yang bukan tanganmu
yang bukan kaki-kakimu
yang bukan badanmu
sebab kau lebih nafas
lebih hidung
lebih jantung
lebih paru-paru
dan kau sangat tangan
sangat kaki
sangat badan
hingga aku mati dalam penciptaan
Ruangsempit, 2008
TIGA CAMBUNG
awalnya ialah hujan. hujan yang menjatuhkan semua peristiwa
yang dicatat sungai, laut, hutan bakau, danau buaya, genangan rawa
dan juga air matamu
awalnya ialah hujan. hujan yang merupa selingkar air yang tak kita temui
dimanakah ia berpangkal. tapi kita tahu ia berujung di tiga cambung.
cambung yang menampung semua ingatanmu pada pokok rindu.
benarkah kata seseorang bahwa segala laku adalah rindu?
“rindu dalam diri. rindu dalam tiga cambung.”
cambung bercorak hitam, tempat rindu seburuk musim batu,
sebusuk rindu yang merupa candu
abu-abu! tempat bertanam bunga. tempat memeram
segala bentuk cinta.
namun cinta ialah penjelasan yang tak hendak kita dengar
dari dunia. karena awalnya adalah hujan. dan kita tak selalu
ingin bermandian ke dalamnya. “kita perlu banyak cambung putih”
untuk menghujani cinta yang kerontang.
“tapi kita membakar semuanya”
dengan musim bara yang cukup sederhana
dan kita harus menangis untuk memadamkan
kobar apinya.
Ruangsempit, 2008
Komentar Terakhir